Tiga Hari Setelah Percobaan Bunuh Diri
Jam di dinding menunjukkan pukul 14.00. Arif baru saja keluar apartemen, katanya ingin "belanja bahan makanan." Biasanya ia tak pernah meninggalkan Acel sendirian, tapi hari ini berbeda. Entah karena ia merasa Acel sudah "jinak", atau memang ada sesuatu yang lebih penting.
Begitu suara pintu tertutup dan terdengar suara klik terkunci otomatis, Acel langsung bangkit. Tubuhnya masih lemas, tapi pikirannya tak mau diam. Di balik rasa trauma yang menghantui, ada satu hal yang kini mulai tumbuh dalam dirinya:
Keinginan untuk tetap menjalani hidup yang seperti dulu.
Tapi bukan di sini. Bukan bersama Arif Acel tarik kata katanya dulu kalau Arif laki laki baik.
Dengan sisa tenaganya, Acel berkeliling apartemen. Setiap sudut ia telusuri. Mencari—apapun. Ponsel? Tak ada. Laptop? Sudah lama raib. Jendela? Terkunci rapat. Balkon? Tinggi sekali, lantai 15. Bunuh diri lagi? Tidak. Ia tak ingin mati seperti itu lagi.
Di salah satu laci kamar tidur, ia menemukan sesuatu yang membuat tubuhnya menggigil.
Sebuah buku catatan.
Kulitnya lusuh, hitam, dan bertuliskan huruf timbul: "MY PRECIOUS ONES"
Dengan tangan gemetar, Acel membuka halaman pertama.
Halaman 1
Nama: Rafa
Status: Gagal bertahan – terlalu emosional.
Poin plus: Matanya indah saat menangis.
Tanggal: 20 Maret 2010
Halaman 2
Nama: Varel
Status: Sempat kabur – tertangkap lagi.
Poin plus: Bau tubuh alami, bikin candu.
Tanggal: 11 Juli 2011
Halaman 3
Nama: Lintang
Status: Terlalu cerdas – membosankan.
Poin plus: Sering mengucap 'maaf' saat takut.
Tanggal: 2 Desember 2017
...dan banyak lagi. Semua dengan gaya tulisan yang rapi, sistematis, dan... mengerikan.
Lalu...
Halaman terakhir.
Nama: Acel
Status: Masih bertahan
Poin plus: Terlalu polos untuk menyadari bahaya.
Tanggal: 29 Juni 2020
Air mata Acel menetes. Tangannya lemas. Dunia seakan berputar.
Dia bukan yang pertama.
Dan jika dia tak bertindak... dia akan jadi yang berikutnya.
Saat Arif Pulang
Arif masuk seperti biasa, membawa kantong belanja. Suaranya ceria, bahkan setiap hari dia mengunjungi Acel, bukan memgunjungi dia sudah tinggal disini bersama Acel beberapa hari ini dan itu mengerikan.
"Aku beli stroberi kesukaanmu, sayang. Dan—eh, kamu kenapa duduk di lantai?"
Acel buru-buru menyembunyikan buku itu di balik sofa. Ia menoleh, memaksakan senyum yang tak sampai ke mata.
"Gak apa-apa mas... cuma lemas aja."
Arif menatapnya sebentar, lalu berjalan ke dapur. "Nanti aku buatin jus. Setelah itu kita nonton film, ya? Kayak kemarin kemarin waktu kamu masih... nurut."
Acel mengangguk pelan.
Tapi dalam pikirannya, rencana mulai tersusun. Ia tahu harus cepat. Harus kabur, malam ini juga, atau dia akan berakhir seperti Rafa, Farel, Lintang dan lainnya.
Malamnya
Acel berpura-pura tertidur lebih dulu.
Arif mematikan lampu, lalu ikut rebah di sampingnya. Tangannya kembali melingkar seperti borgol daging.
Napasnya perlahan. Tenang. Ia tertidur.
Acel membuka mata.
Detik ini... adalah satu-satunya peluang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dijual
FantasiAwalnya aku di jual oleh mantan pacarku, sampai aku tak bisa keluar lagi dari lingkaran hitam ini walau aku sudah tidak di jual. Aku Menjual Diriku
