19.Laki-laki itu?

8 0 0
                                        


"TANIA!"

Suara lantang dari sang guru memecah keheningan kelas dan membuyarkan lamunan Nia. Ia tersentak kaget, matanya membelalak. Baru disadarinya bahwa sejak tadi ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Yang satu melamun, yang satu lagi tertidur! Kalian ini benar-benar, ya!” gerutu sang guru dengan nada kesal. Sementara itu, Diva hanya bisa nyengir kuda, menggaruk kepala seolah-olah tidak merasa bersalah.

“Kalian! Perhatikan! Jangan melamun dan tidur lagi!” titah guru itu dengan tegas. Nia dan Diva langsung mengangguk cepat, lalu kembali fokus saat sang guru melanjutkan penjelasan materi.

Beberapa waktu kemudian, bel istirahat berbunyi nyaring. Satu per satu murid berhamburan keluar kelas. Kini hanya Nia yang masih duduk sendiri. Ia tak ikut Diva dan Khalis ke kantin—entah mengapa, tubuhnya terasa berat, hatinya sesak, dan pikirannya penuh sesak oleh hal-hal yang tak bisa ia uraikan.

“Tania, bisa bantu Ibu sebentar?” suara lembut sang guru membuat Nia menoleh pelan.

“Iya, Bu. Boleh,” sahutnya dengan suara pelan. Ia bangkit dari bangkunya dan menghampiri sang guru yang sedang merapikan tumpukan buku di meja.

“Tolong bawa buku-buku ini ke perpustakaan, ya,” pinta sang guru. Nia mengangguk patuh, lalu mulai mengangkat tumpukan buku yang cukup berat itu.

Ia melangkah pelan menyusuri lorong sekolah yang sepi. Kepalanya menunduk, pikirannya kembali melayang—tentang ibunya, tentang Samudra, dan tentang dirinya sendiri.

Brukk!

Tubuhnya terjatuh seketika. Buku-buku berserakan di lantai. Ia meringis kecil, terkejut. Namun segera ia berjongkok, membereskan buku-buku sambil menggumamkan permintaan maaf.

“Maaf... gue nggak sengaja,” ucap Nia sambil menunduk pada seseorang yang ia tabrak. Ia sempat melirik, laki-laki itu ikut memungut buku-buku, namun wajahnya belum terlihat jelas.

“Lo kenapa? Gue diem aja ditabrak,” ujar laki-laki itu. Suaranya terdengar familiar di telinga Nia.

Tanpa banyak pikir, Nia terus memunguti buku. Namun saat keduanya berdiri dan saling menatap...

“Lo!?”

Seruan kaget meluncur bersamaan dari mulut mereka.

Dia—laki-laki yang pernah menolong Nia di jembatan. Meskipun Nia tidak berniat mengakhiri hidupnya saat itu, pria ini sempat menuduhnya akan bunuh diri. Laki-laki itu... Zen.

“Lo? Cewek yang mau bundir itu, kan?” ujar Zen, ekspresinya bingung namun ada nada menggoda.

“Gue nggak bundir!” elak Nia tegas. Wajahnya memerah, antara kesal dan malu.

“Iya, iya… Santai aja. Kok lo bisa ada di sini?”

“Gue sekolah di sini. Anak baru,” sahut Nia datar, lalu mengambil buku dari tangan Zen.

“Eh, biar gue aja yang bawa. Ini buat ke perpus, kan?”

Nia hanya mengangguk. Mereka berjalan berdampingan menuju perpustakaan, obrolan ringan mulai tercipta.

“Oh lo SMA di sini? Tapi kok gue gak pernah lihat lo dari awal masuk?” gumam Zen sambil menoleh penasaran.

“Yah, mana gue tahu,” jawab Nia, menyerahkan buku ke petugas perpustakaan.

“Udah, kan? Gue balik duluan,” katanya, bersiap pergi.

“Bareng,” ucap Zen cepat, menyamakan langkah.

Obrolan mereka mulai cair, diselingi tawa kecil. Namun, suasana berubah seketika saat...

“Stop.”

Sebuah suara berat dan dingin menghentikan langkah mereka. Samudra berdiri di hadapan mereka dengan tatapan tajam mengarah ke Zen. Aura tegang langsung terasa di udara.

Shattered SoulCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang