10.Stupid

31 5 0
                                    

"Untung gue gak telat" gumam Unara sesampainya di parkiran.

"Ra!" tiba-tiba seseorang menepuk pundak Unara yang membuat Unara sedikit menjengit kaget.

Lah kan gue gak kenal siapa-siapa di sekolah ini, kecuali Dave. Batin Unara.

Unara membalikan badannya menghadap seseorang yang tadi memanggilnya. Seketika mulut Unara menganga melihat siapa yang memanggilnya, seperti diberi kejutan Unara sampai shock dibuatnya. Raga. Raga lah yang memanggilnya tadi.

Unara langsung berhambur kepelukan Raga. Betapa ia merindukan Raga, sahabat yang dulu pernah dimilikinya.

"Masih inget ternyata lo sama gue." ucap Raga disela pelukannya dengan Unara.

"Bagi lapor gak dateng, dan tau-tau waktu semester dua udah ngilang gitu aja tanpa jejak. Bagus bener ya." sindir Raga.

"Hiks, hiks" Unara malah terisak didada bidang Raga. Bukan. Bukan karena ucapan Raga, melainkan karena rasa bersalahnya terhadap Raga karena telah meninggalkan Raga dan yang lainnya begitu saja. Kalau bukan karena Weldi, mungkin Unara-pun masih tetap tinggal di Bandung. Ah, sudah lupakan.

"Kok nangis sih, ra?" tanya Raga terlihat khawatir, takut kata-katanya tadi menyakiti hati Unara.

Unara melepaskan pelukannya kemudian menatap Raga sendu bercampur rasa bersalah.

"Maafin gue, hiks. Gue sebenarnya gak tega ninggalin kalian, hiks. Tapi waktu yang maksa gue, Ga."

"Iya, gak pa-pa, kok. Gue tau semuanya" Unara mengernyitkan dahi menatap Raga penuh tanya. Baru ia ingin membuka mulut, Raga sudah terlebih dulu menarik tangannya masuk kedalam sekolah. "Ayok masuk. Nanti telat kalo ngelamun mulu." Raga tersenyum tipis pada Unara.

"Mau sampai kapan jadi orang munafik? Mau sampe kapan nyembunyiin jati diri? Lo lakuin ini semua dengan tujuan apa, Ra? Mau lo mengubah sifat lo sampe 990° pun semua gak bakalan sama kayak dulu, semua yang udah terjadi ya bakal gak bisa diubah lagi. Emang dengan cara lo kayak gini semua bakal terulang ya? Bakal balik lagi, gitu? Gak kan, Ra?" ujar Raga membuat Unara mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Unara tahu apa yang dimaksud oleh Raglo

"Maksud?" tanya Unara pura-pura tak mengerti, berharap dapat mengalihkan pembicaraan.

"Ra, jangan dikira gue gak tau. Gue tau semuanya, Ra. Bahkan kepindahan lo ke Jakarta sebelum lo berangkat juga gue udah tau. Gue juga udah tau semua kelakuan lo selama lo udah pindah dari Bandung. Kemana Ara yang selalu ceria? Kemana Ara yang selalu seenaknya? Kemana Ara yang lebay, alay? Kemana Ara yang gak pernah mau naik motor? Kemana Ara yang manja? Kemana Ara yang dikit-dikit bete? Dikit-dikit ngambek? Kemana Ara yang jahilnya super, sampe guru pas SMP yang rada sengklek aja kena ide jahilnya? Kemana Ara yang kalo lagi galau maunya dipeluk sama gue? Hehe" ujar Raga panjang lebar dengan sedikit candaan di akhir kalimat. Tapi yang dikatakan Raga memang sepenuhnya benar. Ini bukanlah Unara yang dikenal banyak orang dulu. Semuanya sekarang telah berbeda.

"Ra, raga lo memang disini. Tapi, jiwa lo gak lagi nemenin lo." ucap Raga menohok hati Unara. "Udah sampe nih. Masuk gih. Gue duluan ya." Raga berlalu pergi dan sosoknya perlahan menghilang.

Unara masih bergeming ditempat, masih mencerna kata-kata yang tadi dilontarkan oleh Raga. Bel pertanda masuk membuyarkan pikirannya. Dengan malas Unara menginjakkan kakinya kedalam kelas masih dengan sikap dingin dan sedikit angkuh bagi orang lain. Padahal menurut Unara ia hanya bersikap tak peduli, dan masa bodo pada sekitar. Tetapi tetap saja orang-orang menganggap ia angkuh. Unara berjalan kearah kursinya dan terlihatlah Dave sedang duduk diam sambil memakai earphonenya. Dave yang menyadari kehadiran Unara langsung berdiri membiarkan Unara masuk ketempatnya dan duduk dikursinya.

Unara masih memikirkan kata-kata Raga tadi. Ya. Kata-kata Raga ada benarnya. Ah, tidak. Bahkan sepenuhnya benar.

"Selamat pagi anak-anak." ucap seorang guru membuyarkan semua pikirannya Unara, lagi.

"Pena, dong." Dave hanya mendelik datar ke Unara, pikirnya Unara tidak niat sekolah apa sampe pena aja gak bawa. Tetapi berbanding terbalik dengan otaknya, Dave mengambil sebuah pena dan meminjamkannya pada Unara.

Setelah mendapat pinjaman pena Unara segera menghadap papan tulis, berpura-pura mendengarkan apa yang sedang dijelaskan. Jangan salah. Entah kekuatan apa yang Unara dapatkan, ia selalu memiliki nilai tertinggi di sekolah-sekolahnya terdahulu. Guru-guru dan semua muridpun heran karena semuapun tau bagaimana kelakuan Unara.

"Ah, mending gue tidur." gumam Unara sambil bersiap-siap mengambil posisi tidur.

°•°•°•°•°

Oke gue tau ini pendek bgt. Tetep RVC ya!

Thankyou!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 01, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

This Is My Love LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang