7 - Pertemuan Kedua

748 45 1
                                    

Sebuah mobil sedan yang tiba-tiba saja berhenti di hadapan Diva, membuat gadis itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap ke dalam jendela mobil itu lekat-lekat, dengan gerakan lambat, Diva langsung berusaha berjalan dengan hati-hati.

Mobil sedan itu terus mengikuti gadis itu kemana-pun dia pergi, sampai-sampai Diva merasa jika mobil sedan itu sedang mengikutinya dan ingin melakukan tindakan kriminal yang sekarang sedang marak ini, padanya.

Karena dirundung rasa takut yang besar, akhirnya Diva berlari tanpa melihat orang-orang di sekelilingnya yang sedang menatapnya dengan heran, lalu dengan nafas yang memburu, gadis itu menyembunyikan dirinya di salah satu toko busana yang tutup.

Saat Diva sedang menoleh untuk mencari mobil sedan itu, tiba-tiba sebuah tangan terjulur padanya, saat itulah Diva ingin berteriak. Namun, tangan itu langsung membekap mulut Diva, dan membalikan badan Diva dengan perlahan.

"Stttt. Div, ini gue," ucap Kevin dengan lembut.

Diva menatap Kevin, lalu dengan gerakan refleks, gadis itu langsung memukul bahu Kevin dengan kencang. "Sampe gue lapor polisi tadi, mau apa lo?" Tanya Diva dengan sengit.

"Tapi ga dilaporin kan?" Jawab Kevin dengan tawanya, "Lagian malem-malem gini mau kemana?" Tanya Kevin.

Melihat jawaban gadis itu yang hanya terdiam, Kevin langsung mengerutkan dahinya, mencari tahu apa yang terjadi pada gadis di hadapannya itu.

"Lo kenapa?" Tanya Kevin dengan hati-hati.

Gadis itu hadapannya itu tiba-tiba meneteskan air mata sambil tersenyum. "Gue mau pergi ke tempat yang gabisa bokap sama nyokap gue temuin."

Kevin langsung terhenyak, dan menatap Diva dengan tak percaya, "Maksudnya? Lo mau kabur dari mereka?"

"Ga ada gunanya juga kan gue tetep sama mereka, gue—gue pengen pergi aja," ujar Diva dengan terbata.

Dengan gerakan ragu, tapi pasti. Kevin langsung menangkup tubuh gadis itu ke dalam dekapannya, pelukannya, dan berusaha memberikan ketenangan untuk gadis itu. Hanya saja, Kevin masih belum mengerti apa yang terjadi pada Diva.

Disela senggukannya, Diva berbicara, "Gue salah apa sih, Vin? Salah kalo gue kangen sama abang gue sendiri? Salah kalo gu—gue terlahir sebagai anak kedua yang selalu di cap sama kaya abang sendiri? Gue—"

"Udah, kalo gakuat, lo luapin dulu semua yang lo rasain, ceritanya nanti kalo lo udah ngerasa lebih tenang," ujar Kevin.

Diva menggeleng dalam peluk laki-laki itu, "Gue rasa gue gabisa tenang sampe gue hilang dari mereka kayanya, itu yang bokap pengen dari gue sih, gue rasa."

"Lo ga boleh ngomong sembarangan kaya gitu, siapa bilang bokap lo gapeduli sama lo? Sejak kapan ada seorang Ayah, yang sama sekali gapeduli sama darah dagingnya sendiri?" Tukas Kevin.

Diva mengangkat kepalanya, lalu dengan senyum masam dia menjawab, "Sejak anak cowonya bikin dia kecewa dan ngelampiasin itu ke anak cewenya."

Terhenyak akan jawaban Diva, Kevin langsung terdiam, dan baru mengerti apa yang di rasakan gadis itu akhir-akhir ini.

"Setiap ketemu kata sama Papa, gue selalu aja ngerasa ga tenang, entah itu karena Papa yang natap gue tajem, atau gue yang selalu ketakutan kalo ada Papa, gangerti."

Something Called LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang