8. Secret?

34 8 0
                                    

Dave dan Unara berhenti di sebuah Apartemen yang sangat besar dan mewah.


"Mmm, jadi Dave tinggal di apart" gumam Unara.

Dave dan Unara memarkirkan kendaraannya masing-masing. Setelah itu langsung menuju ke apart Dave.


Unara hanya mengekori Dave dari belakang. Dengan sekali-kali ia melihat desain dari apartemen tempat Dave tinggal. Tanpa sadari Unara menabrak sebuah punggung. Ya. Iya menabrak punggung Dave. Unara sampai tak sadar kalau mereka sekarang sudah sampai didepan pintu kamar Dave.


"Kalo berhenti bilang-bilang dong, sshhh" desis Unara sambil memegangi keningnya yang bertabrakan dengan Dave tadi.


Dave hanya diam tak menanggapi perkataan Unara padahal ia mendengar perkataannya tadi.


Saat Dave sudah membuka pintu apartemennya, ia masuk kedalam diikuti Unara di belakangnya.


"Laptop?" ucap Unara datar. Dave mengernyit tak mengerti. "Iya. Laptop nya mana? Lo kira mau nulis pake tangan, gitu?"


Dave hanya mangut-mangut lalu mengambil laptopnya dikamar.


"Perlu gue akui, deh. Apart nya mewah, desainnya berkelas, interior juga mewah, tapi terkesan simple. Pinter juga nih cowok milih apart. Dan perlu gue akuin juga, sih. Apart nya bersih banget, barang-barang nya juga tertata rapih dengan sempurna, jarang-jarang cowok tempat tinggalnya kayak gini" Unara membatin kagum melihat Apart Dave.


Tiba-tiba Dave keluar dengan sebuah laptop ditangannya. Buru-buru Unara menetralkan raut mukanya menjadi datar, lagi. Unara cuma gak mau Dave besar kepala dengan ekspresi kagumnya tadi.


"Gue tau lo kagum, cuma gengsi aja mau bilang. Lagian, gue juga bukan orang yang cepet besar kepala."


Bukan. Bukan Unara yang membaca pikiran Dave. Tetapi pikiran Dave sendiri yang berkata. For your information aja deh, ya. Unara gak akan bisa baca pikiran orang kalo dia gak liat mata orang itu ataupun gak nyentuh orang itu. Jadi ya Unara gak tau apa yang tadi Dave ucapin dalam hati.


Setelah memberikan laptop kepada Unara, Dave segera menuju dapur untuk menyiapkan minuman buat Unara. Unara yang sedari sibuk mengetik ulang semua makalah dan berkas --guru yang tadi ia jatuhkan-- sekarang berhenti mengerjakannya, dan menatap Dave tajam mengatakan kenapa-lo-diem-aja-hah-dari-tadi-cuma-gue-yang-ngerjain.


Dave dengan malas bertukar tempat dengan Unara dan bergantian mengetik --makalah dan berkas-berkas-- itu. Cepet juga nih cewek ngetiknya. Batin Dave.


Dave melirik unara dengan ujung matanya. Terlihat gadis itu sedang meminum minumannya bahkan sampai habis tak tersisa.


"Udah jam 6." tiba-tiba Dave bersuara.


"Terus? Lo ngusir gue gitu? Kan kita aja baru ngerjain." tanya Unara tak mengerti perkataan Dave.


"Dasar tolol." Dave menggumam pelan tapi masih dapat didengar oleh Unara. "Maksud gue, lo kabarin dulu keluarga lo. Ini udah mau malem, nanti keluarga lo khawatir." lanjut Dave masih dengan nada datar.


Khawatir? Haha. Iya khawatir. Sejak kapan keluarga gue ada yang khawatir? Mau gue gak pulang seminggu juga mereka mah bodo amat. Unara tersenyum miris.


"Bukan urusan lo." terdengar Dave menghela napas karena jawaban Unara.


Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Dan sudah 1 makalah terselesaikan. Tiba-tiba Dave tersadar kalau Unara belum pulang dari Apart Dave. Diliriknya Unara sedang tertidur di sofa belakang Dave. Unara tadi sudah mengerjakan setengah dari makalah ini dan dia pasti kelelahan.

Dave ingin membangunkan, tetapi tidak tega melihat Unara yang sepertinya sudah tertidur dengan tenang. Dave mengambil iPhone Unara yang tergeletak disamping laptop. Ah, kebetulan tidak dikunci.

Dave ingin mengirim pesan kepada orang tua Unara, untuk mengabarkan bahwa Unara baik-baik saja. Tapi Dave membatalkan niatnya itu, melihat tidak ada sekalipun telfon dari salah satu orang tua Unara yang masuk. Bahkan Sms Unara pun tidak satupun nama dari ayah ataupun ibu serta kakak. Dave seperti merasa bahwa Unara tidak berhubungan baik dengan keluarga-keluarga nya dan maka dari itu Dave membatalkan niatnya. Takut ia salah mengambil tindakan, karena Dave-pun sama sekali tidak tau latar belakang gadi ini.

Dave berpikir pantas saja saat tadi ia menyuruh Unara mengabarkan keluarga ia terlihat acuh, bahkan tidak peduli. Dan mengingat bahwa hidup Unara itu sepertinya bebas sekali dari ia tidak ada yang menyarinya sama sekali padahal sudah hampir tengah malam seperti ini, dan apa lagi saat mengingat Unara membawa motor ninja sebagai kendaraannya kemana-mana. Yang Dave tau kebanyakan motor besar seperti itu hanya digunakan untuk laki-laki bukan perempuan. Kalau dilihat sepertinya Unara juga bersifat tomboy tidak seperti layaknya perempuan lain yang centil, menel, dan banyak omong. Hhh, Dave paling sebal dengan perempuan seperti itu. Gadis ini benar-benar lain dari pada yang lain. Pikir Dave.

Dave! Back to earth! Kenapa lo jadi mikirin cewek jadi-jadian ini, sih? Dave meracau sendiri memikirkannya.

Dave yang sedikit iba terhadap Unara segera membawa masuk Unara kekamarnya, biar saja dia tidur dikamar dan Dave di sofa saja. Dave tau pasti Unara akan kedinginan jika tidur diluar. Sedangkan Dave sudah biasa, jadi tak apa ia mengalah karena gadis itu.

Tunggu. Sejak kapan gue ngalah gini? Apa lagi sama cewek yang baru gue kenal dan nyebelin nya minta ampun?! Lo bener-bener aneh Dave!

Tak memperdulikan pikirannya yang sedang meracau, Dave langsung berbaring di sofa dan memejamkan mata menunggu esok tiba. Yang siapa tau saja akan lebih baik dari yang kemarin.

°•°•°•°•°

JANGAN LUPA VOMMENT OK!

This Is My Love LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang