Freefalling 12

1 1 0
                                        

Hesa masih diam termenung di ruanganganya, ia menoleh ke arah jendela rumah sakit yang menampakan langit biru semakin gelap.

Sedari tadi pikiranya masih kacau, berusaha menerima apa saja yang terjadi hari ini, banyak sekali hal yang ia lewatkan di hari ini.

Namun sepertinya ada yang masih Hesa tak relakan, ia menolak untuk menerima kenyataan.

Kriettt.

Hesa menoleh ketika pintu di buka, ia kira dokter ternyata Jaehyuk yang datang untuk menjemputnya.

"Sorry gue agak telat jemput loe,"

Hesa diam sejenak, sepertinya si teman salah paham mengira Hesa marah padanya karna telat menjemput.

"Gak Jae, gue emang gak buru2 juga buat pulang," balas Hesa sembari tersenyum.

"Yaudah, ayok pulang," ucap Jaehyuk.

Pemuda itu mengambilkan kruk lalu dengan hati2 membantu Hesa turun dari ranjang.

Setelah itu mereka berjalan bersama keluar dari ruangan.

Di tengah jalan, Hesa tiba2 berhenti yang sontak membuat Jaehyuk merasa heran.

"Sa, ngapain loe liatin terus lorong itu," tanya nya.

Jaehyuk lalu melihat papan petunjuk yang tertempel di dinding yang membuatnya auto merinding.

"Sa, l-loe liat setan,"

"Jae, tolong bantu gue sebentar," ucap Hesa sembari menoleh ke arah si teman.

Jaehyuk yang sedang ketakutan itu reflek terkejut karna hal kecil tersebut.

"B-Bantu apa," ucapnya.

Hesa tak menjawab pertanyaan si teman, ia berjalan memasukin lorong itu dengan masih diikuti si teman dari belakang.

"Bro, ini jalan ke kamar mayat, loe mau ngapain kesini? Ayo balik, loe pasti salah jalan," ucap Jaehyuk.

"Gak, gue emang mau ke kamar mayat," ucap Hesa.

"Ngapain nyet kesana, mau liat spoiler masa depan?" ucap Jaehyuk.

Hesa tak menjawab, terus berjalan sampai akhirnya mereka tiba di depan ruangan itu.

"Loe tunggu disini kalo emang takut." titahnya pada Jaehyuk.

Ia lalu masuk sendirian kedalam ruangan yang banyak orang anggap sebagai tempat mengerikan.

Di dalam sana ada beberapa yang tertutup selimut, ada pula yang dimasukkan kedalam lemari pendingin mayat.

Hesa berjalan menelusuri satu persatu yang dibiarkan di atas bangsal, tak ada sedikit pun rasa ingin membuka salah salah satu selimutnya.

Firasatnya lebih berat mengatakan untuk membuka salah satu penyimpanan lemari pendingin mayat.

Dan tentu, Hesa memutuskan mengikuti kata hatinya.

Tak menunggu waktu lagi, Hesa langsung melakukan itu.

Sretttt.

Sesuai kata hatinya.

Lemari yang ia buka ternyata milik si pemuda bersurai lavender.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 11 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

You Can't See MeeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang