76. Amarah

362 7 7
                                        

Haii...
Makasih untuk yang masih baca cerita aku..

🥺happy reading🥺

"Sabar ya pak, tuhan lebih sayang janin nya." Rey dibuat tak berdaya atas kabar duka yang dokter katakan. Mereka harus kehilangan bayinya disituasi yang genting ini. Dia tidak bisa membayangkan semarah apa Chacha nanti. Pasti semakin benci.

Dia memejamkan matanya mendoakan keselamatan Chacha yang masih ditangani dokter. Seandainya Gio tau, pasti dia juga akan bersedih atau bahkan menangis.

Dia meruntuki dirinya sendiri. Memaki atau bahkan menyumpahi. "Bodoh! Kamu selalu bodoh!" Batinnya.

Plak!

Satu tamparan mendarat tiba tiba. Bukannya marah, dia hanya diam merasakan tamparan dari Papanya. Karyawan disampingnya langsung pergi membirit. Urusan keluarga dia tidak mau ikut campur.  "PUAS KAMU?! berkali kali Papa bilang, jangan pernah biarin Mona masuk kedalam hidup kamu lagi, liat? Hancur kan?" Bentakan itu membuat Rey semakin menunduk. "MIKIR!" Saking emosinya, pria paruh baya itu menekan dahi anaknya kasar.

Duduk dengan terbata karena kesusahan. Dia sudah tua. Bukan lagi Aji yang dulu. Rambutnya memutih, tapi tubuhnya membesar. "Ibu kamu gabisa kesini, dia belum bisa jalan." Mengangguk pelan, Rey tidak berani bersuara.

Sementara itu, Gio pulang bersama Pak Toto. Mencari Chacha yang tidak ada dirumah. Dia membuka satu persatu pintu yang ada disana. "Mama dimana Bi?"

"Tadi katanya mau keluar sebentar, anak ganteng kenapa idungnya pake plaster?" Pertanyaan dari Bi Rumi yang membantu Chacha setiap pagi sampai sore itu membuat Gio memegang plaster di hidungnya.

"Ribut Bi, pensil aku di curi, pencurinya langsung aku pukul, eh dibales." Seperti bukan hal aneh, anak kelas 1 SD itu bercerita dengan antusias. "Aku mau ke mama Bi,"

"Ganti dulu bajunya ya." Mengangguk patuh. Dia menuju kamar di diikuti bi Rumi.

Bi Rumi sudah tau kabar buruk itu dari Pak Toto yang sejak awal mengantar Chacha. Katanya Gio antar saja kerumah sakit karena disana ada Pak Aji.

Chacha sudah pindah ke ruang rawat. Kesadarannya belum seratus persen. Penampilan Rey jauh dari biasanya. Dia sangat kusut dan tidak memiliki wibawa sedikitpun. Kemejanya keluar berantakan,  rambutnya tak lagi tertata. Bahkan dasi abu nya itu bengkok tak tahu posisi. Satu tangan kemeja diatas sementara satunya menutup tangan.

Seperti tidak ada kehidupan. Meskipun mata Chacha terbuka,  dia tidak menyapa atau bahkan melihat Rey sedikipun. Hanya tatapan kosong yang dibalut rasa sakit. Rey sendiri tak berani memulai walau dia sangat merasa bersalah. Mereka hanya diam dengan isi kepala masing masing. "Mama," satu suara yang mampu membuyarkan ruangan. Sikecil periang yang begitu aktif. "Mama kenapa?" Rey mendudukan anaknya dipangkuan.

"Gapapa, Mama cuma butuh istirahat." Sehancur apapun, dia masih mencoba baik baik saja didepan Gio. Mengelus rambutnya yang halus dan rapih itu.

"Mama sakit?" Dengan raut tertekuk Dia melihat tangan ibunya yang di infus. "Adik Bayinya gapapa kan Ma?" Satu pertanyaan yang membuat mereka bungkam. Tidak ada yang berani menjawab.

"Gapapa kok, abang udah makan?" Berbohong karena tak mau dia khawatir, biarlah Gio belum paham juga.

"Belum, tadi pulang cuma ganti baju, Mama ga ada dirumah, Abang dianterin kesini deh sama Pak Toto." Ceritanya begitu antusias.

"Ini kenapa? Berantem lagi?" Mengelus plaster dibagian hidung itu, Gio memberikan cengiran. Putra pertamanya ini sangat suka berkelahi. Dia bahkan tidak takut meski berhadapan dengan kakak kelasnya. Darah sombong Rey mengalir deras. Keberanian Chacha pun turut ada didalam jiwa anaknya.

PAK REY TERHORMAT ! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang