Mungkin banyak orang tidak menyadari bahwa perceraian orang tua tidak selalu membuat seorang anak tenggelam dalam kesedihan selamanya. Namun, luka yang ditinggalkan akan tetap membekas, tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.
Sesungguhnya, kehilangan orang tua sepenuhnya jauh lebih menyedihkan dibanding menyaksikan perceraian.
Inilah kisahku. Orang tuaku bercerai saat aku masih kecil. Aku bahkan tidak ingat berapa usiaku ketika itu. Sejak saat itu, aku tinggal di sebuah tempat yang justru membuatku merasa nyaman: panti asuhan.
Sering kali aku bertanya-tanya, mengapa orang tuaku tidak menitipkanku kepada kakek dan nenek? Mengapa mereka memilih membuangku begitu saja, seakan tidak ingin bertanggung jawab? Padahal mereka masih bisa memilih—ayah atau ibu—untuk tetap menjagaku. Tega sekali.
Untungnya, kakek dan nenek masih menyempatkan diri menjengukku setiap akhir bulan. Hanya saja, mereka sudah berusia lanjut. Mereka takut tak sanggup merawatku karena kondisi kesehatan dan usia yang semakin renta.
Kini aku berusia 19 tahun, hampir memasuki gerbang kedewasaan. Aku kuliah di universitas yang sejak lama diimpikan kakek dan nenek. Bahkan, tak pernah sekalipun ayahku menjejakkan kaki di tempat ini.
Kakek dan nenek begitu bangga. Setiap kali mereka mengantarku hingga ke pintu gerbang universitas, aku tidak peduli dengan tatapan aneh orang-orang di sekelilingku. Biarlah mereka menilai apa saja. Bagiku, kakek dan nenek adalah orang tuaku setelah ayah dan ibu. Untuk apa aku malu diantar layaknya anak kecil?
Sejak usia 16 tahun aku mulai tinggal bersama mereka. Saat itu kakek berusia 67 tahun dan nenek 61 tahun. Syukurlah, mereka masih cukup sehat. Justru di situlah aku menyadari, kasih sayang dari mereka yang benar-benar siap menjadi orang tua jauh lebih tulus dibanding kasih sayang dari mereka yang melahirkan, namun tidak siap bertanggung jawab.
Kini, ketika semakin dewasa, aku sadar bahwa aku tidak membutuhkan cinta untuk bertahan. Bahkan pertemanan yang beracun pun kutolak dengan sikap dingin. Padahal, sebenarnya aku cukup ramah dan dikelilingi banyak teman. Hanya saja, aku memilih menjaga batas sebagai cucu yang berbakti pada kakek dan nenek.
Namun, suatu hari sesuatu membuatku bingung.
Seorang pria datang ke rumah. Dia memperkenalkan diri sebagai Dr. Florian Mahendra Santoso, seorang dokter muda yang bertugas memeriksa kesehatan kakek dan nenek setiap akhir pekan atau pada jadwal tertentu. Usianya tak terpaut terlalu jauh dariku, kira-kira 25 atau 26 tahun.
Aku tertarik melihat caranya bekerja. Ia tampak tenang, maskulin, dan penuh tanggung jawab. Dalam hati aku berharap bisa menjadi sosok sepertinya suatu hari nanti. Bagaimana tidak? Ia rajin, ramah, baik, wangi, tinggi—179 cm, kalau tidak salah—dan bahkan pandai memasak.
Sungguh, ia adalah sosok idaman.
Kemarin, ketika aku duduk di dapur, kakek sedang tidur, sementara nenek tengah diperiksa oleh Dr. Florian.
Aku hanya memainkan sendok di dalam cangkir tehku, mengaduk tanpa arah. Saat itu aku lupa satu hal: membuatkan teh untuk Dr. Florian iaitu kebiasaan kecil yang biasanya tidak pernah luput dariku.
Setelah pemeriksaan selesai, Dr. Florian masuk ke dapur dan bertanya di mana teh miliknya. Sedikit panik, aku segera berdiri dan menjelaskan bahwa aku lupa menyiapkannya.
Dia tertawa ringan lalu duduk tepat di hadapanku. "Aku menunggu," ucapnya sambil mengenyitkan mata kanan. Tangannya bersandar di meja, wajahnya diletakkan di atas punggung tangan itu, menatapku lekat-lekat.
Merinding, aku berbalik untuk menyiapkan teh. Namun tiba-tiba, dari belakang, sebuah pelukan hangat membuat tubuhku kaku seketika. Tanganku bergetar. Mulutku terkunci, bahkan sekadar untuk berteriak atau menampar wajahnya yang lancang menyentuhku.
KAMU SEDANG MEMBACA
FreFloShoot (Hiatus)
Short Story[ Up Random ] • Mature • Jangan berdebat tentang siapa yang Dom dan Siapa yang Sub (Tak cokot koe)
