11

340 16 3
                                        

Tiga bulan telah berlalu.

Acel membuka matanya perlahan—bukan karena mimpi buruk, tapi karena sinar matahari pagi menyusup dari jendela besar di samping ranjang. Tirai putih gading bergoyang pelan. Udara segar, aroma tanah basah, dan embusan angin sejuk mengisi ruang.

Tempat tidur ini empuk. Seprei bersih. Tidak ada suara klik pintu otomatis. Tidak ada pelukan paksa. Tidak ada malam-malam panjang dengan suara suntikan.

Ia tidak lagi berada di apartemen itu.
Ia tinggal di rumah Alfa.

Sebuah rumah tersembunyi di dataran tinggi. Ada taman lavender di belakang. Pagar tinggi, tapi bukan untuk mengurung—untuk menjaga.

---

07.30 – Dapur

Acel duduk di kursi panjang sambil memutar sendok dalam semangkuk sup ayam. Rambutnya kini sedikit lebih panjang dari biasanya, karena hormon. Dagu mulai kehilangan tajamnya. Payudara kecil mulai terlihat di balik kaus longgar. Tapi dia masih Acel. Seorang laki-laki yang merasa dikhianati tubuhnya sendiri.

"Kalau gak dimakan, supnya keburu dingin."

Suara itu berat dan datar, datang dari belakang.

Alfa.

Dengan kaos polos, celana jogger, dan sandal rumah. Seperti laki-laki biasa. Padahal tidak.

Alfa adalah orang kaya. Tapi rumahnya tak memperlihatkan itu. Tak ada marmer mahal. Tak ada barang mencolok. Hanya lukisan kecil dari seniman jalanan, dan rak-rak penuh buku. Dan foto-foto kucing yang sudah mati, digantung seadanya.

Alfa hidup tenang. Dan ia memilih menyelamatkan Acel... diam-diam, sejak lama.

---

" Elu masih kepikiran dia?"

Acel menggeleng pelan. "Enggak. Tapi aku... masih ngerasa jijik sama badan aku sendiri."

Alfa duduk di seberang. Tak banyak bicara. Hanya menatap—tanpa menghakimi.

"Payudara yang gak jadi ini... hormon yang dia suntik. Aku gak pernah minta. Aku bahkan gak pernah bilang aku pengen jadi perempuan. Tapi sekarang orang-orang ngira aku trans... atau banci... atau... entah."

Suara Acel parau. “Aku cuma pengen balik. Tapi gak tahu balik ke mana.”

Alfa mengambil napas. “Balik ke siapa lo sebelum semua itu? Atau balik ke siapa lo yang pengen jadi sekarang?”

Acel menunduk. Lalu perlahan berkata, "Aku cuma pengen punya kendali lagi, mas. Aku gak mau tubuhku ditentukan orang lain."

Alfa menatapnya. Lalu menjawab pelan, "Berarti mulai sekarang, lo yang nentuin karena setiap orang adalah nahkoda di hidup nya masing masing."

---

Sore Hari – Ruang Studio

Di salah satu ruangan vila, Alfa membangun studio kecil untuk Acel.
Bukan untuk mewah-mewahan, tapi untuk terapi.

Ada piano tua. Ada rak buku psikologi. Ada alat lukis, kanvas kosong, dan jendela besar menghadap pegunungan.

Hari itu, Acel mulai menggambar. Tangannya gemetar. Tapi perlahan muncul sosok laki-laki berdiri di tepi tebing. Tidak melompat. Hanya menatap langit.

"Dia berdiri," ucap Alfa dari belakang.
“Berarti dia belum nyerah.”

---

Malam – Balkon

Acel berselimut, duduk di kursi rotan. Alfa duduk di sebelahnya, memegang teh hangat.

"Aku kadang mikir, mas... kalau kamu gak lewat parkiran karena kucing kamu kawin sama kucing jalanan dan kamu kejatuhan surat ku mungkin aku gak akan selamat."

Alfa menoleh. "Waktu gw liat tulisan lo di surat itu, gw langsung tahu itu Acel yang selama ini gw cari. Soalnya gw pernah liat waktu lo ngasih note kecil di kulkas buat keynan temen lo yang liar itu"

Acel tersenyum kecil. “Gak nyangka kamu inget.”

"Sebenernya waktu itu... Gw nyari lo. Setelah malam kita ketemu. Bukan karena lo 'ngejual diri' gw ngerasa di dengar saat sama lo, waktu itu gw dah tanya ke Keynan dimana lo sebenernya tapi dia jawab dia gak tau. Seminggu kemudian gw datengin dia lagi tapi Kenyan tetep jawab gak tau sambil panik takut lo kenapa napa.”

"Aku gak nyangka Key bisa sepeduli itu sama aku, padahal kita baru ketemu. Terus sekarang kabar dia gimana mas? "

"Dia baik, sekarang dia sama Alex mau nikah di Jerman mereka juga mau adopsi bayi katanya"

"Setaun itu lama ya mas? "

"Kalo menurut gw nggak lama"

Acel menatap kosong ke depan.

"Aku bahkan gak tahu sekarang aku siapa... suaraku makin tipis, dadaku tumbuh, tapi aku tetap laki-laki, mas. Di kepala, di hati, aku bukan perempuan."

Alfa mengangguk. "Terus kenapa harus ikutin apa kata orang? Tubuh bisa berubah. Tapi kamu yang punya pikiran. Kamu yang bisa milih."

---

Lalu malam itu...

Acel berkata pelan, "mas... boleh peluk gak?"

Tanpa jawaban, Alfa membuka selimut. Acel bersandar. Pelan. Lengan Alfa melingkar... tapi bukan mengikat. Hanya menjaga.

"Pelan-pelan ya, mas..." "Sembuhin aku... pelan-pelan aja..."

"Nggak buru-buru, Cel," bisik Alfa. "Di sini gak ada yang buru-buru."

Dan malam itu—untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lalu—Acel tidur tanpa rasa takut akan tubuhnya sendiri.

DijualTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang