29. Permintaan Maaf

111 8 0
                                        




Jika bukan terpaksa, Clara tidak akan mau menerima ajakan berolahrga Selima. Well, Clara  bukan tipe manusia produktif yang harus bangun pagi dan olahraga, ia lebih memilih berolahraga saat malam hari atau siang hari dan pilihannya adalah pilates atau yoga, bukan tennis.

Tetapi, Selima memaksanya ikut dengan alasan tidak ada teman wanita yang menjadi pasangannya di sana, sementara Kelvin dan Daryl adalah manusia yang ambisi dalam bermain tennis. Huh, apa Selima berharap dengan adanya Clara, bisa mengalahkan dua orang itu? Bahkan, Clara tidak begitu pandai bermain raket, apalahi harus menangkis bola yang berat itu.

"Percaya lah, kita akan bermain sebentar saja dan aku akan mengajakmu berbelanja di toko langgananku," kata Selima di sela perjalanan mereka menuju lapangan usai diantar oleh Buggy car. Jangan tanya letak lapangan tennis itu berada, tentu saja masih menjadi satu kesatuan dengan kediaman keluarga Quinzel.

"Oh itu mereka sudah di sana!" seru Selima menunjuk Kelvin dan Daryl yang lebih dulu bermain berdua. Segera Selima menarik tangan Clara agar menghampiri mereka.

"Kukira kalian tidak jadi datang," celetuk Daryl dengan nafas yang agak tersenggal akibat permainan nya dengan Kelvin cukup berat, namun Kelvin yang masih di ujung sana malah nampak santai.

"Aku harus membawa Kak Clara bermain tennis! Jangan sampai kalian yang menguasai lapangan ini terus menerus." Selima menjawab dengan membawa nama Clara dan direspon cuek oleh Daryl.

"Ya sudah sana bermain. Aku akan ajak Kelvin istirahat dulu," papar Daryl berniat memanggil Kelvin untuk mengambil waktu istirahat sementara dua orang wanita itu akan bermain.

Tetapi, saat Daryl hendak melakukan itu Selima menahannya.

"Sepertinya dia tidak terlihat lelah, kau yakin dia mau istirahat?" tanya Selima tidak yakin Kelvin akan semudah itu menyudahi permainan sementara pria itu tidak menunjukan kondisi lelah seperti Daryl.

"Ya lalu bagaimana? Kalian mau bermain bertiga?"

Membuat Selima menoleh ke arah Clara yang sejak tadi hanya diam. Clara merasa hawa tidak enak saat melihat senyum Selima yang cukup mencurigakan.

"Kau bermain saja dulu bersama suamimu, kurasa pengantin baru juga melakukan olahraga bersama," kata Selima dengan penuh pengertian.

"Tapi aku tidak bisa bermain tennis—"

"Tenang saja, dia tidak akan menyulitkanmu seperti ia lakukan padaku," timpal Daryl, kemudian menyahut dari jauh pada Kelvin di sana. "Bro, kau bermain bersama istrimu dulu ya!" Bahkan Clara belum menjawabnya tetap saja si kembar itu sudah berlaku seakan Clara menyetujuinya.

Kelvin memberikan kode santai dengan mengacungkan jempol pertanda ia setuju untuk bermain dengan Clara.

"Baik kalau begitu, good luck!" seru Selima pada Clara kemudian berlalu menarik Daryl dari lapangan, meninggalkan Clara yang hanya bisa menghela napas pasrah di sana.

Oke, jadi agenda hari ini bermain tennis dengan si mesum itu? Apakah Clara harus memukul bola dengan keras mengenai titil vital pria itu? Ya, tidak bisa dipastikan karena Clara tidak memiliki keahlian bermain tennis.

"Oke, Quinn! Aku akan mulai menyervis bola!" teriak Kelvin yang sudah bersiap melempar bola dengan raketnya, dan Clara dengan malas menerimanya.

"Ah, aku benci olahraga ini."

Hanya bisa mengeluh sebelum Clara menerima bola dari Kelvin. 

Clara rasa pria itu sengaja mengerjainya. Lihat, saat ini Clara harus berupaya keras untuk menerima bola dari Kelvin yang begitu cepat dan selalu berlawan arah. Clara tahu pria itu sengaja ingin menguras energinya saat ini. 

DesireCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang