Tangan dengan sebungkus eskrim terulur dihadapan Jake. Sepasang mata itu menatap binar. Jika kalian pernah melihat hal bodoh, maka hari ini Jake adalah pemeran utama dari hal tersebut.
"Nih, diambil, diliatin mulu," celetuk si pemberi.
Ekspresi Jake berubah dalam waktu yang signifikan. Banyak hal terjadi hari ini atau bahkan keesokan harinya, mengingat itu membuat Jake ingin mengigit jari kukunya habis. Sedangkan, pelaku sekaligus pahlawan yang membawanya saat ini, belum juga berniat mengembalikannya ke daerah asalnya.
"Gue pulang sendiri," cetus Jake setelah meraih bungkusan tersebut. Tubuhnya berdiri dari ayunan taman bermain itu, hanya ada cahaya lampu taman yang tersusun dengan posisi yang baik menerangi keduanya.
"Dengan apa?"
Sunghoon bertanya membuat Jake mengernyit keras. Menelepon supir untuk menjemput tidak akan mungkin, Sunghoon pasti akan menjadi tempat caci maki keluarganya. Padahal, hampir delapan puluh persen kejadian ini oleh karenanya. Yah, walaupun dua puluh persen lagi juga bukan kesalah Sunghoon sepenuhnya.
"Naik kereta seperti tadi," balasnya mulai meninggalkan Sunghoon.
"Tidak bisa."
Jawaban Sunghoon membuat Jake berbalik. Dirinya menatap heran, lelaki itu menahannya balik atau apa. Tak mungkin kan, berharap untuk diajak pulang bersama. Jake pikir mereka tak sedekat itu.
"Apanya yang tidak bisa!"
Protes Jake. Sunghoon menghela nafasnya lalu menunduk setengah badan. Tunggu, bukan, Jake merasa itu aneh. Itu simbol minta maaf, hal apa lagi ini.
Jake mengacak rambutnya tidak mengerti dengan apa pun yang akan dialaminya.
"Kali ini kemana?"
Pertanyaan Jake yang spontan membuat Sunghoon melirik pemuda itu pelan. Keduanya terlihat sibuk berpikir menelusuri jalan di malam ini. Tidak, sebenarnya daripada menelusuri, Jake hanya mengikuti pergerakan Sunghoon.
"Hm, aku punya dua tempat yang dirimu tidak sukai," balas Sunghoon membuat pemuda yang mendengar itu tertawa.
"Kenapa?" tanya Sunghoon
Jake hanya menggeleng, lalu menarik nafasnya lelah, "maaf, tapi.., bisa stop gunakan aku-kamu, ga cocok."
Sunghoon mengacak rambutnya gusar, fokus Jake benar-benar diluar dari percakapan yang sebelumnya dikatakannya. Jake yang tadinya tertawa lantas tiba-tiba terdiam. Tangannya diletakkan didepan mulut terkejut. Tertawa karena panggilan mudah itu membuatnya terlihat bodoh. Seperti menular, Sunghoon yang melihat kebingungan Jake membuatnya tersenyum kecil.
"Maaf, lanjut," ucap Jake menunduk lalu berjalan lebih cepat satu langkah.
"Ada dua tempat menginap yang dirimu tidak suka? Tidak dengan hotel karena kita belum memiliki kartu pengenal, " ulang Sunghoon dengan ragu.
Jake cuma melirik, "gue juga nggak mau seboros itu demi hotel."
Sebenarnya sejenak Jake berpikir untuk menelepon orang rumah dan mengatakan kebenarannya. Ah, mengingat itu, Jake hanya melakukan izin menginap dengan alasan klasik tugas. Padahal sebenarnya besok adalah hari sabtu, Jake tidak masuk sekolah untuk belajar melainkan mengikuti ekstrakulikuler. Tepuk tangan karena pemuda itu semakin jago mengeluarkan kebohongan baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKEPTICAL
Short StorySpin off Sungjake Help & Weakness Siapa dia yang meragu? Mereka bukan berbeda dalam segala hal. Hanya mencoba melengkapi.
