14

943 108 14
                                        

Hari itu langit Italia biru sempurna

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Hari itu langit Italia biru sempurna. Udara masih menyisakan sisa musim semi, sejuk dan harum bunga-bunga. Di kota kecil bernama Bellagio, di pinggir Danau Como, dua orang gadis berjalan bergandengan tangan di jalanan berbatu yang sunyi, seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Jennie melangkah pelan, menyesuaikan iramanya dengan langkah kecil Jisoo yang sesekali tersandung ringan karena terlalu sibuk menatap burung-burung di langit.

Setelah banyak sekali diskusi dari dua pihak keluarga, mereka memutuskan untuk membiarkan Jennie membawa Jisoo pergi bulan madu.

"Astaga... Jichu, lihat ke depan, nanti jatuh," ujar Jennie sambil menahan senyum.

Jisoo mengerucutkan bibirnya dan memeluk lengan Jennie. "Tapi burungnya bagus banget... kayak yang kita lihat di film kemarin..."

Jennie membelai rambut istrinya yang sedikit kusut diterpa angin. "Iya, iya. Tapi sekarang burungnya minggir dulu, karena aku nggak mau kamu jatuh pas bulan madu kita."

Jisoo tersenyum manis. "Oke, kalau gitu... aku lihat kamu aja."

Hati Jennie langsung meleleh. Setiap kata dari Jisoo selalu polos, selalu tulus. Dan itulah yang membuat Jennie jatuh cinta berkali-kali setiap hari.

Jennie sudah menyewa villa khusus untuk mereka berdua—villa putih kecil yang menghadap langsung ke danau, dengan jendela besar dan ayunan rotan di balkon.
Saat mereka tiba, Jennie langsung melepas sepatunya dan menarik Jisoo masuk. "Ayo, duduk dulu. Aku mau buat cokelat panas buat kamu."

Jisoo duduk di sofa empuk, menggoyang-goyangkan kaki kecilnya. Ia senang berada di tempat asing tapi aman dan asal ada Jennie, semuanya terasa nyaman.

Beberapa menit kemudian, Jennie kembali membawa dua mug cokelat panas dan selimut tipis.

Ia menyelimuti Jisoo dulu sebelum duduk di sebelahnya.

"Capek nggak?" tanya Jennie sambil meniup cokelatnya.

Jisoo menggeleng, lalu tiba-tiba bersandar ke bahu Jennie. "Tapi aku senang banget... kita beneran menikah ya, Jen? Sama seperti Mommy-Daddy dan Mama-Papa."

Jennie mengangguk sambil memejamkan mata. "Beneran. Sekarang kamu istriku. Dan aku janji akan manjain kamu tiap hari. Mau itu di hari cerah atau hari penuh badai."

Jisoo tertawa kecil. "Aku suka dimanjain. Tapi kamu juga harus dimanja!"

Jennie menoleh. "Oh ya? Kamu mau manjain aku gimana?"

Jisoo berpikir keras. "Aku nyanyiin kamu sebelum tidur?"

Jennie tertawa bahagia, matanya berkaca-kaca. "Itu janji ya. Malam ini nyanyiin aku."

"Bintang kecil, ya?" Ucapnya polos, memiringkan wajahnya pada Jennie yanh sudah setengah mati kegemesan.

Setelah makan malam sederhana buatan Jennie, karena Jisoo selalu suka makanan buatan tangan Jennie. Mereka duduk di balkon villa. Angin danau berhembus pelan. Lampu-lampu kota kecil memantul di air seperti kunang-kunang.
Jisoo memeluk guling kecil yang dibawanya dari rumah. Ia sedikit gugup.

FAVORITE WEAKNESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang