"Pulang bersamaku hari ini" titah pria dingin itu menghampiri Joohyun dengan wajah datarnya.
"Mwo...?" tanya Joohyun pelan, alisnya berkerut.
"Pulang bersamaku hari ini" ulangnya, kali ini lebih tegas.
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Pernyataan yang membuat Joohyun tak mengerti dengan kehadirannya yang selalu datang dan pergi sesuka hati, seolah perasaan Joohyun hanyalah sesuatu yang bisa ia atur kapan ingin dipertahankan, kapan ingin diabaikan.
Joohyun menegakkan punggungnya, "Tidak perlu. Manajerku sebentar lagi datang".
Seokjin menghela napas kecil. "Dia tidak akan datang".
Joohyun menatapnya, tak percaya. "Apa maksudmu?".
"Ponselmu tidak aktif. Dia menitipkanmu padaku". Nada suaranya datar, seolah itu hal paling wajar di dunia.
"Aku akan mengantarmu".
Joohyun lantas membuka segera ponselnya. Benar, hanya layar hitam yang ia lihat. Pantas saja ponselnya tidak ada notifikasi sama sekali.
Joohyun lalu menggeleng cepat.
"Tidak. Aku bisa pesan taxi sendiri"
Ia lalu melangkah melewati Seokjin, mengambil tas, berniat menuju pintu. Namun langkahnya terhenti ketika tangan Seokjin menahan pergelangan tangannya ringan, tapi cukup untuk menghentikan perempuan tersebut.
"Jangan keras kepala" ucap Seokjin rendah.
Sentuhan itu membuat dadanya bergetar. Joohyun menarik tangannya dengan cepat. Ia tak ingin perasaan sakit itu semakin lama di rasakannya.
"Ku bilang tidak ya tidak".
"Aku tidak menerima penolakan" ucapnya tegas lalu kembali menarik tangan Joohyun untuk mengikuti langkahnya menuju basement.
"Hyaa, lepas...lepas" teriak perempuan tersebut mencoba menghentikan pria dengan langkahnya yang cepat.
"Hyaa, jangan memaksaku" ucap Joohyun lagi.
Seokjin menghela napas lebih panjang dari sebelumnya. menghentikan langkah sesaat mendengar Joohyun terus berteriak seakan ia diculik orang asing. Ia melirik ke penjuru basement yang sudah mulai sepi, tapi tidak benar-benar aman. Di luar sana masih ada staf, mungkin juga paparazi yang menunggu kesempatan.
"Sudah larut," katanya akhirnya.
"Dan kau tahu sendiri, kalau kita berdiri di sini lebih lama, bertengkar seperti ini, kamera akan menciduk kita lagi".
Joohyun terdiam.
Akhirnya Joohyun menghembuskan napas berat, seolah menyerah pada situasi, bukan pada pria di depannya atau mungkin memang semesta menyuruh Joohyun tak menghilangkan perasaannya kepada pria di depannya sekarang.
"Masuklah" titah Seokjin yang sudah membukakan pintu mobil untuk Joohyun.
Joohyun hanya diam dan mengikuti saja. Tak ada lagi pertengkaran hanya ada suara mesin mobil yang menyala dan keluar dari gedung tersebut.
Mobil melaju menembus malam Paris yang dingin. Lampu jalan berderet seperti garis-garis cahaya yang berlari di kaca jendela. Di dalam mobil, hanya ada suara mesin yang halus dan napas mereka yang nyaris tak terdengar.
Hening.
Joohyun menatap lurus ke depan, tangannya menggenggam tas di pangkuan. Rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang terus mendesak di dadanya. Seokjin mengemudi dengan satu tangan di setir, pandangannya fokus ke jalan, wajahnya kembali ke ekspresi dingin yang sulit ditebak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because We Are Idol
Teen FictionMengubah pandanganku kepadamu mungkin akan menyenangkan. - ksj Slow update ©2021 ©afayun_
