18.Bertemu

14 2 0
                                        


Menerima bukan berarti menyerah, tapi memberi ruang pada harapan baru
●●●

"Nia sayang, sini keluar, coba lihat siapa yang datang!" teriak seseorang dengan suara yang sangat Nia kenali.

Itu sang papa

Wajah Nia langsung berseri ketika mendengar suara papanya. Ia segera bergegas keluar kamar dan mendekat ke sumber suara. Namun, saat hampir sampai, langkah Nia melambat ketika melihat beberapa orang asing yang tidak ia kenali.

Seorang wanita yang sedikit lebih tua dari mama-nya berdiri di sebelah papa-nya. Di sisi lain, seorang pria dewasa berdiri di sebelah mama-nya. Langkah Nia terhenti. Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dalam benaknya.

"Sayang? Ayo kemari, Nia nggak mau peluk papa?" tanya papa sambil merentangkan tangan.

Nia berjalan mendekat dan memeluk papanya.

"Papa sama Mama mau ngenalin seseorang ke kamu," ucap sang papa, membuat hati Nia seketika diliputi rasa waswas.

"Dek, kenalin ini Om Arhan," ucap sang mama memperkenalkan pria di sebelahnya. Wajah pria itu tersenyum hangat, membuat Nia sedikit lega. Namun, perasaan khawatir itu masih ada. Pria itu mengulurkan tangan untuk berjabat, dan Nia dengan ragu membalas jabatan itu sambil tersenyum tipis.

"Sayang, ini Tante Tari," ucap papa memperkenalkan wanita yang berada di sebelahnya. Wanita itu tampak memberikan senyuman yang terlihat terpaksa, dan hanya sekejap pandangan mereka bertemu sebelum wanita itu mengalihkan pandangannya.

Entah apa yang kini Nia rasakan. Perasaan bahagia, sedih, kecewa, khawatir—semuanya bercampur aduk. Tapi Nia tak ingin menampilkan kesedihannya, terlebih saat ia melihat kedua orang tuanya terlihat begitu bahagia.

Mungkin... tidak salah mencoba menerima ini? Tapi rasanya sangat sulit.

mereka semua berada di rumah seharian. Nia merasa gugup dan tak tahu harus berbuat apa. Ia beranjak menuju taman belakang, duduk di ayunan, dan mulai berayun pelan sambil memikirkan banyak hal yang tak bisa ia ungkapkan. Tanpa sadar, seseorang mendekat.

Saat ayunan itu tiba-tiba kembali berayun padahal Nia tak menggerakkannya, ia tersadar dari lamunannya.

"Eh!" serunya kaget sambil menoleh ke belakang.

"Kaget ya? Maaf ya, soalnya kamu melamun," ucap pria itu—Om Arhan.

"Eh, Om... kenapa ke sini?" tanya Nia.

Om Arhan duduk di ayunan sebelah Nia dan tersenyum. Nia bingung melihat ekspresi lembut itu.

"Saya tahu, pasti banyak hal di pikiran kamu. Tentang semua yang terjadi. Kamu pasti nggak berharap semua ini terjadi pada kamu," ucap Om Arhan. Mata Nia sedikit terangkat, tapi bibirnya masih terkatup rapat.

"Saya nggak minta kamu langsung nerima saya. Senyamannya kamu saja. Saya tahu semua itu butuh proses. Tapi kamu tahu kan, apa yang ibumu alami selama ini?"

Nia menunduk, menatap rerumputan hijau di bawah kakinya.

"Saya tahu... Mama terlalu banyak terluka. Saya juga ingin yang terbaik untuk Mama. Hanya saja... saya belum terbiasa dengan ini," ucap Nia pelan.

Tiba-tiba, tangan besar itu menyentuh kepalanya, mengelus rambutnya dengan lembut. Nia merasa sedikit lega.

"Saya tahu ini pasti berat buat kamu. Tapi saya yakin kamu bisa hadapi semua ini. Kalau nanti kamu sudah percaya sama saya, kamu boleh cerita apa pun yang kamu rasakan."

Ucapan itu membuat Nia menoleh, menatap wajah pria itu, lalu tersenyum kecil.

"Makasih, Om."

Dari kejauhan, Zana menatap kebersamaan putrinya dengan kekasihnya. Hatinya menghangat dan perlahan, senyuman merekah di wajahnya.

~~~~~

Langit kini sudah gelap. Semua orang berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.

"Wah, kedatangan kalian bikin rumah ini jadi ramai ya," ucap sang nenek, mengundang tawa.

"Nia? Kamu baik-baik saja?" tanya nenek, melihat Nia yang hanya terdiam.

"Aku baik, Nek," jawab Nia sambil tersenyum.

"Adek mau makan apa?" tanya mama yang hendak mengambilkan makanan.

"Mau ayam sama orek tempe," jawab Nia.

"Kenapa nggak pakai sayur?" tanya Om Arhan.

"Nggak suka, Nia nggak suka sayur, Om," jawab Nia jujur.

"Nia memang nggak pernah mau makan sayur, Mas. Udah dipaksa juga tetap nggak mau," timpal Zana.

"Kalau nggak makan sayur nanti tubuh kamu nggak seimbang. Sayur itu kan banyak manfaatnya buat tubuh, juga buat kulit wajah loh," ucap Om Arhan.

"Emang iya?" tanya Nia penasaran.

Om Arhan mengangguk. Nia pun tiba-tiba berkata bahwa ia juga mau makan sayur. Sang mama terkejut, begitu juga seluruh keluarga yang ada di ruang makan.

"Hebat kamu, Mas. Nia jadi mau makan sayur," ucap Zana, sementara Dani menatap Arhan dengan tatapan yang sulit diartikan.

Beberapa menit setelah makan bersama, karena hari sudah larut malam, Dani dan Tari memutuskan pulang. Tari berkata anaknya pasti khawatir karena hanya tinggal berdua dengan sang nenek di rumah.

"Sayang, Papa pulang ya. Kapan-kapan Papa ke sini lagi," ucap Dani sambil memeluk dan mencium kening serta pipi Nia.

"Hati-hati, Papa. Makasih udah ke sini," balas Nia sambil menyalami Dani dan Tari.

"Makasih ya, Mbak Zana, atas jamuannya," ucap Tari sambil berpelukan sebentar dengan Zana.

"Makasih juga ya, udah nyempetin datang," balas Zana.

Tak lama setelah itu, Arhan juga pamit pulang karena esok hari ia harus bekerja.

"Aku pulang ya, An," ucap Arhan kepada Zana.

"Om pulang dulu ya, Nia," katanya sambil mengelus rambut Nia.

"Yah, Om udah mau pulang aja..." ucap Nia dengan ekspresi kecewa. Arhan dan Zana tertawa kecil melihatnya.

"Kalian baru ketemu hari ini kok udah akrab aja sih?" goda Zana.

"Rahasia, ya kan, Om?" ucap Nia.

"Iya, rahasia. Gemes banget sih kamu. Kapan-kapan Om ke sini lagi. Nanti Om, Mama Zana, dan Nia kita bertiga jalan-jalan, gimana?"

"Om janji ya?"

"Janji."

Nia melambaikan tangan saat melihat sosok Arhan menjauh dari rumah mereka.

"Mama senang kalian cepat akrab. Mama kira kamu nggak akan nerima Om Arhan," ucap Zana sambil tersenyum.

Seketika senyum Nia perlahan luntur.

"Nia cuma kebawa suasana. Nia juga lagi berusaha nerima pelan-pelan," jawab Nia jujur sambil menatap mamanya.

"Om Arhan kebahagiaan untuk Mama. Mama harap kamu nggak egois."

"Aku tahu, Ma. Aku nggak egois... Aku mau ke kamar ya, Ma," ucap Nia sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

Di dalam kamar, Nia menatap langit-langit sambil memeluk bantalnya. Matanya menerawang, pikirannya kembali mengulang kejadian hari ini. Semua yang terjadi hari ini terlalu mengagetkan untuk nia.

Nia menghela nafas berat dan menutup matanya berlahan sembari mengatakan

"Mungkin... ini awal yang baru dari semua kebahagiaan yang akan datang,"

Terimakasih sudah membaca :>

mohon maaf jika banyak kekurangan karna saya manusia dan manusia tidak ada yang sempurna,boleh di berikan pendapat atas kekurangan yang ada di cerita ini.

See you readers

25 mei 2025

Shattered SoulCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang