9 - Salah Paham

656 41 1
                                        

Diva tengah asik menikmati es krim yang dibelikan Kevin untuknya, hatinya tenang saat melahap es kris tersebut sampai benar- benar habis tak tersisa. Kevin melihat gadis di sebelahnya itu dengan senang, dan bersyukur Tuhan masih memberinya kesempatan untuk berada di samping Diva.

Tiba-tiba, ponsel Diva berdering, dan muncul nama Andre di layarnya. Diva berusaha mengangkat telepon itu, namun tangannya terlalu lengket, sampai Kevin yang membantu menekan simbol hijau itu, dan menekan simbol loud speaker.

"Halo?"

"Halo, Div. Lo dimana? Gue kerumah kok lo ga ada?"

"Lagi engga dirumah. Kenapa emangnya?"

"Terus sekarang lo dimana?"

Diva menatap Kevin yang sedari tadi juga menyimak perkataan Andre.

"Lagi di Taman, Dre," ucap Diva, sambil menggigir bibir bawahnya.

"Gue kesana."

Sambungan terputus, Kevin menatap Diva yang terdiam sambil memperhatikan ponselnya untuk kesekian detik.

"Hei, kenapa?" Tanya Kevin, yang membuyarkan lamunan gadis disampingnya.

Diva tersenyum dan menggeleng. Sambil membersihkan tangannya dengan tissu, dia terus terdiam, hingga Kevin sadar, dia sedang memikirkan sesuatu.

"Mau pulang?" Tanya Kevin setelah 10 menit Diva masih terus terdiam.

Gadis yang diajaknya berbicara itu masih terus menundukkan kepala, dan membungkam mulutnya dengan rapat. Tanan kanan Kevin langsung menyentuh dagu Diva, dan mendongakkan wajah gadis itu agar Kevin dapat menatap matanya.

Namun, kerah bajunya seakan-akan tertarik, dan seseorang meninju wajahnya dengan keras. Diva yang dari tadi terdiam, langsung panik dan menenangkan Andre.

"Udah! Udah, Dre!" Diva langsung menahan Andre, dan menenangkan laki-laki itu.

Kevin menyentuh sudut bibir kanannya yang mengeluarkan darah.

"Anjing lo ya! Masih aja ikut campur sama urusan gua!" Teriak Andre ke arah Kevin yang masih tergeletak.

Diva menahan tangan Andre dengan tenaga yang dia punya. Namun, tetap saja tenaga perempuan akan kalah dengan tenaga laki-laki. Saat Andre menepis tangannya, pipi Diva tertampar tangan laki-laki itu, dan membuat Diva terhuyung dan terjatuh dibelakang Andre.

Kevin yang melihat itu langsung bangun dan berusaha menolong Diva. Andre terkejut, dengan sigap, dia menjauhkan tubuh Kevin dari Diva.

"Div? Diva! Div bangun, Div," Andre menepuk pipi Diva yang terlihat membiru di dagu kanannya.

Kevin menatap itu dengan murka, dan mendorong Andre agar tidak mendekati Diva. Namun, Andre menepis tangan Kevin, dan terus berusaha membangunkan Diva.

Dengan sigap, Kevin segera mengangkat tubuh Diva, dan menggendongnya. Membiarkan Andre yang terus terduduk di tanah dan menyesali perbuatannya.

Kevin membawa Diva ke rumahnya, dan mengompres lebam yang terdapat di dagu gadis itu. Diva masih belum sadar saat Kevin mengompres dagunya. Dengan sendu, dia menatap Diva yang terlihat sangat lemah, gadis itu harus menanggung semua bebannya sendirian, bahkan tanpa seseorang yang benar-benar mengertinya untuk saat ini.

Setelah selesai mengompres, Kevin mengoleskan obat luka di dagu lebam Diva, dan merapihkan kotak kesehatan itu, dan hendak meninggalkan kamarnya. Namun ringisan Diva membuat laki-laki itu langsung menoleh ke arah gadis yang sedang terbaring lemah di kasurnya.

"Sshhh," ringis Diva.

Kevin tersenyum, sebelum akhirnya keluar dari kamarnya, dan membiarkan gadis itu terbaring sampai keadaannya mulai membaik. Dia sayang Diva.

Something Called LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang