26. Harapan yang Pupus

82 5 0
                                        


Clara mengedarkan pandangan di sekelilingnya. Rumah yang begitu besar, dan memiliki halaman sangat luas. Mungkin ini belum seberapa, karena Clara belum melihat bagian belakang, samping kanan dan kiri rumah itu. Well, benar kata pria itu, mungkin Clara akan tersesat jika mencoba kabur dari rumah ini.

Mimpi apa sih, Clara bisa masuk dalam keluarga kaya raya bak anggota kerajaan, tetapi sayangnya agak dipertanyakan kewarasannya itu.

"Kak Clara!"

Disela acara melamunnya, Clara dikejutkan oleh teguran dari Selima yakni sepupu Kelvin. Wanita cantik yang Clara lebih muda darinya itu mendatanginya dengan raut wajah ramah.

"Sedang apa?" tanyanya ikut bergabung bersama Clara di balkon lantai dua.

"Melihat-lihat." Clara menjawab apa adanya. "Rumah kalian sangat besar ya. Apa ini juga peninggalan rumah nenek moyang kalian?" tanya Clara.

"Hm, ya bisa dikatakan begitu. Rata-rata keturunan Quinzel tinggal di sekitaran sini, sih, tapi rumah ini katanya akan diberikan oleh Kak Kelvin nantinya," jawab Selima lagi, sedikit membuat Clara penasaran.

"Rumah sebesar ini diberikan untuk dia seorang?"

Selima mengangguk, "Sudah menjadi peraturan jika cucu pertama laki-laki yang sudah menikah dan mendapatkan keturunan akan diberikan rumah utama," jawabnya.

Seberuntung itu, kah pria itu? Pantas saja pria itu berlagak seperti orang yang paling berkuasa. Aset paling berharga jatuh padanya. Dasar.

"Tapi kata Kak Kelvin dia akan tetap menyuruh keluarganya tinggal di sini. Si bodoh itu malah ingin memiliki rumah di perumahan saja," lanjut Selima lagi, membuat Clara agak salah mengira.

"Oh ya, Kak, pasti kau belum mengenal semua keluarga di sini, kan? Oke, akan kubantu untuk mengenalkan mereka yah, sedikit saja, setidaknya kau tidak kaget dengan perilaku mereka terutama pada ibuku, hehe," ujar Selima dengan niat awalnya untuk memndekatkan diri pada Clara, dan termasuk keluarganya.

Clara hanya mengangguk saja seraya mendengarkan ocehan dari sepupu Kelvin.

"Yang suka mengoceh tadi ibuku, namanya Beth. Dia memang frontal sekali dan suka ikut campur urusan orang, jadi kau harus kuat-kuat dengannya ya," ucap Selima memperingati Clara mengenai kebiasaan buruk ibunya. "Lalu pria yang seumuranku itu, kembaranku bernama Daryl. Yah, dia agak playboy sih, dan sudah pasti menyebalkan."

"Kak Kelvin itu anak pertama laki-laki dari Bibi Freya, dia cukup baik sih, walau kadang tingkahnya agak gila. Bibi Freya paling terlihat sempurna di keluarga, tetapi asal kau tahu, dia suka melakukan hal di luar nalar jika tidak ada Nenek. Well, mungkin masa mudanya belum habis," kata Selima. "Lalu, ada Irina, adik Kak Kelvin, yang masih kuliah di Belanda, dia tidak ada di sini, tapi biasnaya dia akan pulang saat liburan. Dan paling terakhir, Sam, masih berumur sepuluh tahun, dia agak nakal tapi tetap menjadi kesayangan di keluarga."

Bersamaan dengan pengenalan Selima, dari bawah terlihat beberapa orang anggota keluarga yang baru saja datang, Clara dan Selima bisa melihat dari balkon yang sedang mereka tempati.

"Nah, kalau itu Ayahku." Selima berujar, menunjuk pria paruh baya yang ada di bawah sana. "Dia akan jarang di rumah karena urusan pekerjaannya yang melebihi presiden, lalu, di sebelahnya ada Nenek. Kau sudah mengobrol dengannya, Kak?" tanya Selima yang otomatis dijawab oleh gelengan kepala Clara.

Bahkan, ia merasa orang tertua dari keluarga ini begitu menatapnya penuh intimidasi saat sarapan tadi.

"Ah, kurasa agak sulit untuk berinteraksi dengan nenek, karena orang itu jarang menyukai orang asing," lanjut Selima lagi dengan ragu. "Tapi, tak apa. Pasti Kak Kelvin akan meyakinkan nenek, dan lambat laun dia akan suka padamu."

DesireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang