Halo, semuanya, aku sengaja untuk membuat note yang ini diawal karena aku benar-benar terkejut karena menemukan komen yang kurang mengenakkan pada chapter sebelumnya. Untuk yang pertama, i never force anyone to read or vote. Mungkin kalau komen pernah, tapi niatku bukan untuk hal seperti itu tapi untuk berdiskusi. Kedua, aku sangat senang ketika ada yang membaca ceritaku, banget nget nget. Karena artinya kita punya gaya baca yang sama. Ketiga, sama seperti aku yang tidak pernah memaksa kalian, aku berharap tidak ada hal yang sama terjadi padaku.
Aku memang penulis kecil, karya ku tidak banyak dan aku tidak jago menulis, tapi aku menulis karena aku merasa ini menyenangkan, kalau aku tidak up, bukan berarti aku menelantarkan, kalau kalian pembaca sejak help&weakness atau karya ku yang lain, kalian pasti tau. Memang sebenarnya aku bisa acuh, tapi aku ga pernah berharap ketemu reader toxic seperti ini, if u wanna leave, then leave, no one asked you to stay. Maaf kalau kamu merasa cerita ini gantung, kamu boleh pergi kok, btw aku gabisa balas langsung karena wattpad commentku bermasalah.
Oke deh, sekian saja dari note awalku! Selamat menikmati ceritanya!!!!
.
.
.
Pagi ini terasa berat, Jake menenggelamkan wajahnya kedalam bantal. Terhenyak sebentar sebelum akhirnya bergerak menendang udara dengan liar. Pemuda itu benar-benar bingung, bagaimana dia akan menghadapi hal itu. Bukan Jake tidak mengrti ucapan Sunghoon, tapi dia bahkan tidak mengetahui apa yang ia rasakan. Pemuda itu takut, dia akan menagih jawaban.
Namun mau tidak mau, suara alarm semakin kencang memenuhi ruangan. Jake mendelik bergeser hendak mematikan alarm. Ketika tangannya bergerak kembali, alarm tak sadar turut bergeser hingga terjatuh. Jake terkejut, serpihan kaca tersebar.
"Aaaaa!" kesal Jake menarik rambutnya. Rasanya hari ini tidak akan ada yang berjalan baik.
[SKEPTICAL]
"Jake!"
Pemuda yang sedang membaca bukunya dengan tenang berbalik, dirinya menanti panggilan yang dilakukan oleh Airel. Gadis itu terlihat terburu-buru dengan wajah yang panik. Ketika sampai, Jake segera mengarahkan gadis itu untuk duduk disebelahnya terlebih dahulu dan menarik nafas. Airel menggeleng dengan kuat, dirinya mencoba melepaskan genggaman Jake yang menyuruhnya untuk duduk.
"Ga, Jake. Kamu jangan tenangin aku dulu," jelas Airel, "—kamu yang harusnya terkejut."
Jake mengernyit, bertanya, "maksud kamu apa?"
"Youngbin, Jake, kata guru Youngbin kritis di rumah sakit," ucap Airel dengan tergesa.
Jake yang mendengar itu membulatkan matanya. Pemuda itu menarik tangan Airel berdiri ingin memastikan ucapan itu ke kantor guru. Namun, saat keduanya berbalik, Sunghoon dan Kai sudah berdiri dengan keringat mengucur di dahinya menatap Jake dengan nafas yang tersenggal.
Sunghoon berjalan mendekati pemuda itu, berbisik pelan, "ayo!"
Sunghoon menarik tangan Jake pergi. Sedangkan dua yang lain turut mengikuti pergerakan keduanya. Saat ini keempatnya mengarah ke atap gedung sekolah, menjadikan kondisi semakin melelahkan dan sepi. Seakan-akan keterdiaman sepanjang jalan bahkan tidak berarti. Bahkan kecanggungan semalam yang terjadi seakan hilang membaur pergi.
Pemuda itu mendorong pintu dengan cepat. Dirinya menghela nafas dan berbalik, menatap ketiganya bergantian. Jake melihat genggaman yang belum dilepaskan, Sunghoon yang mengalihkan arah pandang manusia tersebut tersentak. Refleksnya melepaskan genggaman tersebut yang diberi dehaman oleh dua orang lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKEPTICAL
Short StorySpin off Sungjake Help & Weakness Siapa dia yang meragu? Mereka bukan berbeda dalam segala hal. Hanya mencoba melengkapi.
