PART 9

102 16 4
                                        

Joohyun menatap punggung Seokjin yang sudah berjalan lebih dulu, jantungnya berdetak cepat oleh kata berbahaya yang entah mengapa terasa personal. Ia menyusul dengan langkah ragu, menjaga jarak setengah langkah di belakangnya.

Lift turun dalam diam.
Pantulan mereka di dinding logam terlihat canggung, Seokjin berdiri tegak, tangan di saku jaket, sementara Joohyun meremas ujung lengan bajunya sendiri.

"Aku tidak bermaksud-" Joohyun memulai, lalu berhenti. "Maksudku... aku tidak menatap dengan maksud aneh".

Seokjin meliriknya sekilas. "Aku tahu".

Nada itu tenang, tapi justru membuat Joohyun makin gugup.

Nada itu tenang, tapi justru membuat Joohyun makin gugup

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pintu lift terbuka. Udara siang hari menyambut mereka dengan dingin tipis. Seokjin melilih salah satu mobil mewah yang berjejer rapi disana. Membukakan pintu penumpang tanpa berkata apa-apa.

Gestur kecil itu membuat Joohyun tersenyum tanpa sadar. "Gomawo".

Mesin mobil berdengung pelan, menyisakan keheningan yang tak lagi sepenuhnya canggung. Cahaya siang masuk dari kaca depan, jatuh di tangan Seokjin yang mantap di kemudi.

Beberapa saat berlalu sebelum Joohyun kembali bicara.

"Kau selalu memperlakukan orang seperti ini?".

Seokjin tetap menatap lurus jalanan tanpa menoleh perempuan yang kini mengajaknya berbicara, "Tidak".

Hanya satu kata.

Joohyun mengangkat alis. "Jadi aku pengecualian?"

Ia akhirnya menoleh, tatapannya singkat namun tajam. "Jangan menarik kesimpulan".

Joohyun membisu malu mendengar jawaban Seokjin yang kelewat cuek dengan pertanyaannya.

Keheninganpun kembali menyelimuti suasana mobil tersebut, perasaan Joohyun bahkan bertanya-tanya pada pria yang kini sibuk dengan jalanan siang hari.

"Rumit sekali pria satu ini" batin Joohyun.

Setelah sampai di salah satu restoran mewah yang nampak terlihat sepi, Seokjin kembali membuka pintu mobil dan berdiri menunggu tanpa ekspresi. Gerakannya rapi, seperti refleks yang sudah terlatih.

"Huft, kalem Joohyun dia hanya bersikap baik padamu. Tidak lebih" batinnnya.

Mereka baru melangkah masuk ketika aroma wine dan mentega menyambut. Restoran itu sunyi, terlalu sunyi untuk jam makan siang. Pelayan menunduk sopan, mengantar mereka ke meja di sudut dekat jendela.

Belum sempat duduk, mereka di hampiri perempuan yang entah sudah mengintainya sedari tadi. Atau hanya kebetulan saja.

"Kim Seokjin" ucapnya.

Satu nama. Satu suara. Cukup untuk membuat bahu Seokjin menegang nyaris tak terlihat.

Ia berbalik perlahan.

Because We Are IdolTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang