00.31🍁

15 0 0
                                        

Happy Reading🍁


Suasana kelas 12 IPA 1 terdengar riuh dan berisik, karena beberapa siswa yang masih berada di dalam kelas. Hanya tersisa dirinya-sebagai perempuan yang masih di kelas, sedangkan temannya yang lain sudah keluar beberapa menit lalu setelah bell istirahat berbunyi.

"Kok Senja lama, sih?" gumamnya menatap jam tangan miliknya.

Ini sudah lebih dari 5 menit, dan gadis itu belum juga kembali. Katanya ia hanya ingin mencuci tangannya sebentar, lalu ini? Ini sudah lebih dari kata sebentar. Ayolah, perutnya sudah berbunyi beberapa kali meminta untuk di isi dan dia sudah berjanji akan menunggunya di kelas.

Ghea mengeluarkan ponselnya lalu menekan tombol daya untuk menyalakan. Memainkan ponselnya sebentar lalu membuka aplikasi berwarna hijau, mengetikkan sebuah pesan pada gadis itu, Senja.

Senja

Kok lama sih? |
Woiii kampret gue tunggu njirr |

|Duluan aja, gue kebelet nih

Ghea berdecak kesal kala mendapati balasan dari gadis itu. "Kalo gitu mending ga usah nungguin 'kan,"

Setelahnya ia pun mulai beranjak bangun lalu melangkahkan kakinya keluar kelas, cacing-cacing di dalam perutnya sudah mendemo dari tadi. Tentu hal itu tak dapat lagi di biarkannya. Dengan langkah cepat Ghea berjalan menuju kantin untuk mengisi perutnya.

Sedangkan di sisi lain, Senja yang baru saja selesai melakukan panggilan alam. Berjalan menuju wastafell, tangannya terulur memutar kran lalu mulai mencuci tangannya, setelahnya gadis itu berjalan keluar kamar mandi. Tujuannya saat ini adalah kantin, yang di mana pasti Ghea---sahabatnya itu sedang menunggunya.

_00_

"Njirrr, ini enak banget. Kok bisa sih rasanya se-enak ini? Padahal kemarin gue beli juga rasanya nggak kayak gini deh." Ghea bergumam pelan, menikmati setiap suapan dengan khidmat.

Matanya berbinar, mulutnya yang asik mengunyah pun tak henti-hentinya berceloteh nikmat. Seolah baru saja mendapat harta karun paling berharga di dunia. Melupakan kekesalannya pada gadis yang--katanya masih harus berada di toilet itu. Ia sampai geleng-geleng kepala saking nikmatnya.

Di tengah-tengah suapan yang terasa seperti surga baginya, suara derit kursi bergesekkan dengan lantai menjadi pemecah ketenangan acara makannya. Ghea menganggkat kepalanya perlahan, menatap sang empu yang kini sudah duduk tenang di depannya lalu kembali terpokus pada makanannya. Hanya sekilas, tanpa bertanya atau bahkan menyapanya.

"Senja mana?" tanyanya dengan langsung. Menatap sekitar dengan pandangan menelisik. Mencari sosok yang mungkin berada di tengah keramaian kantin.

"Towilet," jawabnya dengan mulut penuh. Tanpa sedikitpun menoleh pada laki-laki itu. Mengabaikannya begitu saja seperti biasa.

Ia tak menanggapi, hanya duduk sambil menunggu sosok itu datang. Mempokuskan pandangannya pada layar ponsel dalam genggaman, sesekali mata itu melirik ke arah pintu masuk.

Akhirnya Ghea melahap habis makanannya, lalu beralih pada gelas yang berada di samping kirinya. Ia meneguk setengah air yang berada di dalamnya kemudian kembali meletakkannya perlahan.

Kini pandangannya beralih pada sosok di depannya itu, matanya sedikit memicing--menatapnya dalam.

"Jadi ... lo ga akan nyerah?" Ghea memecah keheningan diantaranya dengan suara yang bercampur dengan kebisingan di sekitar. Jelas itu bukan sekedar pertanyaan, ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan di baliknya.

Haikal mengangkat pandangannya perlahan, "nggak," katanya penuh keyakinan.

Ghea terdiam sejenak, membiarkan kata itu menggantung di udara. Dan untuk pertama kalinya, hatinya merasa sedikit lebih longgar. Lega kala apa yang di maksudnya, Haikal lebih dulu menangkap.

"Sembuh itu mungkin nggak ada, tapi, gue harap pulih yang dia butuhin beneran bisa."

_00_

Haikal menerobos dengan paksa pada kerumunan, membelah--masuk dengan cepat untuk melihat. Langkahnya terhenti kala matanya menangkap siluet seorang gadis yang begitu familiar berjalan menjauhi kerumunan. Langkahnya terus tertatih seolah menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Dengan cepat ia langsung mengejarnya, karena ia tau jika Senja sudah kehilangan kendalinya. Terlihat dari caranya berjalan yang tidak seperti biasanya.

"Senja, tunggu!" panggilnya namun tak di gubris oleh gadis itu.

Gadis itu terus berjalan menuju gerbang, di mana gerbang yang selalu di tutup rapat kini terbuka lebar. Entah apa yang di pikirkannya, hingga berjalan menuju keluar. Senja hampir keluar dari gerbang dengan langkah tak tenangnya. Namun, tiba-tiba suara dari arah belakang mengejutkan. Membuatnya spontan menoleh ke arah samping.

"SENJA AWASSS!!"

Brakk.

Langkahnya tiba-tiba terhenti, kala sebuah mobil melaju dengan cepat dari arah samping. Menabrak cepat gadis itu. Hingga akhirnya, kecelakaan pun terjadi. Tepat di depan matanya. Semuanya berjalan begitu cepat tak memberinya waktu untuk sekedar mencerna. Waktu seolah berhenti detik itu juga, lututnya lemas nyaris tumbang, tak dapat lagi menahan beban tubuhnya sendiri.

Haikal menatap nanar pada tubuh yang kini terpental jauh, menggesek kasar jalanan aspal itu hingga akhirnya terbentur keras.

"SENJA!" laki-laki itu berteriak histeris, kemudian mulai berlari ke arahnya.

Kakinya bersimpuh lalu mengangkat kepala gadis itu pada pahanya. Tangan besarnya mulai mengguncang pelan tubuh itu, "bertahan, ya?" katanya dengan bibir yang bergetar. Mata yang selalu terlihat sangat menjengkelkan di matanya itu, kini mulai memerah, menahan uap panas di pelupuk matanya.

Cairan kental mengalir deras dari pelipisnya, di serta dengan bau anyir yang begitu menyengat. Gadis itu menatap netra hazel itu cukup lama, mencari sesuatu yang mungkin tertutup begitu rapih di baliknya. Kepalanya menggeleng pelan, menahan rasa sakit yang berdenyut di kepalanya. Rasanya, begitu sangat sakit bahkan untuk menjawab satu kata pun sepertinya tak mampu.

Orang-orang mulai mengerumuni keduanya, ingin melihat secara langsung korban kecelakaan sekaligus menolong. Satu diantaranya mulai menelpon ambulans. Meminta agar datang sesegera mungkin.

Melihat begitu banyak darah yang keluar, membuat napasnya semakin terengah.

Senja memaksakan bibirnya untuk tersenyum lalu berkata dengan suara lirih. "Capek, mau pulang."

Bendungan uap panas itu akhirnya luruh, meluncur turun begitu cepat membasahi pipinya lalu menetes pada wajah di bawahnya. Ia menggeleng pelan, "jangan sekarang," katanya dengan suara serak. Menolak permintaan pulang yang diutarakan. Ia tahu, pulang yang dimaksud seperti apa.

Setelahnya gadis itu mulai menutup matanya perlahan, tak sanggup lagi menahan rasa nyeri yang terus menjalar di sekujur tubuhnya. Kesadarannya hilang, seolah di telan kegelapan yang tak berujung. Membiarkan rasa sakit menggerogoti tubuhnya perlahan.

Haikal malah membawanya ke dalam pelukannya. Berucap dengan suara bergetar, merengkuh tubuh rapuh itu seolah takut lenyap. "B-bangun, Ara kuat. Jangan pulang sekarang!"

Sedangkan dibalik pohon besar, seseorang tampak bersembunyi dibaliknya. Pakaian yang di gunakannya serba hitam, seolah menyatu dengan bayangan itu sendiri. Matanya masih terus menatap tajam ke arah kerumunan orang yang terlihat kacau. Seolah menanti pertunjukkan besar di baliknya. Sudut bibirnya terangkat naik, tersungging samar didalam bayangan.

"Goodbye,"

***
TBC

Wahhh makin panas nih:v

Sorry All baru bisa up lagi...

Vote and komennya aku tunggu yaaaaa

Dejavu Luka [ Luka Yang Tak Mungkin Aku Ingat Kembali ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang