Typo tandain aja ya!
Jangan lupa pencet 🌟
Happy reading 🍁
●
●
●
"Senja," panggil Ghea pada gadis itu.
"Hm," Senja menjawab dengan deheman. Kakinya terus melangkah--berjalan dengan tenang, mengabaikan Ghea yang sedari tadi terus mendumel.
"Tungguin napa, dari tadi ditinggal mulu," dumelnya berjalan sedikit lebih cepat, menyamakan langkahnya dengan Senja.
Senja berhenti lalu berbalik menatap Ghea. Ia merotasikan bola matanya malas, "lagian lo, kenapa berantem mulu sih?" tanyanya masih kesal.
"Gak tau, kesel aja gue liat mukanya," ucapnya malas kala kembali mengingat kejadian tadi.
"Alibi lo kayak yang beneran kesel aja," cibir Senja membuat sang empu kembali merengut kesal.
"Apaan sih? Jangan bilang kalo gue suka sama tu cowok?" tanyanya memastikan bahwa Senja tak pernah berpikir seperti itu.
Gadis itu terkekeh kecil, memang benar ia sempat berpikir seperti itu. "Kenapa nggak?"
Ghea terbelalak lalu kemudian bersuara. "NGGAK AKAN PERNAH GUE PUNYA PERASAAN SAMA DIA, TITIK!" tegasnya sedikit berteriak membuat pengunjung lain kompak menoleh ke arahnya.
Senja meringis pelan, dengan tangan yang menggaruk tengkuknya, merasa malu kala menjadi pusat perhatian seperti ini. Gadis itu tersenyum kikuk lalu meraih tangan Ghea dan membawanya ke arah pintu luar.
"Ini gue mau di bawa ke mana?" tanya Ghea sedikit kaget saat dirinya di seret paksa seperti ini.
Senja menghela napasnya lelah. "Pulang! gue capek,"
"Lah? Katanya tadi mau beli sesuatu, kok pulang sih?" Ghea menatap gadis itu dengan kernyitan halus di dahi.
"Gak mood. Ayo pulang," ajak Senja lagi.
"Ya udah, iya," akhirnya Ghea hanya bisa pasrah. Gadis itu mengiyakan ajakan Senja.
Keduanya pun kembali ke parkiran untuk pulang dengan tangan Ghea yang sudah di lepaskannya. Niat hati memang ingin membeli sesuatu yang dibutuhkannya tapi ... Moodnya berantakan sekarang jadi ia memilih untuk pulang saja.
_00_
Malam berlalu dan berganti menjadi pagi. Ia mengucek matanya pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terjaga ia bangun dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
Menatap sekitar lalu beralih pada jam yang berada di atas nakas. Terlihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Setelah beberapa saat mengumpulkan energinya gadis itu pun beranjak dan berjalan menuju kaca balkon.
Ia menyibak gorden tersebut hingga menampilkan cahaya yang menyilaukan matanya. Membiarkan mentari pagi menyapa kamarnya itu, serta aroma dedaunan yang basah oleh embun. Senja berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Beberapa menit berlalu gadis itu keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit menutupi tubuhnya dan jangan lupakan tentang rambutnya yang masih basah.
Ia berjalan menuju walk in closet memilih pakaian yang akan ia gunakan.
Senja keluar setelah memakai pakaiannya. Dengan kaos hitam oversize yang dipadukan dengan celana pendek berwarna putih. Ia berjalan keluar kamarnya.
Hari minggu seperti ini biasanya ia akan gunakan untuk mengurung dirinya di dalam kamar dengan beberapa camilan yang menemaninya untuk menonton. Oke, perlu kalian ketahui Senja termasuk dalam jajaran cegil pencinta drakor atau dracin garis besar. Menurutnya menonton drama dengan banyak cogan di dalamnya adalah kebahagian tanpa syarat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dejavu Luka [ Luka Yang Tak Mungkin Aku Ingat Kembali ]
RomanceJika cinta adalah luka, maka sastra adalah benang untuk menjahit tikamannya. Tak terlihat namun bisa menutupnya dengan rapat. "Coba baca buku baru tanpa harus takut akan ending akhirnya gimana,"__Haikal Narendra ig. @kimoch_mocc [DON'T PLAGIATE!!]...
![Dejavu Luka [ Luka Yang Tak Mungkin Aku Ingat Kembali ]](https://img.wattpad.com/cover/378547688-64-k257188.jpg)