Chapter 4

361 31 0
                                    

Sebuah peluru sniper sukses menembus kaca jendela tempat Hanna bersembunyi , kaca itu hancur berkeping-keping. Yona sangat shock , dia menjatuhkan senjata yang di pegangnya , wajahnya tertunduk , air mata terus keluar dari matanya , tangannya mencengkram tanah dengan sangat kuat , sedangkan Lidya hanya tertunduk diam , Naomi yang melihat itu tidak dapat berkata apapun , mereka baru kenal beberapa jam yang lalu tapi kesan pertama saat melihat Yona adalah dia gadis yang tangguh , pemberani , cerdas , tegas dan juga berwibawa , tapi saat ini dia melihat Yona yang berbeda dari semua kesan tadi.

"Siapa Hanna ? apakah dia begitu penting untuk Yona?" di suasana seperti ini Naomi sempat berpikir hal seperti itu. Sementara itu di markas , semua terdiam , suasana begitu hening.

Sementara itu di tempat yang agak jauh dari gedung , di atas sebuah mobil , ada seorang laki-laki dalam posisi tiarap sambil melihat ke dalam scope snipernya

"Bagaimana ? kau mengenainya?" suara seorang perempuan terdengar dari alat komunikasi di telinga laki-laki itu

"Ya , tidak mungkin dia selamat" jawab laki-laki itu

"Bagus , cepat pergi dari situ sebelum musuh mengetahui posisimu"

"Ba...." Komunikasi terputus , belum sempat laki-laki itu menyelasaikan kata-katanya , sebuah peluru sniper menembus kepalanya, laki-laki itu tewas seketika.

"Target berhasil dilumpuhkan, hehe" ucap seorang cewek sambil menahan rasa sakit melalui alat komunikasi di telinganya. Semua kaget mendengar suara itu.

"Ha .. ha .. Hanna??!!!" ucap Yona seakan tak percaya. Orang-orang di markas pun terkejut

"Hanna ? Hanna ?? Gimana keaadan mu sekarang?" Tanya Acha panik

"Sudah pasti nggak baik , peluru itu mengenai lengan kiri ku" ucap Hanna sambil terus menekan lengan kirinya dengan tangan kanan agar darah tidak banyak keluar , Hanna bersandar di tembok sebelah jendela sambil menahan rasa sakit.

"Hanna" ucap Yona sambil menangis

"Kok kamu nangis sih kak? kayak aku bakal mati aja" ucap Hanna yang masih bisa bercanda di saat seperti ini.

"Acha , cepat perintahkan Yuvi buat ngerawat Hanna!" perintah Lidya

"B-b baik" Acha langsung menghubungi Yuvi

"Yuvi , segera rawat Hanna di gedung presiden lantai 3 , bawa dia ke markas" ucap Acha

"Baik" Yuvi beserta beberapa staff medis segera menuju gedung presiden. Sementara itu di depan gedung pertempuran masih terjadi , tapi beberapa pasukan musuh ternyata berhasil menyusup masuk ke dalam gedung.

"Acha , 12 pasukan musuh berhasil menyusup ke dalam gedung melalui jendela sebelah barat" ucap Della

"Barat?!" ucap Acha kaget

"12 pasukan musuh berhasil menyusup ke dalam gedung melalui jendela sebelah barat , itu berarti dekat dengan posisi Hanna , jika mereka sampai di lantai 3 maka........" belum sempat Acha menyelesaikan kata-katanya , Yona langsung memotongnya

"Aku akan ke sana!" potong Yona , Yona langsung mengambil senjata nya dan berlari ke dalam gedung. Naomi berusaha menghentikannya tapi dihadang oleh Lidya

"Biarkan dia pergi" kata Lidya

"Tapi , itu berbahaya , dia bisa aja terbunuh" ucap Naomi cemas

"Seseorang bakal jadi kuat kalo melindungi seseorang yang berharga buatnya kan? Percayalah pada Yona , dia ketua kita. Kita fokus saja pada pertempuran di sini" kata Lidya sambil tersenyum. Naomi tidak bisa berbuat apa-apa , bagaimanapun Lidya jauh lebih mengenal Yona daripada dia , kalau Lidya percaya pada Yona , maka dia pun harus percaya. Sementara itu Acha memperingatkan Yuvi bahwa di dalam gedung sudah ada pasukan musuh yang berhasil mennyusup.

"Ya, aku mengerti" kata Yuvi melalui alat komunikasi di telinganya. Di depan gedung pertempuran semakin memanas , Naomi dan Lidya bersama beberapa pasukan Special Army di bantu Kopasus masih berusaha melumpuhkan pasukan Black Army , tersisa 50 pasukan Black Army di tambah 12 pasukan yang menyusup ke dalam gedung.

Sementara itu di lantai 3 , Hanna masih duduk bersandar di tembok sebelah jendela , dia masih menekan lengan kirinya sambil menahan rasa sakit

"Gawat , darahku terus keluar , tubuh ku terasa lemas , kalo begini terus aku bisa kehabisan darah" pikir Hanna , tubuhnya sudah lemas karena kehilangan banyak darah , berdiri saja sulit.

"!!!!" Hanna menyadari sesuatu

"8 ? tidak .... 12 , banyak sekali" pikir Hanna , wajahnya tampak serius

"Mereka berada tepat di bawahku , kalo mereka sampai ke sini habislah aku" Hanna mencoba berdiri tapi dia terjatuh lagi

"Cih , berdiri saja tidak bisa" gerutu Hanna

"Ada lagi dari kanan ? 4 orang , sial , aku terjebak di sini" wajah Hanna kembali tampak serius. Di depan gedung , pertempuran masih berlangsung , tersisa 25 pasukan Black Army , 7 Kopasus , 5 pasukan Special Army di tambah Lidya dan Naomi.

"Naomi , ambil granat di pinggangku , lemparkan ke arah musuh di depanku" perintah Lidya. Naomi mengambilnya lalu melemparnya sesuai perintah Lidya

DDUUUARRRRR!!!!!

Ledakan tersebuat berhasil membunuh 5 pasukan musuh , Lidya memanfaatkan asap dari ledakan itu untuk berlari ke depan. Dia menaruh senjatanya di punggung lalu berlari menerobos asap , dia mengeluarkan pisau kecil dari kantong di paha kanannya , dengan lincah dia menusuk leher satu pasukan Black Army , mencabut kembali pisau tersebut lalu melempar nya ke arah kanannya , pisau itu tepat menancap di leher pasukan musuh. Dia mengambil kembali senjatanya lalu melumpuhkan 3 pasukan musuh di dekatnya , melihat itu pasukan yang lain pun ikut bergerak maju.

Sementara itu di lantai 2 gedung , pasukan Black Army bergerak menaiki tangga menuju lantai 3 secara perlahan. Di lantai 3 , Hanna yang masih duduk bersandar di tembok sebelah jendela mengambil sesuatu dari saku belakangnya

"Tidak ada pilihan lain" pikir Hanna , dia mengambil sebuah pistol dari saku belakangnya. 4 orang yang tadi Hanna sadari berada di sisi kanan nya pun sudah sampai ke lantai 3 , seorang cewek berada di paling depan memimpin 3 orang laki-laki di belakangnya

"Tunggu" ucap perempuan itu pelan sambil memberi kode kepada orang di belakangnya , mereka berhenti di balik tembok , perempuan itu menyiapkan sebuah pistol

"Mereka berhenti?" pikir Hanna yang menyadari bahwa 4 orang yang berada di kanan nya berhenti di balik tembok di pojok lorong itu. Sedangkan 12 pasukan di sebelah kiri Hanna sudah hampir sampai ke lantai 3. Hanna menyiapkan pistol nya , begitu 12 pasukan itu sampai di lantai 3 , Hanna langsung mengarahkan pistol nya ke arah mereka

"Seorang perempuan?" Tanya salah satu pasukan dengan nada mengejek

"Bukankah lebih baik kita bawa saja perempuan ini ? kita bisa bermain dengannya di markas , hahaha " kata salah satu pasukan lagi

"Bermain ? Kalian pikir aku cewek macam apa" kata Hanna sambil menembakkan pistol nya ke arah satu pasukan yang sukses mengenai dada pasukan itu, melihat itu salah satu pasukan langsung berlari ke arah Hanna , Hanna bermaksud menembak nya tapi sayang dia kalah cepat ,pasukan itu menendang pistol yang di pegang Hanna. Dia mendekati Hanna lalu berlutut di depan Hanna , ia melihat Hanna dengan pandangan mesum , Hanna membalas nya dengan tatapan tajam.

"Hei , tatapan mu mengerikan sekali" kata pasukan itu dengan nada mengejek , dia melihat lengan kiri Hanna yang terluka , dia lalu menekan dengan keras lengan kiri Hanna

"aarrrghhhh" Hanna berteriak kesakitan , semua pasukan yang ada di sana tertawa seakan menikmati penderitaan Hanna. Namun tiba-tiba , perempuan yang tadi bersembunyi di balik tembok bergerak keluar , dia mengarahkan pistol nya ke arah Hanna , Hanna memejamkan matanya

DOOOOORRRRRRR!!

Perempuan itu melepaskan sebuah tembakan ke arah Hanna.

Bersambung...........


Black InvasionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang