00.09🍁

121 45 112
                                        

Follow+vote+komen>>

Happy reading 🍁


"Seseorang akan tetap meninggalkan 'mu jika sudah bertemu dengan seseorang yang lebih sempurna. Walaupun dia telah berjanji atau bahkan sumpah sekalipun."

_Author mocc

"Tangan lo kenapa di tutup kayak gitu?" tanya Aksa menatap lengan gadis itu yang tertutup jaket.

"Gapapa. Cuman ... dingin aja," jawab senja sedikit menarik lengan jaketnya.

Aksa memicingkan matanya curiga tidak biasanya gadis itu memakai jaket. Malam ini tak terasa dingin seperti hari-hari kemarin. Namun, entah mengapa melihatnya yang memakai jaket membuat perasaanya sedikit mengganjal. Tangannya terulur untuk memegang pergelangan tangan gadis itu. Namun, di saat yang bersamaan gadis itu juga langsung meringis. Seolah apa yang di pegangnya adalah luka yang masih basah.

Laki-laki itu semakin di buat penasaran oleh tindakannya sendiri, juga karena ringisan yang spontan keluar dari birai gadis itu.

Dengan penasaran cowok itu langsung menarik jaket yang dipakai Senja. Aksa terbelalak, matanya berpusat pada pergelangan tangan Senja yang banyak sekali garis-garis berwarna merah.

Senja menundukkan kepalanya tak berani menatap mata laki-laki itu. Ia tahu ini adalah kesalahan besar, juga jika Aksa yang mengetahuinya habislah sudah riwayatnya.

"Lo lakuin ini lagi?" tanya Aksa menunjuk luka sayat pada lengannya.

Gadis itu hanya diam. Mulutnya terasa kelu untuk menjawab, Senja tau Aksa pasti akan kembali marah padanya.

"Jawab!" sentaknya menuntut gadis itu untuk menjawab.

"Maaf." lirihnya semakin menunduk.

Aksa memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Senja. Pemikirannya terlalu dangkal sampai-sampai arti ketenangan adalah melukai dirinya sendiri.

"Kenapa lo nyakitin diri lo lagi?" ucapnya masih tak habis pikir.

"G-ue capek ...." ujarnya lirih.

Ia tak berani menatap Aksa yang sedang marah seperti ini. Matanya terpejam sesaat lalu mendongkak dengan buliran bening yang sudah luruh membasahi pipinya.

Aksa tertegun melihat Senja yang menangis itu. Ia langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan mengusap surai rambutnya lembut. Menopang dagunya di atas kepala gadis itu.

"Maafin gue, ya? Tapi kemaren gue beneran sibuk karena urusan," ucapnya memberi penjelasan.

Senja menggeleng pelan dalam pelukannya. "Gue yang egois," katanya dengan suara serak.

Aksa melepaskan pelukannya, menatap wajah gadis itu teduh--tangannya terulur mengusap air matanya.

"Nggak! Jangan ngomong gitu lagi,"

"Lo berharga bagi gue dan selamanya akan seperti itu," ucapnya dengan penuh kelembutan.

"Maaf," lagi, Senja hanya mampu mengeluarkan satu kata itu. Seolah tak ada lagi kata lain dalam benaknya saat ini.

"Sstttt ... Jangan lagi okey," Aksa menaruh jari telunjuknya di bibir gadis itu, sarat untuk tidak membuatnya merasa bersalah.

Lagi, Aksa kembali memeluk Senja berusaha menenangkan. Senja diam, tak mampu lagi mengeluarkan sepatah katapun. Pelukannya nyaman, membuat ia merasa kembali pulang. Mungkin ia salah karena kemarin berpikir bahwa Aksanya tak lagi peduli. Nyatanya laki-laki itu masih sama pedulinya, mengkhawatirkan tentang luka di tangannya juga tak ingin membuatnya merasa sendiri.

Dejavu Luka [ Luka Yang Tak Mungkin Aku Ingat Kembali ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang