1. Lover in Toilet

677 33 1
                                        

“Sial!”

Pemuda itu mengumpat setengah tertawa. Gadis yang semula mengalungkan kedua lengannya di bahu pemuda itu lantas disergap panik. Ikut mencari tahu apa kiranya yang membuat sang pemuda nampak kesal. Padahal, sebelum ini mereka sama-sama bergairah dan tergesa-gesa layaknya pasangan toilet Squid Game. Tetapi kini pemuda itu nampak sibuk dengan hal lain dan mengabaikan sang gadis seolah ada yang lebih penting dari hasrat mereka saat ini.

“Ada apa, Tae?” Dia bertanya.

“Kondomnya tidak ada,” jawab pemuda itu seraya menggeledah saku celananya yang sudah turun hingga mata kaki.

Saku bajunya juga tidak luput dari pemeriksaan. Biasanya benda itu selalu ia taruh di sana. Seperti sedang sakau, pemuda itu sangat butuh narkotika. Namun, nihil benda yang dicari-cari tak kunjung ditemukan. Raib entah ke mana.
Sang gadis nampak ikut jengkel setelah tahu alasannya. Ia kini ikut berjongkok, mencari alat kontrasepsi yang entah terselip di mana. Sudah separuh yakin kalau benda itu hilang. Alamat gagal bercocok tanam, benih-benih tak berdosa terselamatkan.

“Kau yakin membawanya?” tanya gadis itu.

“Kalau tidak kubawa tidak mungkin kuterima ajakanmu, ‘kan?”

Kekesalan makin jelas di wajah sang gadis yang menjelma jadi ratu kegelapan. Ia memilih duduk di atas kloset dengan harapan yang nyaris musnah dari pada cosplay tidak jelas, meski pantasnya pemuda ini memang diberi pertunjukan sampai trauma. Hanya menunggu aba-aba untuk gadis itu diusir sehingga ia berinisiatif memakai celana dalamnya kembali dan membenahi seragamnya yang koyak. Jangan sampai cupang-cupang di dada atau bahkan bra merah mudanya terekspos lantaran kancing seragamnya belum tertutup semua.

“Jadi bagaimana?” Dia bertanya. Masih berharap kendati gairahnya sudah menguap bersama udara jadi tak berguna.

Pemuda itu berdiri tanpa bawahan dengan percaya diri. Menantang dengan pistolnya yang masih belum menyerah. Kini mendesah lantaran tidak menemukan apa yang ia cari dan jadi frustrasi. “Tidak ada kondom, ya tidak bisa.” Pemuda itu menjawab.

“Kau bisa keluarkan di luar, ‘kan? Di wajahku, bagaimana?” Si gadis yang sejujurnya sudah tidak tahan memberi penawaran. Tidak apa-apa ia korbankan wajah mulusnya asal yang di bawah dapat kepastian. Ditinggal saat enak-enaknya itu sama sekali tidak enak.

“Tidak, tidak. Kita tidak tahu ‘kan penyakit menular macam apa yang bisa kita dapatkan jika kita berhubungan tanpa pengaman?” elak sang jantan. Sudah laknat tetap cari aman.

“Aku sehat, dasar bajingan!” Gadis itu akhirnya mengumpat juga. Cosplay jadi Ratu Merah. Untung kepalanya tak ikut membesar. “Kalaupun ada penyakit menular, itu datangnya pasti darimu. Kau ‘kan seks dengan siapa saja.”

“Berisik, ah. Sini hisap punyaku. Kau sudah dapatkan klimaks dari jariku, jadi sekarang giliranku.”

What the—“

Shit! Mulutmu hangat.”

Untuk sesaat bilik toilet itu hanya dipenuhi suara erangan juga kecapan lidah yang menjijikkan bagi amatiran. Mereka mungkin akan melewatkan jam makan siang.

Taehyung nampak tidak terlalu senang kali ini. Karena saat kesal pelepasannya akan berlangsung sangat lama. Meski tak ada lagi gairah, harus tetap dikeluarkan demi kesehatan. Nayeon juga nyaris melukai kelamin Taehyung dengan gigi-giginya. Jadi pada akhirnya mereka juga berpisah tanpa ada ucapan terima kasih bahkan senyuman. Tak ada basa-basi, tak ada drama. Pengalaman pertama dengan gadis ini amat mengecewakan.

Setelah membiarkan Nayeon pergi meninggalkan toilet lebih dulu, Taehyung menyusul kemudian setelah pastikan ikat pinggangnya terpasang tanpa terbalik dan resletingnya memanjat hingga puncak.
Ini Rabu. Tak ada sayur hari ini. Kalau Taehyung datang terlambat ke kafetaria Tangsuyuk-nya bisa-bisa tinggal kuahnya saja.

Namun, begitu ia membuka pintu bilik toilet, hal yang sama diikuti bilik seberang. Seorang gadis nampak baru membuka pintu hendak melangkah keluar sehingga sesaat keduanya terjebak dalam kebekuan lantaran sama-sama tertangkap basah. Taehyung sebenarnya sudah cukup sering berpapasan dengan seseorang setelah beradegan laknat. Namun, karena kini ia tertangkap basah keluar dari bilik toilet perempuan, ia cukup mati gaya. Bisa hilang pamornya jikalau mulut gadis ini lemes ke mana-mana. Belum lagi tatapan gadis itu cukup berani dan tajam. Roman-romannya selama dia berada di bilik toilet, gadis itu sempat mendengar kegaduhannya dengan Nayeon. Mungkin sayang untuk keluar, atau bisa saja ia ikut menikmatinya dari sana.

Taehyung mengernyitkan dahi. Sadar bahwa wajah gadis ini cukup asing baginya. Nampaknya bukan siswi populer. Yang pasti Taehyung tidak yakin pernah melakukan yang aneh-aneh dengan gadis ini meski itu sebatas genit-genit mata.

“Apa lihat-lihat? Mau juga?” sewot Taehyung akhirnya membuat gadis itu lantas mengabaikannya dan berjalan ke arah pintu keluar lebih dulu tanpa menyahut. Mungkin mual melihat tingkah pemuda yang keluar dari bilik toilet perempuan tapi sok jantan.

Seolah pertemuan mereka tidak ditakdirkan untuk hanya selewat saja, gadis itu rupanya menuju tempat yang sama dengan tujuan Taehyung, yaitu kafetaria. Pelepasan memang menguras tenaga, bukan? Jadi energi yang terbuang harus segera diganti dengan yang baru agar bisa bertempur lagi dengan hebat.

Karena jam makan siang hampir usai, tak banyak lagi murid-murid yang terlihat memenuhi kafetaria. Kursi-kursi telah lengang layaknya pesta yang baru ditinggalkan. Nampaknya hanya teman-teman Taehyung yang betah berlama-lama bahkan enggan pulang. Berharap mendapat tambahan jatah makan siang meski jika lauknya tinggal kuahnya saja.

Mereka nampak masih dalam formasi lengkap di meja paling tengah. Namjoon si ketua kelas yang lurus dan bijaksana, Hoseok yang cuma pelawak modal tertawa layaknya kuda, Jimin yang bantat tapi seksi, juga Jungkook yang masih polos dan suci. Teman-teman Taehyung ini akan jadi gerombolan paling gaduh, paling berisik. Menjadi magnet perhatian gadis-gadis yang sengaja tinggal lebih lama untuk menunggu bintang utamanya datang.

Tentu, Kim Taehyung adalah bintang utamanya!

Oppa, akhirnya kau datang!” pekik salah seorang selirnya mengawali kegaduhan yang ada.

Taehyung yang merasa sangat keren berjalan sambil mengibas rambutnya. Kerlingan-kerlingan nakal ia bidik ke semua meja hingga gadis-gadis mabuk kepayang. Teman-temannya sendiri tidak peduli. Hanya berdoa semoga mata Taehyung tetap bisa membuka dan terpejam dengan semestinya.

Oppa, aku menyisakan jusku! Ayo minum dari mulut ke mulut.”

Oppa, hari ini kau seperti V BTS!”

Namun, hari ini atensi pemuda itu sedikit tercurah kepada gadis yang ia ikuti sejak keluar dari toilet, sebab kini mereka kembali mengantre bersama menu spesial hari Rabu. Untungnya, Tangsuyuk hari ini tersisa banyak. Setelah mengisi gelas dengan jus, Taehyung akhirnya datang ke meja teman-temannya dengan sambutan yang meriah, sementara gadis tadi menuju tempat yang jauh. Pojok kantin. Sendirian. Dia nampak mengeluarkan head-set dan memasangnya ke telinga sebelum mulai makan. Melihat tingkahnya Taehyung tergugu.

“Apa-apaan dia?” gumamnya memecah kehebohan teman-temannya.

Mereka sejenak mengikuti arah pandangan Taehyung. Dari reaksi ke empatnya, nampaknya hanya Taehyung seorang yang tidak tahu-menahu siapa gadis itu kendati mereka sering makan di kantin yang sama. Biasanya, Taehyung sibuk menggoda gadis-gadis yang duduk di dekat mejanya, jadi maklum saja. Tipe penyuka gadis-gadis hyper yang haus perhatian.

“Kenapa, Tae? Kau berurusan dengan gadis sadis itu?” Namjoon yang pertama bertanya.

“Kebetulan berpapasan di toilet. Siapa dia?” jawabnya. Agak bingung dengan sebutan sadis yang Namjoon sematkan untuk gadis yang sejujurnya memang bertampang sinis itu. Meski cantik, gadis seperti itu tidak terlalu sanggup Taehyung dapatkan. Tipe-tipe jual mahal.

“Demi Tuhan, kau tidak tahu siapa dia?” Jimin menimpali dengan sedikit tidak terima. Hujan nasi baru saja tercipta dari mulutnya.

Dengan sigap Hoseok mengambil tisu dan membantu mengelap bibir seksi pemuda itu meski sambil mengernyit.

Taehyung kaget. Ada apa?

“Memang dia siapa? Anak orang penting? Anak kepala sekolah? Anak artis? Anak presiden?”

“Anak haram ayahmu,” sela Jungkook si paling muda namun bertenaga paling super di rombongan membuat Taehyung langsung memukul kepala pemuda itu dengan sumpit di tangannya.

Tidak terima. Mana mungkin ayahnya yang keren memiliki anak selain Taehyung?

“Gadis paling angkuh abad ini, Jennie Kim si penolak cinta.” Hoseok akhirnya memperkenalkan dengan bangga layaknya pembawa acara Nona Dunia.

Taehyung mendecih. “Norak sekali julukannya?”

“Kau tidak akan berani bilang begitu setelah kau ditolak.” Namjoon berkata dengan meyakinkan.

“Kalian semua menyatakan cinta padanya?”

“Jimin lima kali,” kata Jungkook membuat Taehyung sontak membulatkan mulutnya.

“Kau tiga kali,” kata Jimin juga membuat Jungkook berdecak.

“Bahkan Namjoon?” tanya Taehyung penasaran lantaran temannya yang satu ini terbilang yang paling normal di antara mereka. Pemuda baik dengan hal-hal positif di kepalanya.

Melihat Namjoon mengangguk, Taehyung kontan mengumpat lirih. Jika Namjoon saja sampai ikut-ikutan berarti memang sudah bukan hal lumrah lagi. Padahal, gadis itu nampak tidak memiliki senjata mematikan. Biasa-biasa saja.

“Aku hanya penasaran karena katanya ‘kan tipenya orang pintar,” jelas Namjoon dengan niat terselubung mempromosikan dirinya.

“Bahkan Yoongi dari kelas sebelah yang terkenal swag dan dingin saja ditolak sepuluh kali.” Hoseok menambahkan.

“Sejual mahal itu?”

“Mungkin bukan jual mahal, hanya tidak ada yang cocok. Mungkin dia menunggu alien maju memintanya jadi pacar.”

“Memangnya alien itu ada?”

“Sepertinya di antara kita hanya Taehyung yang belum pernah mencoba,” celetuk Jimin kemudian.

Tunggu, tunggu, tunggu. Apa ini? Gadis ini ... sehebat itu? Taehyung pikir dia tak secantik itu untuk bertingkah sombong dan menolak semua pemuda yang menyatakan cinta padanya. Lagi pula dia siapa?

“Tidak tertarik,” sahut Taehyung acuh.

Namun, baru saja gadis itu menoleh ke arahnya seolah ia sadar tengah dibicarakan. Keduanya saling bertatapan sejemang. Namun, cukup lekat.

Taehyung mengangkat dagunya menantang, namun gadis itu hanya terus menatap lekat tanpa reaksi yang berarti. Melihatnya, entah kenapa Taehyung jadi merinding.

***

Bagi Taehyung gadis itu memang biasa-biasa saja. Tak ada getaran-getaran magis yang ia dapat setelah semalam berlalu dengan amat tenang tidurnya. Taehyung pikir ia tak perlu mengulik lebih jauh, sebab sebelum ini ia pun tidak pernah tahu siapa itu Jennie Kim. Meski fakta dirinya mencampakkan banyak lelaki membuat Taehyung tak habis pikir.

Namun, ada yang terasa mengganjal sejak dirinya sampai di sekolah. Pada kenyataannya gadis itu jadi sering muncul di sekitarnya, atau justru baru Taehyung sadari eksistensinya. Kebetulan sekali gadis itu berada di kelas yang sama dengan Irene, salah satu teman spesial Taehyung yang hari itu ingin sekali ia kunjungi. Meski tujuannya datang untuk bertemu gadis berparas dewi dengan kulit seputih porselen itu, pada kenyataannya sepanjang mereka ngobrol di depan pintu kelas, tatapan Taehyung kerap tertuju ke arah dalam, tempat gadis bernama Jennie tengah dikerumuni beberapa anak gadis.
Entah apakah memang pembawaan si gadis selesu itu, Taehyung melihat beberapa gadis nampak tengah memaksanya melakukan sesuatu sambil memukul-mukul buku di mejanya. Memberinya umpatan juga cacian, dibarengi toyoran bahkan pukulan di kepala yang kalau orang kebanyakan mengalaminya pasti akan memukul balik jika cukup berani, atau menangis di tempat lantaran tak memiliki keberanian untuk melawan. Namun, Jennie Kim hanya terus menulis di bukunya sesekali menatap seorang gadis yang duduk di atas mejanya dengan sorot mata yang tajam seperti ketika Taehyung mendapatkannya kemarin. Tidak ada tanda-tanda ia korban perundungan. Gadis itu nampak menikmatinya.

Bagi Taehyung itu sedikit unik.

“Hei, Tae! Kau melihat ke mana sedari tadi? Aku bicara denganmu,” tegur Irene kemudian. Memberinya pandangan heran.

Taehyung hanya meringis lantas menggaruk tengkuknya yang serasa di hinggapi kutu padahal rajin mandi.

“Sebentar lagi pergantian mata pelajaran. Aku akan kembali ke kelasku,” alibinya tanpa menjawab pertanyaan Irene sebelumnya.

Gadis itu mencebikkan bibir. “Kau tidak main dengan gadis lain ‘kan hari ini?” tanyanya.

“Kenapa? Mau main denganku?” sahut Taehyung sambil mengerling. Sebelah tangannya sudah jahil mengelus bokong gadis itu dan menepuknya, membuat sang empunya mengaduh dan mencubit perut Taehyung kesal.

“Tidak, ah. Hubungan kita tidak jelas.”

Taehyung tergelak. Pada kenyataannya dia tak cukup pandai merayu dengan kata-kata. Belum lagi pacaran itu merepotkan, mengharuskan Taehyung fokus hanya satu orang sementara ia adalah kumbang yang suka berkelana. Selagi hubungan pertemanan masih bisa menguntungkan untuknya, Taehyung belum ingin jatuh cinta pada satu gadis saja. Lagi pula konsentrasinya agak kacau hari ini, jadi ia mungkin akan mengacaukan agenda bercintanya jika nekat menggiring gadis ini pada perjanjian ranjang. Meski ia sadar Irene nampaknya ingin sekali Taenyung bawa ke semak-semak, Taehyung memutuskan mengusuk kepala gadis itu sejenak sebelum ia memutuskan pergi meninggalkannya yang memasang wajah kecewa. Tak lupa melirik sebentar ke dalam kelas. Taehyung melihat Jennie baru saja berdiri. Di dorong gadis-gadis yang menindasnya dan memaksa gadis itu menerima uang. Rentetan pesanan dilontarkan bersahut-sahutan anak-anak satu kelas sehingga Taehyung pikir Jennie tak akan mengingatnya sampai di kafetaria.

Ah, Taehyung mengerti. Mungkin Jennie adalah pesuruh di kelas Irene.

Membiarkan dirinya hanya menonton sampai di sana, Taehyung memutuskan segera pergi. Bermaksud membolos lantaran pelajaran selanjutnya tak ia sukai. Namun, belum jauh ia melangkah, seseorang terdengar memanggil. Meski tak menyebut nama Taehyung, pemuda itu memutuskan berhenti dan memutar kepalanya ke belakang, sebab koridor yang ia lewati sangat sepi. Sepanjang langkahnya meninggalkan kelas Irene, hanya Taehyung yang melintas.

Ketika sepenuhnya pandangan Taehyung tertuju ke belakang, pemuda itu selanjutnya terkesiap. Netranya mengerjap tak yakin. Meski sudah susah payah menghindar, gadis itu terus muncul seperti hantu. Menghantui pikiran Taehyung yang mencoba tenang.

Jennie tengah melangkah ke arahnya dengan satu tangan terulur. Sebuah benda yang tidak biasa Taehyung lihat tengah gadis itu pegang. Nampak ingin ia berikan pada Taehyung secara terang-terangan.
Tapi tunggu, itu ‘kan ...

“Apa?” tanya pemuda itu heran.

“Ambil!”

Taehyung tergugu. Ia lantas mengamati sekitar, memastikan tak ada orang yang memperhatikan. Untungnya benar-benar sepi saat itu. Seolah dimensi telah berubah jadi kuburan. Menjelang pergantian mata pelajaran, murid-murid pastinya sudah menunggu di kelas dengan tenang demi pencitraan.

Taehyung kemudian melangkah lebih dekat hingga ia bisa mencium wangi bunga menguar dari tubuh gadis itu. Kontras sekali dengan wajahnya yang sedingin musim salju. Mencoba mengabaikan aroma yang mengacaukan pikirannya itu, Taehyung mati-matian menahan tawanya atas pikiran nyelenehnya sendiri. Pelan-pelan menurunkan tangan Jennie yang terlihat tidak nyaman dipandang oleh lelaki sepertinya, karena demi Tuhan gadis itu sedang memegang alat kontrasepsi!

“Apa-apaan ini? Kau menatapku tajam sejak kemarin, lalu mengikutiku hari ini untuk menyerahkan ini? Kau ... menyukaiku?” tanya Taehyung sambil tertawa. Memastikan dirinya benar-benar menganggap kejadian ini lelucon.

Namun, Jennie tidak menerima sinyal lelucon dari Taehyung. Wajahnya tetap serius. Seolah dia memang tidak pernah tertawa.

“Apakah terlihat sangat jelas?” sahut gadis itu kemudian membuat Taehyung makin kaget. Ia mundur selangkah sementara tatapan Jennie kian tak gentar.

Apa-apaan ini? Gadis ini sungguhan menyukainya? Dan mengajaknya seks secara terang-terangan? Ini ... agak menakutkan.

“K-kau ...”

“Untuk seks denganmu tidak perlu perasaan saling suka, bukan?” Gadis itu lantas meraih sebelah tangan Taehyung, meletakkan alat kontrasepsi itu pada telapak tangannya sebelum melanjutkan. “Kurasa kau mencari ini kemarin. Aku menemukannya di pintu toilet. Kau tidak bisa seks tanpa ini, ‘kan?”

Lantas sebelum Taehyung memberi komentar Jennie pergi begitu saja dengan melewatinya yang tercengang separuh tertohok. Detik berikutnya ia tersedak ludahnya sendiri. Merasa baru saja ditindas secara verbal. Ketika ia membalik badan Jennie sudah berlenggang pergi meninggalkannya tanpa apa-apa lagi. Taehyung lantas memperhatikan alat kontrasepsi di tangannya dan mendesah.
Memang miliknya ternyata.

“Kenapa ini? Kenapa wajahku jadi terasa panas?” gumamnya sambil tergugu.

Tidak percaya. Ia sudah ditolak nampaknya dan rasanya jelas tidak enak seperti kata Jimin.

Liu_

TAINTED CINDERELLA (Available On Karyakarsa)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang