13

840 108 8
                                        

🦋🦋🦋

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🦋🦋🦋

"Sakit Jen." Jisoo terisak, ia sudah berusaha untuk mengejan sekuat yang ia bisa, namun kepala bayi yang sempat mendesak keluar kembali masuk saat ia menarik napas lagi.

la meremas kedua tangan Jennie yang tengah memeluk tubuhnya dari belakang, wanita itu terus membisikkan kata semangat sembari terisak, tak tega melihat istrinya yang terus kesakitan sejak kemarin.

Jisoo mengangkat kepala mendekati dadanya dan kembali mengejan, tubuhnya menggeliat bahkan hampir terlepas dari pelukan Jennie jika saja wanita yang berhasil membuatnya seperti ini tidak menahannya dengan kuat.

"T-tidak...tidak mau. Jichu sakitt semuanya." Jisoo menggeleng, semua tubuhnya terasa sakit dan perutnya sangat mulas. Namun sejak kemarin tak kunjung mereda, bahkan rasa sakitnya semakin parah, Jisoo tak kuat lagi menahannya.

Seorang perawat membantu mengusap perutnya dengan kasar, Jennie dapat melihat kekhawatiran dalam sorot mata dokter dan semua orang di dalam ruangan.

"Ayo, Nona. Mengejan seperti saat anda ingin buang air besar." Dokter wanita, seumuran Ibunya dengan sangat sabar membimbing Jisoo. Memaklumi kondisi gadis itu, ia sempat mengutuk keluarga Jisoo sebab sangat tega membuat gadis dengan kondisi yang tidak memungkinkan hamil seperti ini.

"Hikkss....hiksss...s-sakitth...euughhhh..." Urat lehernya terlihat, menandakan perjuangan Jisoo yang sangat keras. Jennie kembali terisak, bahkan tangisnya lebih parah dibandingkan Jisoo sendiri, ia terus memeluk tubuh Jisoo yang semakin banjir oleh keringat, sangat erat.

"J-jennie, di sini, Chuu." Ia sembunyikan wajah Jisoo pada lehernya, mengelus pipi Jisoo dengan sangat lembut.

"Jen-jenniiiihhhh... s-sakiith."

"Bertahan sayang...hikss...hikss...sedikit lagi dedeknya akan lahir." Jennie sungguh khawatir, wajah istrinya semakin memucat. Jennie tak pernah melihat Jisoo seperti ini sebelumnya.

"Eughhh...k-kapan dedeknya...euughhh...
k-keluarrhh." Jisoo ambruk, melepaskan beban tubuhnya pada Jennie seutuhnya, gadis kecil itu sudah tak mampu menahan rasa sakit yang teramat.

"Sebentar lagi, sedikit lagi, Jichuya. Ayo semangat sayang." Dokter itu tersenyum dengan lembut.

"Euughhhh...d-dokterhh bohongg...hikss...hikksss." Jisoo meremas kuat tubuh Jennie, tak peduli jika itu akan menyakiti istrinya. Rasanya sangat tidak sebanding dengan apa yang tengah ia rasakan sekarang.

Di luar ruangan keluarga keduanya berkumpul, tak ada yang membiarkan tangan mereka menganggur. Semuanya menautkan jemari dan meletakkan di depan dada, meminta pada Tuhan untuk membiarkan Jisoo tetap kuat saat dalam proses melahirkan bayinya. Tiffany, Taeyeon, Lisa, Rose dan Jiwon terus memohon dengan air mata tak berhenti mengalir, membanjiri wajah serta leher mereka.

FAVORITE WEAKNESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang