7. Shit!

45 8 0
                                    

Bel istirahat kedua berbunyi membuat suasana kelas yang tadinya sunyi perlahan menjadi ricuh. Ada yang langsung ke kantin, ngerumpi dipojokan bahkan sampai yang masih belajar pun ada.

Unara memilih berjalan keluar dari kelasnya. Ke kantin? Tidak. Kemana saja asal tidak berada di kelas yang menurut Unara sumpek.


"Nak" Unara menoleh kanan kiri untuk melihat siapa yang dipanggil oleh suara seorang guru "Kamu! Wanita yang sedang berdiri dekat tempat sampah."


Unara semakin bingung. Namun sedetik kemudian ia menyadari bahwa ia sendiri lah yang berada dekat tempat sampah.


"Huft." Unara mendengus. Dan membalikan badannya menghadap guru yang memanggilnya "Apaan bu?"


Guru tersebut maju beberapa langkah sambil membawa setumpukan makalah tebal.


"Tolong bawakan ini." ucap guru tersebut memberikan makalah-makalah nya yang setebal kamus sebelum Unara mengiyakan permintaan guru itu.


Nih guru seenak jidad amatsi.


"Bawa keruangan saya ya nak." perintah guru tersebut kemudian berlalu meninggalkan Unara terlebih dahulu.


"Ah, iya. Gue aja gak tau ruangannya" gerutu Unara. Taro ruang guru ajalah sebodo.


Unara berjalan menuju ruang guru melewati lapangan dengan jalannya yang kayak orang mabok. Gimana gak kayak orang mabok, buku yang sangat berat serta tumpukan nya yang tinggi membuat Unara kesulitan untuk melihat.


Bruk!


Byur.

Seketika Unara merasakan napas nya berhenti seketika ketika melihat setumpukan tersebut malah terjatuh kedalam selokan yang berada di pinggir lapangan--yang kebetulan terdapat air tergenang karena tadi pagi hujan deras.


"Mampus gue!" gumam Unara.


Unara mendongak untuk melihat siapa orang yang telah menabraknya dan membuat semuanya kacau.


"Dave!" pekik Unara saat mendapati Dave yang berada dihadapannya.


"Apa?" jawab Dave dingin tapi terkesan santai.


"Lo punya mata gak, sih?! Liat semuanya jadi basah! Jadi ancur! Ini bukan punya gue, bego!" Maki Unara dengan suara yang mulai meninggi.


Dave hanya mengangkat bahu cuek. Melihat tingkah Dave yang seperti itu Unara sangat geram. Apalagi mengingat bahwa itu semua bukan miliknya dan Unara tidak tau itu berkas penting atau tidak.


Bugh!


Unara melayangkan bogeman mentahnya tepat di pipi kiri Dave yang membuat ujung bibirnya robek dan berdarah.


"Heh! Apa-apaan kalian!" tegur salah satu guru lelaki. "Berani-beraninya kalian bertengkar di depan ruangan guru!" lanjut lelaki paruh baya itu, lagi.


"Yaampun semua berkas saya!? Makalah saya?! Kenapa jadi basah dan ancur semua seperti ini?!" pekik salah satu wanita--yang baru keluar dari ruangan guru--dengan suara yang sangat melengking.


Semua murid berlari kearah TKP dengan heboh dan berbisik-bisik ria. Namun tetap saja kedua pelaku permasalahan masih tetap bergeming.


----------


"Mau dikerjain dimana?" tanya Unara datar untuk mempercepat semua hukumannya selesai.

Dave hanya mengangkat bahunya cuek menandakan dirinya tidak tau. Tapi, justru Unara menganggapnya sebagai jawaban terserah.

Dave dan Unara sekarang sedang berjalan dikoridor untuk menuju parkiran sembari membicarakan perihal hukuman tadi. Unara tampak menimang-nimang memikirkan tempat yang cocok untuk mereka mengerjakan tugas a.k.a hukuman tersebut. Sementara Dave sedari tadi hanya berjalan disamping Unara masih dengan ekspresi nya yang dingin.


"Yaudah. Dirumah lo aja" ucap Unara asal.

Padahal ia sama sekali tidak ada pikiran untuk mengerjakan nya disana. Tapi, entah mengapa seketika bibirnya menceloskan kata-kata tersebut.

Belum sempat Dave mengeluarkan protes-annya, Unara sudah cepat duluan memotongnya "Gue gak nerima yang namanya penolakan."

Dave masih tersentak mendengar perkataan Unara tadi. Ia masih terus bergeming seraya menatap punggung gadis tersebut yang sedang berjalan kearah motor ninja berwarna hitam metallic itu. Dave bahkan sampai tidak sadar bahwa gadis yang bersamanya dari tadi sudah memakai jeans berwarna hitamnya yang Dave sendiri pun tidak tahu kapan gadis itu mengganti rok sekolahnya dengan jeans itu.

Ah, ngapain gue pikirin, sih.


"Mau sampe kapan lo berdiri disitu? Buang-buang waktu tau, gak." ujar Unara acuh tanpa menoleh kearah Dave seraya memakai helmnya ke kepala. "Cepetan ambil kendaraan lo. Ntar gue ikutin dari belakang."


Mendengar perkataan Unara, Dave langsung tersadar dan segera berjalan menuju dimana tempat mobilnya terpakir.


---------


Dave sm Unara udh mulai dkt nih wkwk. Penasaran kan apa yg nantinya buat Unara jatuh cinta sm Dave?
Stay terus mkanya!
Jgn lupa vomment yaps key?!

This Is My Love LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang