Joohyun membolakan matanya kala yang ia lihat benar pria yang membuatnya uring-uringan belakangan ini "Kim Seokjin".
Ia tidak menoleh. Tidak menyapa. Bahkan tidak menunjukkan ekspresi terkejut, seolah kehadiran Joohyun di bar private itu adalah sesuatu yang sudah ia duga.
"Whisky," ucap Seokjin pada bartender. Singkat. Dingin.
Joohyun menahan napas. Dadanya kembali terasa panas, kali ini bercampur gugup dan geram.
Kenapa dia ada di sini?
Sudah lebih dari 5 gelas yang Joohyun teguk. Tubuhnya mulai memanas, pikirannya mulai tak karuan dan matanya terlihat lebih sayu.
Tak disangka, pria dingin itu mendekat duduk disebelahnya. Entah apa yang dipikirkannya, Joohyun sudah tidak berdaya untuk merasakan sesuatu tentang dirinya.
"Aku tak menyangka kau minum sebanyak itu", ucap Seokjin akhirnya, suaranya datar tapi bergetar tipis.
Joohyun baru menoleh sekarang. Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu yang lebih dalam di sana.
"Wae, memangnya yang bisa kau saja" jawabnya.
Hening lagi.
Seokjin kembali menyesap minumannya, lalu berkata tanpa menatap Joohyun,
"Kau terlihat marah".
Joohyun tersenyum kecil, pahit. "Kau sok tahu".
"Mungkin", balas Seokjin. "Sesuatu mengganggumu".
Kalimat itu membuat Joohyun menegang. Ia menoleh tajam. "Jadi kau perhatiin?"
Seokjin akhirnya menatapnya langsung. Tatapan dingin itu, kali ini terlalu fokus.
"Sedikit".
Cukup satu kata itu untuk membuat hati Joohyun berantakan.
Ia tertawa pelan, hampir putus asa. "Kalau begitu, kau juga pasti sadar kenapa aku geram".
Joohyun berdiri, tapi langkahnya goyah.
Seokjin refleks menahan lengannya.
"Kau mabuk", katanya datar.
Joohyun tertawa kecil, kepalanya sedikit bersandar ke bahu Seokjin.
"Enggak, aku cuma pusing", gumamnya, suara seraknya tidak meyakinkan.
Padahal gelasnya hampir jatuh. Joohyun memang tidak kuat minum.
Seokjin menghela napas pelan, tanda kesal yang nyaris tak terlihat. Ia meraih jaket Joohyun dan menyampirkannya.
"Aku bilang jangan dipaksa".
Joohyun mendongak, matanya sedikit kabur tapi fokus pada wajah Seokjin.
"Kau peduli sekarang?" tanyanya lirih, senyum kecil tapi menyakitkan.
Seokjin terdiam.
Joohyun tertawa lagi, lebih pelan. "Terlambat, Jin". Tangannya mencengkeram lengan Seokjin tanpa sadar. "Aku udah keburu memanas".
Seokjin menegang.
"Joohyun-"
"Cih, kau bahkan tau nama asliku, kau tahu tak rasanya", lanjut Joohyun, kata-katanya mulai tumpah tanpa filter, "Suka sama orang dingin, tapi tiap senyumnya bikin aku mikir. Itu buat siapa?".
Seokjin menunduk, rahangnya mengeras.
"Kau menolong Daehyun", Joohyun melanjutkan, suaranya bergetar.
"Aku tahu itu refleks. Tapi aku juga refleks cemburu. Dan aku benci itu".
Tubuhnya sedikit limbung lagi. Kali ini Seokjin menariknya lebih dekat agar tidak jatuh.
"Berhenti bicara", ucap Seokjin pelan.
Bukan perintah lebih seperti permintaan.
"Tapi aku cuma bisa jujur kalau aku mabuk", bisik Joohyun. "Kalau sadar, aku takut kau menjauh"
Kalimat itu menghantam Seokjin lebih keras dari apa pun malam itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because We Are Idol
Novela JuvenilMengubah pandanganku kepadamu mungkin akan menyenangkan. - ksj Slow update ©2021 ©afayun_
