Khafy Saviero

6 1 15
                                        

Sedihnya menjadi orang tua bukan uban yang akan tumbuh di sela-sela rambut hitam, wajah keriput, atau energi tubuh yang semakin terbatas. Namun, melihat satu per satu anak telah menemukan pasangan hidup dan memulai rumah tangga sendiri. Sudah satu setengah tahun lamanya, Junada menjadi kepala keluarga sendiri dan bahkan sudah memiliki keturunan yang tak kalah tampan.

Raja Juan namanya, cucu pertama yang dimiliki oleh Juwita dan Pancaka. Melihat Junada dan Niar menikah, hanya rasa bahagia dan lega menyelimuti kedua orang tuanya. Namun, kala melihat putra mereka lahir, barulah sadar bahwa waktu terus berputar dan kenangan akan selalu terbentuk.

Lalu, Jihan yang tengah menjalin kasih dengan Joel putra dari Joan. Mereka memang belum merencanakan jenjang yang lebih serius tetapi sudah menyiapkan tabungan masa depan. Tak ingin kalah dari kembarannya, Jove juga ikut meresmikan hubungannya dengan Alea — cinta pertamanya sejak SMA. Meskipun ada beberapa drama yang dilalui, mereka memang ditakdirkan untuk bersama.

Untuk Jeeves, usianya masih 23 tahun dan sedang fokus dengan karirnya sebagai seorang aktor. Berawal dari ikut Ayah kerja, tiba-tiba dihampiri oleh produser yang sedang mencari pemeran fresh di industri akting. Pancaka tidak ikut andil untuk memutuskan sebab ia tahu anaknya memiliki hak untuk menjawab. Tidak ada salahnya mencoba, putra nomor empat Juwita itu ternyata berhasil mencuri perhatian penonton.

Para pembuat onar telah memiliki kehidupan sendiri, sudah jarang di rumah. Namun, apakah keluarga pasar malam sepi? Tentu tidak.

"EH, BOCAH AYAM! NGAPAIN MAKAN DI ATAS MEJA PANTRY GITU!"

"Meja makannya jauh, Ayah."

"Ya ngedeprok di lantai kan bisa!"

"Dingin!"

"SAMA AJA BAHANNYA DARI MARMER, CHIKI!"

Si bontot Melviano hanya memberikan tatapan mendelik, tangannya sibuk menyendok nasi dan lauk serta mulut anak itu kembali mengunyah. Juwita yang sedang mencuci piring di wastafel tepat di hadapan Chiquita hanya menghela napas. Ini bukan pertama kali anaknya makan di situ.

Janice Chiquita Dayu, si anak ayam sudah menginjak usia tujuh tahun tetapi langganan memberikan uban untuk ayahnya. Beberapa bulan lagi, ia akan masuk sekolah dasar. Sepertinya, Juwita tidak akan merasa khawatir melepas putri bungsunya ke sekolah.

"Bundaaa, udah!" seru anak tersebut, hanya dengan merangkak ia memberikan piring kotor tersebut kepada Juwita yang diterima dengan lembut. Tubuh si kecil berbalik. "AYAAAAH!"

"Teriak-teriak, kamu bukan orang utan!"

"Sini duluuuu!" pinta si bungsu.

Alis Pancaka terangkat, menatap curiga pada sang putri. Kala tubuhnya diputar, tangan pria tersebut sigap menggendong Chiquita di belakang punggungnya. "Buset, Dek!"

"Ngeeeenggg!"

Tawa kecil keluar dari bibir Juwita, ia memperhatikan area dapur yang sudah bersih. Lalu mengeringkan tangan dan bergabung bersama putri serta suaminya di ruang tamu. Sepasang ayah dan anak di sana duduk sedang berdiskusi film apa yang akan ditonton.

Sementara Juwita fokus pada ponselnya di mana ada beberapa pesan dari grup wanita Soehardjo untuk kebaya yang akan dikenakan pada pernikahan Gama bulan depan.

Bibirnya mengerucut kala mengingat bahwa satu lagi anak dari generasi ke empat telah melepas status lajang. Padahal, baru kemarin Juwita merasa Gama dan Jove membuat huru-hara di laboratorium sekolah.

"Tuh, Bunda mau nangis tuh."

Celetukan Pancaka di sana membuat sang istri mendengkus, ia melirik dari sudut mata dengan kesal. Chiquita yang penasaran menoleh kemudian bergelayut di lengan ibunya dengan manik melongo. "Nda, kenapaaa?!"

StoriesWhere stories live. Discover now