6.Bye

39 13 3
                                        

Hal yang paling menyakitkan adalah berpisah dengan orang yang paling mengerti aku,bahkan disaat orang rumah tidak mengerti aku
••


2 Bulan Kemudian

Mama dan Papa resmi bercerai sejak satu bulan yang lalu. Nia sudah melakukan segala cara untuk memperbaiki semuanya, namun tetap gagal.
Hak asuh Nia jatuh ke tangan mamanya, karena sang papa pernah melakukan kekerasan, membuatnya tak layak dipercaya untuk mengasuh Nia.
Dua minggu lalu, Nia juga sudah menjalani perpisahan sekolah.

Sejak perceraian itu, Nia menjadi sangat murung. Tawa yang dulu sering terdengar kini hampir tak pernah terlihat. Teman-temannya ikut merasa sedih, tapi satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanyalah mencoba menghiburnya.

“Mereka jahat, kan, Wit, Ris?” tanya Nia, akhirnya membuka suara. Sejak tadi mereka bertiga duduk di taman belakang rumah Nia, dalam diam. Kedua sahabatnya langsung menoleh.

“Akhirnya lo ngomong,” ucap Wita dan Risa bersamaan.

“Jawab pertanyaan gw,” ucap Nia serius.

Wita dan Risa saling menatap. Mereka tak tahu harus menjawab apa. Risa akhirnya membuka suara.

“Yah… kalau dari sudut pandang kita sebagai anak, ya pasti kita mikir mereka jahat. Soalnya kita cuma pengen keluarga yang bahagia.”

Nia terdiam, memikirkan kata-kata Risa. Sementara Wita melirik Risa, heran dengan jawaban bijaknya.

“Gw kecewa, marah, sedih… tapi setelah gue pikir-pikir, kalau dilanjut terus malah makin hancur. Gw kasihan sama Mama.” Nia menunduk.

Risa menghela napas.

“Iya, gw ngerti. Di satu sisi, lo berhak berharap punya keluarga yang utuh. Tapi di sisi lain, orang tua lo juga terluka kalau hubungan itu terus dipaksain.”

“Huft… gw cuma berharap suatu saat nanti kita bisa bahagia. Tapi kalau ini takdirnya, ya mau gimana lagi.”

Wita menepuk pundak Nia.
“Yang sabar ya. Kita selalu ada buat lo.”

Nia mengangkat wajah, menatap Wita dan Risa. Lalu tersenyum tipis. Mereka pun saling berpelukan.

“Udah ya sedihnya. Lupakan dulu, walau gw tau itu nggak gampang.” ucap Risa.

“Dan nggak usah terlalu sedih juga. Kita ‘kan bakal SMA bareng. Kita temenin lo terus!” tambah Wita penuh semangat.

Nia dan Risa mengangguk.

Tiba-tiba terdengar suara dari arah dapur.

“Nia tidak akan SMA di sini,” ucap seseorang. Mereka semua menoleh. Itu suara Mama Nia.

Nia, Risa, dan Wita langsung menatap penuh bingung.

“Iya, benar. Nia nggak akan SMA di sini bersama kalian. Tante minta maaf.”

“A-apaan sih, Ma? Maksud Mama apa? Mama becanda, kan?” Nia menatap tak percaya.

“Mama serius.”

“Maaf, Tante… tapi kenapa? Nia mau sekolah SMA di mana?” tanya Wita sopan.

“Nia akan sekolah di tempat neneknya, di Bandung.”

Kalimat itu membuat mereka semua membelalakkan mata.

“MAA!!” Nia refleks berteriak kaget.

“Turunkan nada bicaramu, Nia!” titah mama dengan suara agak tinggi.

“Ma, kenapa? Jauh banget dari Jakarta ke Bandung. Nia nggak mau sekolah di sana.” lirih Nia, hampir menangis.

“Kamu bukan cuma sekolah di sana, kamu juga bakal tinggal di sana. Sama nenek.”

Deg.

Nia merasa seperti kehilangan segalanya. Di sini, dia masih punya sahabat-sahabatnya. Tapi sekarang, Mamanya ingin menjauhkan dia dari orang-orang yang paling mengerti dirinya.

Air mata Nia jatuh. Begitu pula dengan Risa dan Wita.

“Kenapa, Tante? Nia di sini baik-baik aja kok,” ucap Wita sambil memeluk Nia.

“Iya, Tante. Jangan pindahin Nia ke Bandung,” mohon Risa.

Mama Nia menutup mata, menahan emosi.
“Karena pekerjaan Tante pindah ke Bandung. Jadi Nia harus ikut dan sekolah di sana.”

“Gak apa-apa Ma, Nia di sini aja. Mama bisa tinggal di Bandung, Nia di sini bareng mereka. Mama juga udah biasa ninggalin Nia, kan?” suara Nia mulai sesenggukan.

“Maaf, Nia. Keputusan Mama sudah bulat, nggak bisa diganggu gugat.” ucap Mama, lalu pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih menangis.

“MAMA JAHAT!! Aku cuma punya Wita sama Risa yang selalu ada saat Mama dan Papa bahkan nggak pernah punya waktu buat aku! Bahkan buat denger keluh kesahku pun kalian nggak pernah ada!” teriak Nia, meluapkan semuanya.

~~~

Hari keberangkatan pun tiba.
Nia berjalan keluar rumah membawa koper, dengan wajah datar dan kepala tertunduk. Sejak kejadian di taman belakang, Nia jadi lebih pendiam. Kata-katanya pun hanya beberapa patah setiap harinya.

“Nia…” panggil suara yang sangat ia kenal.

Nia mendongak. Di hadapannya berdiri Wita dan Risa, dengan wajah sedih. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung memeluk mereka.

Mereka bertiga menangis. Perpisahan memang hal yang paling menyakitkan.

“Gw nggak mau lo pergi…” lirih Wita, memeluk erat.

“Tante Fani jahat… kenapa dia pisahin kita…” bisik Risa, masih memeluk.

Mama Nia keluar, membawa koper. Ia melihat mereka, dan rasa sedih itu tampak di matanya. Tapi hatinya sudah mantap.

Ia memasukkan koper ke bagasi.

“Nia,” panggil Mama. Pelukan itu terpaksa harus dilepas.

Nia ingin membenci Mamanya. Tapi bagaimana bisa? Itu ibunya sendiri. Ia sempat berpikir untuk kabur, tapi Wita dan Risa menyarankannya untuk tetap patuh.

“Nia, jangan lupain kita ya,” ucap Wita.

“Selalu kabarin kita, ya,” tambah Risa.

“Gw nggak akan lupain kalian. Nanti kalau udah sampai sana, gw  kabarin.” Nia menyeka air matanya.

Ia berjalan ke arah mobil, lalu menoleh sekali lagi.

“Jaga diri baik-baik. Kita tahu lo kuat, dan lo pasti bisa hadapin semuanya.” ucap Risa.

Nia mengangguk, tersenyum.

“Gue berangkat dulu.” pamitnya, lalu masuk ke dalam mobil.

“Pak, jalan,” titah Mama.

Dari jendela mobil, Nia melihat Wita dan Risa melambaikan tangan. Lalu mereka berpelukan sambil menangis.
Tak bisa ditahan, air mata Nia jatuh lagi.

Terimakasih sudah membaca :>

mohon maaf jika banyak kekurangan karna saya manusia dan manusia tidak ada yang sempurna,boleh di berikan pendapat atas kekurangan yang ada di cerita ini.

See you readers

12 juni 2024

Shattered SoulCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang