PART 7

93 21 2
                                        

Joohyun pov

Aku tidak pernah menyiapkan diriku untuk pertemuan ini.

Oke.
Tenang, Joohyun. Tarik napas.

Aku melangkah menjauh satu...dua... tiga langkah, lalu berhenti. Aku menoleh ke kanan, ke kiri, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan.

Baru setelah itu aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

"Astaga", gumamku sendiri. "Itu barusan, Seokjin. KIM SEOKJIN".

Aku menurunkan tangan perlahan. Dadaku masih berdebar seperti habis lari. Otakku belum sinkron dengan kenyataan.

"Dia pulang", bisikku. "Dia benar-benar pulang".

Aku tertawa kecil. Lalu menggeleng. Lalu tertawa lagi. Kalau ada yang melihatku sekarang, mungkin mereka akan mengira aku kehilangan akal sehat.

"Kenapa dia tetap... begitu?", aku mengomel pelan. "Dingin, tenang. Bikin orang panik tanpa usaha".

Aku berjalan lagi menuju kamarku, lalu berhenti mendadak.
"Dan kenapa aku gugup?" protesku pada diri sendiri. "Kita cuma ketemu. CUMA KETEMU".

Aku menghela napas panjang, menepuk pipiku sendiri.
"Joohyun, kamu sudah dewasa. Tenang".

Dua detik kemudian aku tersenyum lagi tanpa sadar.

"Ah...tapi dia masih sama", bisikku, suaraku melembut. "Dan aku, ternyata belum benar-benar baik-baik saja".

Aku langsung menelepon Seulgi begitu sampai di depan kamar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku langsung menelepon Seulgi begitu sampai di depan kamar.

"Seulgi", bisiknya panik, "aku barusan ketemu Seokjin".

"Hah?"

"Serius. Di rumah sakit. Dia bahkan nganterin aku pulang".

Seulgi terdiam sesaat. "Wahhh daebak, kau baik-baik saja eonnie?"

Aku tertawa kecil. "Enggak yakin".

Aku menutup mata sebentar, membiarkan rasa hangat itu tinggal sedikit lebih lama. Kalau perasaan bisa berisik, mungkin inilah suaranya, berantakan, malu, tapi jujur.

Aku baru saja menutup pintu jendela ketika ponselnya kembali bergetar. Ia sempat mengira itu Seulgi yang menelepon lagi untuk mengomel, tapi nama yang muncul di layar membuatnya langsung berdiri tegak.

Manajer.

Ia menarik napas dalam sebelum mengangkat panggilan.

"Irene", suara di seberang terdengar serius namun bersemangat, "aku mau konfirmasi jadwal besar".

"Jadwal apa?" tanyanya, masih setengah tenggelam dalam kejadian hari ini.

"Kau ditunjuk sebagai MC untuk GDA tahun ini".

Because We Are IdolTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang