Dua Bulan Kemudian – Bandara Internasional
Langit mendung. Hujan ringan menyapu kaca jendela ruang tunggu.
Acel berdiri sambil memegang boarding pass. Di sebelahnya, Alfa menatap jam tangan.
"Masih mau lanjut?" tanya Alfa.
Acel mengangguk. "Aku pengen bilang makasih langsung."
Penerbangan menuju Frankfurt—tempat Keynan dan Alex tinggal. Di kota kecil dekat tepi sungai, mereka memulai hidup baru.
Acel menggenggam erat paspornya. Foto di dalamnya masih mencerminkan wajah lamanya, tapi sekarang... ia sudah sedikit berbeda. Lebih lembut, tapi juga lebih tegak.
---
Tiga Hari di Jerman – Rumah Kaca di Tepi Danau
Rumah Keynan penuh tanaman. Bau mint dan lavender menyambut sejak di depan pintu. Alex membukakan pintu, dengan senyum lebar.
"Udah dateng aja kalian. Masuk, masuk! Key lagi masak kari Thailand. Dia stress kamu mau datang katanya," ucap Alex sambil tertawa.
Dari dapur, suara Keynan terdengar:
"Bangsat! Babe jangan buka aib gue dong!"
Acel tertawa pelan. Sudah lama dia tidak merasa seringan ini.
Tak lama kemudian, Keynan muncul. Wajahnya masih sama—mata tajam, rambut agak panjang, dan baju serta hot pants dan kaus kebesaran. Tapi kini ada cahaya baru di sorot matanya. Bahagia yang tulus.
Mereka saling menatap.
Keynan membuka mulut, lalu nutup lagi. Tangannya tremor.
Acel yang maju duluan.
Mereka berpelukan. Lama. Tanpa kata-kata.
---
Malam Hari – Balkon Rumah Kaca
Di luar, lampu-lampu kota kecil memantul di danau. Keynan duduk di kursi panjang, sementara Acel duduk bersila di lantai, memegang secangkir teh.
"Gw sempet takut lo udah gak selamat, Cel."
Acel menatap kosong ke luar. "Waktu itu... Gw ngerasa aman karena kehadiran mas Arif terbukti hampir satu tahun gw di suntik hormon dan ga di kasih akses apapu gw ga berontak key. Tapi kejenuhan bunuh gw, buat gw gila dan sadar kalau sebenernya itu bukan seharusnya"
Keynan menatap Acel. "Waktu itu... Gw panik karena apart lo ga ke kunci tapi lo tinggalin sticky note di pintu. Gw diem bukan karena gw gak peduli. Gw diem karena gw tau lo butuh waktu. Dan setelah 1 minggu apart lo terbengkalai gw mulai panik cel, gw sedih banget waktu itu."
Acel menunduk, suaranya lirih. "Tapi aku bener-bener rusak, Key."
"Bullshit." Keynan langsung menyahut. "Lo bukan rusak. Lo disakiti. Beda."
Acel mengangkat kepala, matanya mulai berkaca. "Tapi tubuhku—"
"Cel." Keynan mendekat, menatap tajam. "Tubuh lo bukan salah lo. Tapi lo bisa milih mau terus disetir trauma, atau mulai bikin makna baru dari tubuh lo sekarang."
Acel diam.
Lalu pelan berkata, "Makasih ya, Key. Karena udah diem waktu itu. Karena udah jagain aku... dengan caramu."
"Oh ya kenapa lo bisa deket sama mas Alex? "
"Ya karena gw nyariin lo, dia bantu nyariin lo juga sama mas Alfa juga sih waktu itu terus gw deket sama mas Alex eh ternyata dia serius sama gw"
"Cinlok? "
"Ya gitu lah"
---
Keesokan Harinya – Di Depan Rumah
Alfa sudah menunggu di mobil.
Sebelum masuk, Acel kembali menatap Keynan. Mereka berpelukan sekali lagi.
"Oh iya," kata Keynan tiba-tiba, "gw kasih lo ini."
Dia menyodorkan sticky note warna kuning. Mirip yang dulu pernah ditempel Acel di kulkas rumah lama mereka.
Tulisan tangannya masih khas:
"Lo bukan siapa kata orang. Lo adalah semua hal yang lo perjuangin tiap hari." – Keynan
Acel tertawa kecil. "Lo sentimental juga ya ternyata."
"Anjing lo."
Mereka tertawa bareng.
"Langgeng terus sama hubungannya dengan mas Alex ya jangan nakal lagi hahahahah nanti kalau kalian nikah aku sempatin kesini"
Lalu Acel masuk ke mobil. Perjalanan baru menantinya.
---
Di Pesawat – Kembali ke Indonesia
Acel membuka buku sketsanya. Menggambar. Goresan cepat, tapi lembut.
Kali ini, sosok yang digambarnya bukan lagi lelaki di tebing. Tapi dua orang berdiri berdampingan. Satunya memegang catatan kecil. Satunya lagi tersenyum.
Dan di bagian bawah, tertulis:
"Terima kasih, karena gak nyerah waktu aku gak bisa percaya siapa pun."
Akhirnya don juga book ini hahaha setelah 1 tahun, silahkan vote dan comment jika berkenan kenalan sama gw juga boleh soalnya jomblo nih bray
KAMU SEDANG MEMBACA
Dijual
FantasyAwalnya aku di jual oleh mantan pacarku, sampai aku tak bisa keluar lagi dari lingkaran hitam ini walau aku sudah tidak di jual. Aku Menjual Diriku
