Hallo guys ketemu lagi sama cerita Rey dan Chacha. Karena aku nambah Bab, mungkin ending sebelumnya jadi gagal wkwkwk. So, masih ada kelanjutan ceritanya, belum selesai ya... parti sebelumnya gaada yang diganti kok, cuma diubah nama aja.
🫶🏻happy reading 🫶🏻
Berumah tangga itu bukan hal mudah. Apalagi pernikahan yang diawali karena keterpaksaan. Cerita ini indah bila dibaca, tapi saat dirasakan, belum tentu kita merasa bahagia tanpa adanya tekanan.
Sekeras kepala apapun Chacha, dia tetap patuh ikut suaminya pulang. Walau rasa gondok karena Rey masih berkomunikasi dengan mantan kekasihnya.
Dia selalu playing victim disaat istrinya marah dan muak. Kenapa laki laki itu tidak pernah bersyukur atas apa yang dia miliki. Hal itulah yang membuat Chacha selalu bertanya. Apa kurangnya?
Keputusan yang paling dihindari. Tapi dia harus bertemu Mona dan memberi peringatan kepada wanita itu. Rumah tangganya jadi dingin karena Mona datang lagi membawa anak yang menyebut Rey Papa. Penghancur memang.
Tok.
Tok.
Tok.
Mengetuk pintu berkali kali karena tidak ada sahutan, Rumah yang keberadaannya dikomplek itu terasa hening.
Pintu terbuka.
"Mona ada?" Tanpa basa basi, dia langsung menanyakan perempuan incarannya.
"Ga ada Neng, maaf siapa ya?"
"Temennya, Setau Ibu Mona kemana?"
"Tadi non Rena nangis mau ketemu Papa katanya, mungkin keluar nemuin Papanya." Seperti dapat jawaban langsung. Dia berpamitan untuk pergi.
Kembali naik mobil bersama Pak Toto yang menjadi sopir, dengan perut buncitnya dia masih bisa kesana kemari tanpa terlihat kesusahan. "Ke kantor Rey Pak,"
Anehnya, Mona tinggal di komplek yang tak jauh dari kantor, seperti sengaja.
Tak lama sampai, Chacha keluar dengan tas di bahu kirinya. Memakai dress coklat dibawah lutut, Masuk ketempat dimana hadirnya langsung di segani, dia hanya mampu tersenyum sebagai balasan.
Banyak karyawan baru, alasan mereka menikah seperti Via yang sekarang sudah jadi ibu rumah tangga, dia memilih tidak bekerja.
Sampai diruangan utama. Langsung saja dia membuka pintu tanpa permisi.
Hadirnya seperti Api yang ditakuti. Rey langsung menggeser tempat duduk bahkan krayon yang dia pegang itu dilempar. Ternyata dia harus mengulang kejadian beberapa tahun lalu saat Mona ada diruangan suaminya.
Apa sekarang harus bersikap sama? Tak mau kalah dan membuat Mona malu?
Dia melihat pemandangan yang seharusnya tak ada. Anak perempuan yang usianya sekitar 5 tahun itu duduk dipangkuan Rey dengan buku gambar dan krayon diatas meja. Mona ada disana, duduk tak jauh dari mereka.
Rey menurunkan Rena dari pangkuannya. Wajahnya pucat. "Kamu kesini sama siapa?"
"Sama anak dalam kandungan." Jawaban pelan tapi tajam lebih menusuk dibanding sebuah teriakan.
Mata tajamnya melihat Rena yang kini memeluk Mona seperti takut. "Bilang anak lo, gausah takut sama gue, lebih iblis kelakuan nyokapnya dibanding gue."
"Jaga bicara kamu! Dia masih anak anak."
"Gue gabilang dia tua, tapi seengganya mumpung dia masih kecil harus tau mana yang bener mana yang salah." Rey dibuat panik karena istrinya yang mulai emosi.
KAMU SEDANG MEMBACA
PAK REY TERHORMAT !
Romance'' mau lo apasi ?!'' tanya Chacha dengan sewotnya pada Rey. ''memang , anak sekarang tidak tahu sopan santun'' gumam Rey menyindir Chacha. ''PAK REY TERHORMAT ! APA MAU ANDA!'' tanya Chacha dengan tertekannya pada Rey . ''saya tidak suka kamu'' j...
