2 - Tanpa Kasih Sayang

1.7K 68 8
                                        

Tiga tahun sudah Diva merasakan keterpurukan keluarganya yang sedang dilanda masalah perekonomian. Ayahnya yang dililit banyak utang, Ibunya yang setiap hari selalu mengeluh atas apa yang terjadi dengan keluarganya, dan belum lama lagi Ayahnya yang sering sekali pingsan, jika Diva menentang apa keinginan Ayahnya, agar Diva tidak terus meminta mendatangi Abangnya yang berada di penjara. Lengkap sudah penderitaannya.

Pagi ini gadis itu sudah siap dengan segala pakaian yang ia kenakan, dan segala keperluan yang sekiranya penting jika terjadi sesuatu pada ponselnya. Diva kembali menelepon Andre untuk yang kesekian kalinya, tapi tak kunjung juga diangkat oleh laki-laki itu.

"Ah monyet, si Andre kemana sih!"

Diva terus mencoba untuk tetap menghubungi Andre di halaman rumahnya, sambil berkacak pinggang, gadis itu mencibirkan bibirnya, dan terus menghubungi Andre yang sekiranya sudah 10 panggilan lebih Diva menghubunginya.

"Dek? Kamu mau kemana?" Tanya Gita, Ibu Diva.

"Ah mama, bikin kaget aja. Aku mau ke.. ke Dufan mah! Aku mau temenin Andre refreshing sebelum ujian ma, boleh kan?"

"Kamu boleh pergi, tapi tolong bantu mama carikan obat papa-mu ya nak? Sebentar aja," pinta Gita.

Diva hanya mengangguk pelan, sebelum akhirnya kembali ke dalam rumah untuk membantu Ibunya mencari obat sang Ayah yang tidak diketahui Ibunya simpan dimana saat baru saja membelinya.

"Pas baru beli, mama bener-bener gainget ditaruh dimana?" Tanya Diva meyakinkan.

Gita terdiam sebentar, sebelum akhirnya kembali mengangguk. "Iya dek, kalo mama ingat, mama ga akan nyuruh kamu bantu cari obatnya."

Saat Diva hendak kembali mencari, tiba-tiba sang Ayah menepuk pundak Diva, hingga gadis itu terkejut.

"Ga, kamu gaboleh pergi, di rumah aja, lagian mau kemana sih hah? Mau jadi anak bandel kaya abangmu itu? Mau jadi pelacur diluar sana hah?"

Vano hampir menampar Diva jika saja Andre tidak datang secepat mungkin. Gita yang baru saja melihat suaminya hendak memukul anak perempuannya sendiri--langsung dengan tergopoh-gopoh menghampiri Diva yang sangat tercegang dengan apa yang dia saksikan tadi.

"Diva ga kemana-mana om, dia cuma mau temenin saya ke suatu tempat, dan saya bakal jagain dia om, sampe dia balik lagi ke rumah," ucap Andre dengan sungguh-sungguh, sambil melirik Diva yang sudah berlinangan air mata.

Diva mendorong tubuh Andre agar tidak menghalangi pandangannya kepada pria berumur 45 tahun itu, dan Diva langsung menatap mata sendu pria di hadapannya dengan mata yang berlinang air mata, lalu Diva tersenyum muram saat mengingat Ayahnya yang sangat penyayang, sampai sebelum masalah ekonomi melanda keluarga mereka, Vano selalu dikenal menjadi kepala keluarga yang sangat berwibawa, dan pria yang tak kenal pantang menyerah.

"Tampar aku pa, cepet tampar, kenapa papa diem aja!?"

Melihat reaksi Vano hanya terdiam menatap Diva dengan rasa bersalahnya, Diva tak hanya tinggal diam.

"Cepet pa, tampar aku!"

Diva meraih satu tangan Ayahnya, dan digerakkannya tangan itu ke pipinya. "Cepet pa! Tampar aku, bilang kalo aku cuma anak yang ngerepotin papa, bilang kalo aku itu kaya abang, gabisa dibil--"

Plakkk

"Kurang ajar kamu ya, saya muak ngeliat muka kamu disini! Gita, cepat bawakan obat saya ke kamar, saya makin pusing ngeliat anak kaya dia," ucap Vano dengan lantang.

Pria berperawakan keras itu langsung meninggalkan ruang tamu, disusul dengan Gita, yang hanya bisa menatap Diva dengan sendu, dan tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti alur yang suaminya inginkan itu.

Something Called LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang