Jangan

69 8 0
                                    

Happy reading!! :)

Keheningan menyelimuti perjalanan pulang Brian dan Nicole. Brian masih terlihat begitu marah dan kesal, tentu saja penyebab utamanya adalah kebersamaan Theo dan Ashley. Perihal Nicole yang hampir mati hanyalah sebagai tambahan.

Nicole sendiri salah mengira bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab utama kemarahan Brian. Ia mengira Brian mulai khawatir akan dirinya dan tanpa sadar Ia tersenyum walaupun tangannya terasa perih akibat paksaan Brian.

"Jangan senang, aku marah bukan karena kau hampir mati tapi karena mantan kekasihku terlihat begitu mesra dengan suaminya. Sebenarnya aku tidak terlalu mengkhawatirkanmu jika kau mati, hanya saja aku bisa dibunuh oleh orangtuaku dan orangtuamu ketika mengetahui bahwa kau mati ketika bersamaku." Brian mengeluarkan kata-kata tajam tersebut tanpa berpikir terlebih dahulu.

Senyum Nicole lenyap seketika, digantikan oleh air matanya yang mengalir tetes demi setetes.

"Inilah yang kubenci darimu. Selalu menangis. Cengeng. Seolah tak ada jalan keluar lain selain menangis. Kau sungguh jauh berbeda dengan Ashley, Ia begitu tegar dan jarang menangis." Lanjut Brian lagi, satu-satunya hal yang ditangisi Ashley di depan wajahnya adalah Theo. Sialan!

Tangisan Nicole semakin kencang, selama dua tahun pernikahannya apa yang barusan dikatakan Brianlah yang paling menyakitinya. Dan apa katanya tadi? Ashley? Itukah nama mantan pacarnya? Bahkan baru kali ini Ia membicarakan Ashley.

"Kalau bisa, aku sungguh ingin bercerai dari gadis cengeng sepertimu. Kau pikir aku tahan dengan seluruh malam yang kau habiskan dengan menangis? Kau tau suara tangisanmu selalu mengganggu tidurku walaupun kita tidur di kamar yang berbeda." Brian kembali mengeluarkan kata-kata tajamnya membuat Nicole terenyak.

Jadi selama ini Brian mendengarnya menangis?

"Kalau kau tidak tahan menjalani hubungan seperti ini denganku, mengapa kau menyetujui perjodohan kita? Maka kusimpulkan bahwa ini semua bukan salahku. Ini salahmu yang menyetujui perjodohan bodoh ini. Salahmu! maka terimalah deritamu sendiri." Lanjut Brian.

Nicole menangis histeris. Semua yang dikatakan oleh Brian memang benar. Tak ada yang salah. Ini semua memang salahnya. Salahnya karena menerima perjodohan bodoh ini. Salahnya karena terlalu percaya diri bahwa suatu saat Brian akan melihatnya.

"Cukup Brian, aku hanya berbuat kesalahan sedikit tapi kau malah sebegiti marahnya padaku. Apa karena wanita itu?"

Briam sempat tersentak mendengar kata-kata Nicole yang begitu keras. Ini adalah kali pertama Nicole berani membentaknya seperti ini.

"Jangan bicarakan dia. Ini semua salahmu!"

"Jangan terus menerus salahkan aku, lihat dirimu sendiri! Apa kau berhak dikatakan benar?"

Apa dia salah?

Brian tak menjawab dan lebih memilih memukul stir mobilnya.

*MLI*

"Ceritakan sedetail mungkin siapa itu Brian." Theo mengelus rambut Ashley dengan penuh kasih sayang.

Mereka sudah berada di atas kasur sekarang dan memakai baju tidur masing-masing.

"Dia hanya temanku, Theo." Jawab Ashley sambil memainkan jarinya di dada Theo.

"Kubilang secara detail, sayang. Itu artinya termasuk bagaimana kau bisa bertemu dengannya, bagaimana kau bisa berteman dengannya, bagaimana kau kemudian kehilangan kontaknya?"

Ashley mendengus. Selama ini Theo tak pernah menanyakan hubungan Ashley dengan teman lelakinya, tetapi mengapa Theo begitu penasaran akan hubungannya dengan Brian?

Between Love And TogetherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang