Tidak ada gangguan, rasa yang familiar namun agak membosankan. Setidaknya sejak hari itu, keduanya pulang tanpa percakapan yang panjang. Tidak ada interaksi yang dekat karena sedari awal keduanya memang tak pernah sedekat itu. Sering sekali keduanya saling melewati bahu satu sama lain. Interaksi mengesalkan itu berhenti dalam sekejap, memang tidak bisa diharapkan.
Suara gesekan buku dan meja membuat pemuda itu tersentak. Matanya melihat seseorang dihadapannya, sebelum akhirnya tersenyum ramah.
"Halo, Kyungmin," sapa Jake ramah.
Kyungmin membalas dengan tersenyum, keduanya masih kedalam hening. Sementara, Jake mulai mencatat tanggal peminjaman buku. Tak sadar bahwa seseorang menghampiri Kyungmin, turut menyapa Jake.
"Halo, Jake!"
Sapaan itu disertai angkatan tangan membuat pemuda yang tadinya masih menulis memiringkan kepalanya. Rasa-rasanya dirinya belum pernah melihat wajah pemuda itu. Penasaran yang menemui diri Jake langsung diberi jawaban oleh Kyungmin.
"Oh iya, ini Youngbin. Dulu sekolah dasar kita sama," jelas Kyungmin membuat Jake mengangguk. Youngbin tersenyum mengulurkan jabatan tangan.
"Lo kenapa diam banget Jake?" tanya Kyungmin membuat pemuda yang ditanya mengalihkan fokusnya.
"Eh, ga apa-apa, gue cuma lagi ingat-ingat jadwal ekstra gue yang lain," balas Jake yang diberikan anggukan oleh Kyungmin.
Jake menggaruk belakang kepalanya. Tangannya kembali menulis sebelum tersenyum memberikan buku pada Kyungmin. Youngbin juga memberikan bukunya kepada Jake untuk dicatat.
"Ngomong-ngomong Jake, mau makan bareng ga?"
Jake yang masih fokus cuma berdeham. Pemuda itu reflek mengangkat kepala saat sadar dan melihat senyuman Youngbin yang lebar. Kesalahan yang sangat fatal, pikir Jake. Tak bisa menolak sedikit pun, Jake cuma melihat kearah Kyungmin yang turut tersenyum. Kebiasaan berdeham untuk menjawab itu sepertinya harus dikurangi.
Keheningan sejenak itu kembali beralih pada suara buku yang diletakkan. Tangan yang meletakkan buku itu, membuka jalan memisahkan Kyungmin dan Youngbin. Peminjam yang baru datang tidak tersenyum, namun melirik keduanya bergantian.
"Pendek, gue mau bukunya dipanjangin untuk dua minggu bisa? Btw, ayo makan."
Mendengar itu, kedua manusia lain yang bersama Jake melirik eksistensi baru yang mengajak makan. Jake cuma tersenyum semakin canggung. Dirinya merasa agak kesal terhadap lelaki itu. Setelah hampir beberapa minggu tak berinteraksi, kemunculannya membuat Jake tidak habis pikir.
"Haha, sekalian aja gimana? Tapi setelah sekolah aja ya, istirahat kedua gue juga jaga," ucap Jake menyelesaikan suasana yang ada dan memberi senyuman.
Jake melihat Kyungmin dan Youngbin yang mengangguk mengiyakan. Sementara, manusia yang diantara keduanya terlihat tidak suka. Jake yang melihat itu memainkan mata seperti mengancam. Lelaki itu berdecak pelan, mengangguk pelan kemudian mengambil buku yang telah diperpanjang Jake dengan buru-buru, lantas berlalu dengan cepat.
"Yaudah kita duluan ya, Jake!" ucap Kyungmin. Youngbin memberikan semangat kecil dan memilih berlalu bersama.
Jake kemudian menggaruk kepala, terlihat bingung akan yang sedang terjadi.
[SKEPTICAL]
"Kak, pesan satu paket menu yang ini, sama satu kidz meal ya," pesan Sunghoon. Jake tertawa pelan yang menarik rasa senyum pada Kyungmin dan Youngbin juga. Ketiganya mungkin merasa aneh ketika Sunghoon menyebutkan hal tersebut. Lelaki yang menjadi pusat tertawaan hanya mengangkat alisnya sebelah dengan bingung.
"Kok ketawa pendek, bukannya emang ini porsi menu lo?" ujar Sunghoon tanpa rasa bersalah. Mendengar itu Jake menginjak kasar kaki Sunghoon. Lelaki itu mendesis, segera setelahnya Jake mengganti menu tersebut. Mengikuti itu, kedua manusia lain turut memesan setelah Jake setelah memesan.
Ketiganya bercanda meninggalkan Sunghoon yang memainkan tisu. Membelah lapisan kedua, membaginya menjadi dua, mengoyaknya lebih kecil lalu melemparnya secara impulsif kepada Jake hingga hampir lima kali. Urat kepala pemuda itu mengeras, gerakan tangannya bergerak mencubit pemuda itu. Senyuman pembalasan yang penuh rasa masam membuahkan kembali ringisan yang lebih dahsyat.
"Ngomong-ngomong Youngbin dari kelas mana ya?"
Ekspresi wajah Jake berubah sepersekian detik. Matanya memperhatikan ekspresi Youngbin. Siapapun bisa menebak bagaimana wajah senang itu ternyata terlihat tertarik pada Jake, walau sebenarnya Jake sendiri tidak tahu mengenai hal tersebut.
"Ah, aku dari kelas delapan unggul," balas Youngbin.
Jake membulatkan matanya, rasa kagum memenuhi dirinya. Sebelum akhirnya sebuah suara gerutu lain mengganggu hal tersebut.
"Gue juga anak unggul, emang ada yang spesial."
Gerutuan itu terdengar seperti pertanyaan padahal Jake menebak bahwa itu hanya pernyataan sombong. Tapi, pemuda itu sedikit terpaku pada pikiran sebentar. Setelah hal-hal yang terjadi Jake bahkan tidak tahu kalau Sunghoon merupakan anak unggulan.
"Lo berdua kenapa tiba-tiba ngajak makan?" tanya Sunghoon. Jake cukup tahu bahwa dia lah yang seharusnya menanyakan itu. Tetapi, kehadiran lelaki itu lebih tidak dipahaminya.
"Ah, gue sama Youngbin cuma mau mendekatkan diri aja sama Jake. Lo kok penasaran banget?" balas Kyungmin.
Sunghoon cuma menggeleng, tarikan napasnya berat. Merasa aneh, Jake cuma memutuskan tertawa canggung. Ketika ingin memecahkan suasana dengan bergurau, pesanan datang. Suasana makan diawal cukup sepi namun akhirnya kembali dengan beberapa usaha kecil, walaupun Sunghoon tidak turut ikut dalam percakapan itu. Lelaki itu hanya menyelesaikan makan dan menunggu sebelum akhirnya keempatnya keluar dan berpisah. Kyungmin dan Youngbin berlalu meninggalkan keduanya.
Jake menghela napas lega, matanya melirik sebelah kanan pemuda itu. Objek yang ditatap turut mengalihkan arah wajahnya seolah-olah Jake tidak sedang berbicara padanya. Memilih tak peduli, Jake berbalik ingin meninggalkan. Sunghoon tersentak turut berbalik, tangannya menyentuh tali tas pemuda itu.
"Apa?" tanya Jake.
Wajah Sunghoon terlihat ragu sebelum akhirnya mengalihkan wajahnya kembali. Mulutnya berbisik pelan membuat Jake mengernyit dan kembali bertanya.
"Lo ngomong apa jelek?"
Sunghoon menggaruk lehernya kasar dengan gemas. Jake terus memaksanya hingga akhirnya pemuda itu terkejut mendengar suara keras lelaki itu. Bukannya merasa sakit hati, wajahnya justru terlihat tegang. Sedangkan yang lain mencoba menutup mulutnya. Keduanya, diam tak sadar bahwa saat ini telinga keduanya memerah.
Jake mengeluarkan suara ragu tak jelas sebelum akhirnya berlari cepat. Dalam larinya, Jake berharap tidak pernah mendengar hal tersebut untuk yang kedua kalinya. Bukan tentang benci, tapi hari ini pemuda itu mampu melakukannya dengan berlari. Hari-hari kemudian mungkin dia hanya akan terjebak dengan suasana konyol.
Sang pelaku hanya terdiam tak mengejar, lelaki itu menghela napas. Memegang kepalanya, energinya habis hingga akhirnya terjongkok sambil mengusap wajahnya. Matanya melihat kepergian Jake. Seperti tertolak, padahal lelaki itu tidak mengatakan hal yang bahkan yang tepat tentang yang dirasakannya. Sunghoon kembali mengingat ucapannya.
"Gue gasuka lo makan bareng mereka, gue cemburu."
Ah, Sunghoon harap ada percobaan kedua. Lagipula, tahu apa siswa sekolah menengah pertama tersebut tentang cemburu?
tbc.
metttt makan!!!
ga deh maksud aku selamat menikmati cerita 999 kata ini hahah
KAMU SEDANG MEMBACA
SKEPTICAL
Short StorySpin off Sungjake Help & Weakness Siapa dia yang meragu? Mereka bukan berbeda dalam segala hal. Hanya mencoba melengkapi.
