"Berbahagialah dalam ikhlasku. Aku melepaskanmu."
- Senja Kala Maheswari
********
"Assalamualaikum, sebelumnya saya minta maaf ke kamu. Saya gagal meyakinkan ayah tentang kita. Saya sudah berusaha, sungguh aku tidak berdusta. Maafkan saya, semoga kita bisa "berteman" dengan baik seterusnya."
Kala diam. Setitik air bening menggenang di kelopak matanya. Ia bahkan kehilangan akal untuk membalas pesan singkat tersebut. Jantungnya berdegup sedikit menyakitkan. Apa gunanya ia melawan ayah selama ini, jika akhirnya dia memilih melepasnya begitu saja. Tuhan... Kami bersalah atau kami hanya terjebak dalam perasaan tanpa ijin-Mu?
"Baik, Kak. Terimakasih sudah mengabarkan. Terimakasih untuk kebaikannya selama ini. Btw, aku dipilih untuk mengikuti kelas unggulan matematika dan IPA untuk olimpiade tahun depan, itu semua tidak terlepas dari bantuan kakak selama ini. Sekali lagi terimakasih."
Balasan Kala kali ini cukup panjang. Meski tak semua ia ungkapkan, tapi ia tahu yang terbaik hari ini. Soal Ayah yang ingin memindahkannya sekolah, hingga orang tua Arkhi yang sama stricht-nya.
Kala sadar, ia tak mungkin terus bergantung pada Arkhi, meski berat dan menahan air mata, gadis itu berusaha menikmati suasana malam tahun baru di rumahnya.
"Pergilah, Mas. Berbahagialah dalam ikhlasku. Aku melepaskanmu...." Batin Kala menguatkan diri.
*******
Di tempat lain, Arkhi terduduk diam di tempat tidurnya. Tangannya masih menggenggam erat ponsel miliknya. Sekiranya rasa sesal telah menggerogoti hati lelaki ini. Tentang ia yang tak bisa mempertahankan Kala, tentang ia yang tak mampu melawan kehendak ayahnya. Laki-laki itu begitu lugu, masih sama lugunya seperti saat ia menyampaikan perasaannya pada Kala. Bedanya, kali ini bukan tentang pertemuan, tapi tentang kisah cinta yang tragis. Berpisah bukan karena tak lagi ada rasa, tapi tidak adanya restu orang tua.
"Kala, maafkan saya..." Gumamnya dalam sunyi.
Tok tok tok...
Bunyi pintu membuyarkan lamunan Arkhi. "Siapa?" Jawabnya tanpa berniat untuk berdiri.
"Ini adek, Mas..." Sahut Azalia dari balik pintu. "Ini mas, adek bawain barbeque sama minuman punya mas. Tadi Aza tunggu-tunggu mas nggak keluar." Sambungnya.
Arkhi segera mengusap air matanya. Laki-laki itu bergegas keluar agar adiknya tidak curiga. Sebisa mungkin ia berperan sebagai pria yang sedang baik-baik saja- padahal tidak.
Pintu terbuka, gadis manis itu sudah berdiri di depan pintu kamar Arkhi dengan senyum sempurna. "Mas, makan sama Aza aja yaa. Di depan rame, nanti mas capek."
Arkhi mengangguk pelan, sepertinya adiknya itu tahu bahwa keadaannya sedang tidak baik-baik saja.
Akhirnya, kakak beradik itu duduk di balkon kamar Arkhi sembari melihat keriuhan di luar sana. Mereka duduk beriringan dengan sedikit makanan dan minuman ringan.
"Mas, tadi mas dimarahin ayah, ya?" Tanya Azalia memecah hening.
Arkhi menoleh ke arah adiknya, tatapannya lurus menghunus tepat di lensa mata adiknya, "Enggak, ayah cuma nasihatin mas biar hidup mas lebih baik kedepannya. Biar mas selalu di jalan yang benar."
"Tapi tadi Aza lihat Mas dieeeem aja sambil nunduk, Aza kira Mas nangis dimarahin Ayah, wajah ayah serem soalnya.. hiii."
Ekspresi ketakutan Azalia itu berhasil memancing tawa Arkhi sedikit lebih besar dari biasanya. "Adek nggak boleh gitu, ih. Mau gimana pun, Ayah tetap Ayah. Pasti mau yang terbaik untuk anak-anaknya."
KAMU SEDANG MEMBACA
MEZZANINE [SELESAI]
RomansaMas Ar, begitu panggilan kesayangan dari Kala. Namanya Arkhi Izzaddin Khaliq, laki-laki sederhana yang sedang berusaha menjaga hati dan memilih fokus pada pendidikan dan mimpinya. Tuntutan keluarga membuatnya menjadi laki-laki yang ambisius, cuek da...
![MEZZANINE [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/331620718-64-k367804.jpg)