Vote dulu sebelum baca!
Happy reading 🍁
●
●
●
Aksa mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, tanpa ada rasa takut sama sekali ia menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi jalannya. Langit terlihat sudah hampir menggelap dengan matahari yang sebentar lagi akan hilang di ganti malam.
Setelah acara kebut-kebutannya dijalan kini ia sudah sampai di rumahnya.
Ia memarkirkan motornya dihalaman lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Suasana rumah sangat sepi, karena orang tuanya memang jarang pulang lebih awal. Aksa berjalan menuju dapur untuk mengambil minum karena tenggorokannya terasa kering saat ini. Ia membuka kulkas lalu mengambil air dingin dan meneguknya hingga tersisa setengah.
Drettt...
Drettt...
Ponselnya berdering dari saku celananya itu. Ia menaruh kembali botol tersebut ke dalam kulkas lalu menutupnya.
Bunda ia calling...
Aksa menggeser ikon hijau lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, assalamualaikum Nda," ucapnya seraya berjalan.
"Waalaikumsalam, Sa. Bunda hari ini nggak pulang ada urusan di luar kota gapapa 'kan?" kata Selina memberitahu.
Langkahnya terhenti sesaat lalu menghembuskan nafasnya pelan. Sudut bibirnya terangkat sedikit dengan rasa getir yang merayap di dada. Tersenyum kecut kala mendengar kalimat itu.
"Iya Nda, gapapa Aksa udah biasa kok," jawab Aksa sedikit kecewa karena harus ditinggal sendirian seperti ini.
Ya, ia memang sudah biasa ditinggal tapi apakah tidak bisa sekali saja ia merasakan pelukan hangat dari keluarganya sendiri?
Hanya satu hari orang tuanya pulang lalu setelahnya mereka kembali pergi dengan urusan pekerjaan.
"Kok kamu ngomong nya gitu sih, Sa?" tanya Selina sedikit bingung mendengar kalimat yang di ucapkan oleh anaknya itu.
"Udah ya Aksa mau mandi terus istirahat. Assalamualaikum Nda,"
"Waalai-"
Tut.
Panggilan terputus dengan Aksa yang lebih dulu mematikannya. Laki-laki itu tak ingin mendengar lebih dari sekedar apa yang sudah di ucapkan. Karena ia tau pada akhirnya ia harus kembali di paksa untuk mengerti. Mengerti tentang apa yang tak seharusnya ia utarakan, mengerti tentang kesibukan keduanya, juga tentang harus bersikap dewasa kala dirinya lagi-lagi harus menahan semuanya, terus saja seperti itu.
Aksa menatap nanar ke arah layar ponselnya lalu kembali memasukkannya ke dalam saku celana.
Ia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Aksa membuka knop pintu lalu masuk dan menutupnya kembali.
Lelaki itu membanting kasar tubuhnya diatas ranjang. "Kapan mereka punya waktu buat gue?" monolog Aksa mulai merasakan sesak di dalam dadanya.
Ia melipat kedua tangannya sebagai bantalan. Menatap langit-langit kamarnya kosong, menerawang jauh ke dalam alam bawah sadarnya. Jauh bahkan sangat jauh! Hingga dering ponselnya berhasil membuyarkan lamunannya.
Drettt...
Drettt...
Cowok itu bangun lalu duduk dan mengambil ponselnya disaku celana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dejavu Luka [ Luka Yang Tak Mungkin Aku Ingat Kembali ]
RomansaJika cinta adalah luka, maka sastra adalah benang untuk menjahit tikamannya. Tak terlihat namun bisa menutupnya dengan rapat. "Coba baca buku baru tanpa harus takut akan ending akhirnya gimana,"__Haikal Narendra ig. @kimoch_mocc [DON'T PLAGIATE!!]...
![Dejavu Luka [ Luka Yang Tak Mungkin Aku Ingat Kembali ]](https://img.wattpad.com/cover/378547688-64-k257188.jpg)