15

234 8 2
                                        

"sial, sejak kecil ku rawat sekarang mereka malah ngga mau nurut!" kesal mix menghamburkan barang di kamarnya. "tay tunggu pembalasanku"
















Mix tiba di depan mansion mewah tempat Lune dan anak-anaknya tinggal. Dengan langkah lebar, ia memasuki rumah itu dan mendapati Lune sedang asyik berbincang dengan Phuwin dan Fourth di ruang tengah. Emosi Mix langsung tersulut.

"Siapa yang mengizinkan mereka masuk ke sini?!" bentak Mix dengan suara menggelegar, membuat semua orang terkejut.

Lune, yang tidak terima dengan bentakan itu, langsung berdiri dan menantang Mix. "Dengar ya, Mix, bukan kamu pemilik mansion ini. Jadi, tidak ada salahnya jika aku ingin mereka berada di sini!" tegas Lune dengan nada yang sama tingginya.

"Mansion ini milik Earth, dan Earth selalu setuju dengan keputusanku. Jadi, aku ingin mereka keluar dari sini sekarang juga!" Mix tidak mau kalah, suaranya penuh dengan amarah.

"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" balas Lune dengan tatapan tajam.

Tanpa menunggu lebih lama, Mix yang sudah dikuasai emosi langsung menarik tangan Phuwin dengan kasar dan menyeretnya menuju pintu keluar. Phuwin meronta, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Mix. Melihat situasi semakin memanas, Gemini, anak Lune yang paling kecil, berlari keluar dari kamarnya.

"Mom!" teriak Gemini dengan suara nyaring, air mata mulai membasahi pipinya. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi ia tahu ibunya sedang dalam masalah.
















Fourth keluar dari kamar dengan perlahan, tangannya memegangi dinding untuk menopang tubuhnya. Setiap langkah terasa berat, kakinya yang patah masih dibalut gips. Ia mencoba melatihnya sedikit demi sedikit, berharap bisa segera pulih.

"Huh, kapan kaki ini sembuh ya? Aku bahkan tidak merasa aman di sini," gumam Fourth dengan nada frustrasi.

Tiba-tiba, Mix muncul dari belakang, berdiri dengan kedua tangan di saku celana. "Yasudah, apa susahnya pergi? Kalau memang tidak betah, pergi saja," ujarnya dengan nada datar.

Fourth menoleh, menatap Mix dengan tatapan serius. "Aku akan pergi, tentu saja. Aku akan pergi dengan membawa temanku," jawabnya dengan tekad yang kuat.

Mix tersenyum sinis, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Kau yakin dia mau pergi dari sini? Tempat ini sudah seperti rumah baginya," tanya Mix, mencoba meremehkan tekad Fourth.

Fourth mengerutkan kening, merasa tersinggung dengan ucapan Mix. "Apa maksudmu? Kami tidak sesusah itu sampai harus terus menumpang di sini. Kami punya harga diri," balasnya dengan nada meninggi.

Mix mengangkat bahu, seolah tidak peduli dengan perkataan Fourth. "Lalu kenapa kamu masih di sini? Kenapa belum pergi dari tadi?" tanyanya, menusuk tepat ke inti permasalahan.

Fourth menghela napas, mencoba meredakan emosinya. "Di mana temanku? Aku akan bawa dia pulang hari ini juga. Kami akan pergi dari sini secepatnya," tegasnya.

Mix menunjuk sebuah ruangan yang tampak biasa saja di ujung lorong. "Jemput saja di ruangan itu. Terakhir kali aku lihat, dia ada di sana," ujarnya, lalu berbalik dan pergi meninggalkan Fourth yang masih berdiri dengan tatapan penuh tekad.
















di sisi lain
phuwin mencoba mengambil sesuatu di atas rak, ia berjinjit untuk menambah tingginya "p'pond tolongin.. " minta phuwin

"berusahalah dulu" ujar pond

phuwin gagal menjaga keseimbangannya dan refleks menarik barang diatas lemari yang tentu saja tak menahannya dan malah akan ikut jatuh menimpanya.

untungnya sebelum itu semua terjadi pond berhasil menarik phuwin ke dekapannya. Sialnya tepat saat itu pula fourth membuka pintu

"phuwin!" panggil fourth menatap mereka berdua cukup lama sebelum ia pergi

"upss.." ujar mix yang muncul setelah fourth pergi

phuwin melepaskan dirinya dari pond dan segera mengejar fourth

Fourth berbalik, tatapannya dingin. "Aku tidak percaya ini, Phuwin. Apa yang aku lihat tadi?"

Phuwin mendekat, mencoba meraih tangannya. "Fourth, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa jelaskan."

"Jelaskan apa? Bahwa kau dan Pond sedang berpelukan? Aku tidak bodoh, Phuwin." Nada bicaranya meninggi. "Aku pergi."

Fourth berbalik dan mulai melangkah pergi, tetapi Phuwin dengan cepat menghalangi jalannya. "Jangan pergi, Fourth. Kumohon, dengarkan aku dulu."

"Untuk apa? Agar kau bisa berbohong padaku lagi? Cukup, Phuwin. Aku muak." Fourth mendorong Phuwin dengan kasar dan terus berjalan menuju pintu.

"Fourth, tunggu! Setidaknya, tetaplah di sini malam ini. Besok pagi, setelah kau tenang, kita bisa bicara baik-baik." Phuwin memohon, air mata mulai menggenang di matanya.

Fourth berhenti sejenak, tampak ragu. "Kenapa aku harus tinggal? Apa yang membuatku yakin kau tidak akan melakukan hal yang sama lagi?"

"Karena aku menyayangimu , Fourth. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku janji, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi kumohon, jangan pergi sekarang." Phuwin meraih tangan Fourth dan menggenggamnya erat.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, ia menghela napas panjang. "Baiklah. Aku akan tinggal malam ini. Tapi jangan harap aku akan melupakan ini begitu saja."













Sudah seminggu sejak Winny terakhir datang. satang mencoba membaca buku-buku lama yang ia temukan di lemari, menonton acara televisi yang membosankan, bahkan mencoba merapikan setiap sudut rumah, tetapi semua terasa hampa.

"Sampai kapan gue harus gini?" gumamnya pada diri sendiri, menatap pantulan wajahnya di jendela.

Malam itu, setelah Winny datang dan pergi dengan dalih ada urusan penting, Satang memutuskan. Ia harus tahu kebenarannya. Dengan hati-hati, ia memeriksa setiap pintu dan jendela. Jendela-jendela terkunci rapat dari luar, dan pintu utama memiliki kunci ganda yang tidak ia miliki. Ia mencoba pintu belakang, yang mengarah ke halaman kecil. Terkunci juga. Frustrasi mulai mendidih.

Ia mencari-cari kunci, di bawah bantal, di laci meja, di balik pot bunga di teras. Nihil. Winny benar-benar memastikan ia tidak bisa ke mana-mana. Ia mencoba mendorong jendela dengan sekuat tenaga, tapi kaca itu terlalu tebal, dan bingkainya terlalu kokoh. Keringat membasahi pelipisnya.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil kembali terdengar. Satang membeku. Itu pasti Winny. Jantungnya berdebar kencang. Ia tidak punya waktu untuk bersembunyi atau berpura-pura.

Pintu utama terbuka. Winny masuk dengan ekspresi lelah, tapi matanya langsung menangkap raut panik di wajah Satang dan jendela yang sedikit bergeser karena usahanya.

"lo Ngapain, Satang?" tanya Winny, suaranya dingin

Satang menelan ludah. "m...gue cuma mau lihat-lihat keluar," jawabnya, mencoba terdengar tenang, tapi suaranya bergetar.

Winny melangkah mendekat, tatapannya tajam. "lo nyoba kabur?"

Satang mundur. " gue cuma mau tahu apa yang terjadi! Kenapa gue nggak boleh keluar? Kenapa gue nggak boleh hubungi siapa-siapa?!"

Winny menghela napas panjang, bukan napas lelah, melainkan napas kesal. "udah gue bilang, ini demi keamanan lo"

"lindungin gue atau menjarain gue?!" balas Satang, air mata mulai mengalir. "lo bohong, kan? Teman-teman nggak baik-baik aja, kan? lo nyembunyiin sesuatu!"

winny mendekat, meraih tangan Satang, dan menariknya kasar.

"Jangan mempersulit keadaan, Satang. lo aman di sini. Itu yang terpenting," ucap Winny, suaranya kembali melembut, namun genggamannya pada tangan Satang terasa seperti rantai yang tak terlihat. Satang tahu, ia tidak akan bisa pergi dari sini. Setidaknya, belum.

ours mafiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang