20.Bullyan

5 0 0
                                        

Nia bersama teman-temannya sedang menikmati makan siang mereka di kantin sekolah. Tawa mereka pecah dalam obrolan ringan yang hangat. Di tengah keramaian itu, dari kejauhan, sepasang mata memandangi Nia dengan penuh kebencian. Tatapan itu datang dari seseorang yang tak lain adalah Win—si ratu pembully yang terkenal kejam.

Tanpa Nia sadari, Win telah melangkah mendekat ke arah nia dan teman-temannya.

“AKHH!!”

Teriak Nia tiba-tiba, terkejut karena rambutnya ditarik kasar dari belakang. Rasa sakitnya seperti ditusuk-tusuk jarum, membuat tubuhnya kaku sesaat.

Saat kedua teman Nia ingin membantu, Win langsung berseru,
"Sara! Jeni! Tahan cewek-cewek itu!!"

Dengan cekatan, Sara dan Jeni—antek setia Win—bergerak dan menahan kedua teman Nia. Mereka sudah terbiasa melakukan hal itu, seperti sudah dilatih untuk melumpuhkan siapa pun.

Nia berusaha melepaskan diri, tangannya mencengkeram tangan Win yang menarik rambutnya, tapi sia-sia. Tarikan Win makin kencang. Rasa sakit di kulit kepala membuat Nia hampir menjerit histeris, seakan-akan rambutnya akan tercabut seluruhnya. Penghuni kantin hanya bisa terdiam, tak satu pun berani mendekat. Mereka tahu siapa Win. Anak orang berpengaruh di kota ini, dan punya kuasa lebih di sekolah.

“S-sakit kak!! Lepas!!”
Nia merintih lirih, matanya berkaca-kaca. Tapi Win hanya menyeringai, lalu menarik rambut Nia lebih kuat hingga tubuh Nia jatuh dari kursinya.

“INI BALASAN LO KALO MACEM-MACEM SAMA GUE!! LO DASAR PELAKOR!! LO REBUT COWOK GUE!!”
Suara Win menggema dan membuat semua yang mendengarnya bergidik ngeri.

Dengan brutal, Win mulai menyeret tubuh Nia. Rambut Nia masih dicekal erat dan dijadikan pegangan untuk menyeretnya melintasi lantai kantin. Seragamnya mulai robek sedikit demi sedikit, tersangkut meja dan kursi, tapi Win tak peduli.

“KAK, LO KEJAM! LEPASIN NIA KAK!!”
Risa menjerit sambil menangis, tak tahan melihat sahabatnya diperlakukan seperti binatang.

Wita memberontak, tapi cengkeraman Sara dan Jeni sangat kuat. Mereka menahannya seperti satpam profesional.

“Awh, kak! Sakit! Lepas!!”
Nia terus berusaha melepaskan rambutnya dari tangan Win. Dalam kondisi panik, ia menendang tubuh Win dengan sekuat tenaga.

Win terjatuh. Nia berdiri dengan tubuh gemetar, rambutnya acak-acakan, banyak yang rontok. Seragamnya koyak, dan napasnya terengah. Kepalanya berdenyut keras seperti mau pecah.

“NIA!! LEPASIN GUE KAK! LO GAK PUNYA HATI YA!!”
Wita masih berteriak kesal, terus mencoba melepaskan diri.

Tapi Nia mulai terhuyung. Kakinya goyah, dan akhirnya ia kembali jatuh ke lantai, memegangi kepalanya yang sakit luar biasa.

Win yang sudah bangkit kembali berjalan mendekat. Tatapannya tajam dan mengerikan.

BRUKK!

Win menginjak kaki Nia keras-keras. Suara gesekan sepatunya di atas kaki Nia terdengar nyaring.

“AKHHHH SAKITTT!!” Nia menjerit histeris, matanya membola karena sakit yang luar biasa. Rasanya seperti tulangnya remuk. Air matanya tumpah tanpa bisa ditahan. Win tersenyum puas melihat itu.

“APA-APAAN INI!?” Tiba-tiba, suara lantang terdengar dari arah pintu kantin. Samudra muncul dengan napas tersengal. Tatapannya langsung tertuju pada tubuh kekasihnya yang tergeletak penuh luka dan kotoran.

Flashback

Samudra sedang duduk di rooftop sekolah. Matanya terpejam, rokok hampir habis di jemarinya. Keheningan itu pecah saat pintu terbuka keras.

Shattered SoulCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang