First Meeting

126 13 2
                                    

"Ah, Sial." Gerutu Sarah sambil menyibakkan selimutnya. Ia segera bergegas untuk mandi. 1 jam lagi adalah keberangkatannya ke Prancis. Dan dia tak mau ketinggalan pesawat hanya karena bangun terlambat. Konyol sekali.

Sarah mulai keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri Mbok Ajeng yang tengah mengelap meja ruang tamu. Aktivitas itu tiba-tiba terhenti karena ia tersadar akan keberadaan majikannya.

"Eh Non, mau kemana? Jalan-jalan pagi ya? Tapi, ini kan udah jam 9. Mataharinya udah muncul tuh, Non." Mbok Ajeng melihat jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan jarum pendek di angka 9, dan jarum panjang di angka 12.

"Bibi! Stop bercanda terus. Kenapa nggak bangunin saya? Saya kan hari ini akan berangkat ke Prancis sekalian ziarah ke makam mama." Kata Sarah dengan nada sedikit kesal melihat Mbok Ajeng yang tidak membangunkannya.

"Ah massa?-" Mbok Ajeng menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal.

"OH IYA NON! Hari ini kan non berangkat ke Perancis!! Kenapa nggak bilang sih dari tadi? Sebentar non, saya panggilin Bapak dulu" lanjut Mbok Ajeng saat tersadar dengan ingatannya. Membuat Sarah heran melihat tingkah pembantunya itu. Emang sih, pembantu Sarah yang satu ini suka rada-rada lemot.

"Hm.. Bi, nggak usah deh. Ini udah jam 9, saya takut telat nantinya. Papa juga pasti masih molor jam segini." Kata Sarah saat melihat Mbok Ajeng yang siap memanggil Papanya.

"Beneran, Non?"

"Iya. Nanti kalo udah sampe, saya pasti ngabarin orang dirumah." Kata Sarah lagi, supaya Mbok Ajeng mau menuruti permintaannya.

Sarah memang tidak begitu dekat dengan Papanya. Tempat menuang segala gundah dan kesedihannya adalah bersama Mamanya. Sarah merasa dengan kepergian Mama, ia seperti sedikit kehilangan setengah dari kehidupannya. Papa Sarah sendiri sangat sibuk dengan semua pekerjaannya sehingga kurang meluangkan waktu bersama anak gadisnya.

"Hati-hati ya, Non. Jaga diri baik-baik disana." Kata Mbok Ajeng yang sekarang sedang berdiri didepan pagar.

"Iya Bi. Tenang aja." perlahan mobil hitam Sarah mulai melaju pergi meninggalkan rumah. Mbok Ajeng menatap mobil itu sampai hilang dari kejauhan.

"Pak, cepetan dikit bisa nggak? Soalnya ini 15 menit lagi pesawat udah mau lepas landas. Berabe kalo ditinggalin." Sarah menggoyang-goyangkan kursi jok depan yang di duduki oleh supirnya, Pak Ahmad.

"I-iya Non, ini udah ngebut banget. Udah 100 km/jam. Bapak bukan pembalap f1 Non, yang bisa bawa mobil kenceng." Kata Pak Ahmad yang sedikit tertawa, membuat Sarah sedikit mengangkat ujung bibirnya.

Selang beberapa menit, akhirnya mobil hitam mengkilat nan indah di pandang itu sampai ke tempat tujuan, tanpa berbasa-basi, Pak Ahmad langsung mengeluarkan koper milik Sarah dari bagasi mobil.

"Makasih Pak. jaga diri dan mobil kesayangan saya ini baik-baik, Pak." kata Sarah.

"Iya. Udah pasti itu mah. Nanti kalo non pulang, Bapak pastiin mobil ini bakalan kinclong deh"

Sarah tak lagi menatap mobil fortuner itu pergi, ia langsung masuk ke bandara.

Sarah mendengar suara pemberitahuan jika keberangkatan ke Perancis harus sudah memasuki pesawat. Ia dengan sekuat tenaga lari masuk ke dalam, tanpa melihat orang-orang yang berlalu lalang di depannya.

BRUKKK!!

Suara seperti benda terjatuh itu tepat dihadapan Sarah. Oh tidak, ia menabrak seseorang. Gadis ini sangat tidak mempunyai waktu sekarang. Ia harus segara pergi agar tidak tertinggal.

"Apa-apaan lo! Kalo jalan pake mata dong!? Liat tuh i-Pad gue jadi jatoh." Kata seorang cowok yang berdiri tepat didepan hadapan Sarah dengan tatapan tajam. Lalu cowok itu hendak mengambil i-Padnya yang kemudian tak sengaja terlindas oleh troll angkutan barang.

"Ow Shit."

"Ma-maaf.. gue nggak liat jalan. gue buru-buru." Kata Sarah saat ingin meninggalkan cowok itu. Tetapi, tangannya dicengkram kuat sehingga membuatnya tak bisa pergi kemana-mana.

"Lo tau nggak betapa berharganya i-Pad gue? Disana ada file tugas skripsi gue. Lo nggak bakalan tau seberapa susahnya gue ngerjain tugas itu. Gue nggak mau tau, lo harus ganti sekarang." Cowok itu berkata sedikit keras sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian.

"Kalo gue ganti, apa file lo akan kembali? Udah kuliah, otak nggak digunain." Kata Sarah.

"Setidaknya lo harus tanggung jawab!" Cowok itu terlihat setengah marah. Tetapi, tetap saja Sarah sama sekali tak peduli.

"Salah lo juga, lo jalannya nggak liat-liat. Kalo lo liat kan bisa ngehindar dari gue. Makanya kalo punya mata itu dipake jangan ditutup." Sekarang giliran Sarah menyalahkan cowok tersebut.

"Kok lo nyalahin gue sih? Udah jelas-jelas lo yang salah. Emang dasar lo cewek nggak tau diri. Kalo gue ketemu lo lagi, gue bakal nagih i-Pad gue" Kata-kata cowok itu sama sekali tak dihiraukan Sarah. Sarah hanya melenggang pergi bersama hoodie dan headset yang dikenakannya.

***

Sarah memasuki pesawat dan berusaha duduk di kursi yang sudah disediakan. Disaat itu juga matanya menjadi bulat besar saat mendapati cowok yang baru lima belas menit tadi hampir membuatnya emosi, dan sekarang harus duduk bersamanya selama beberapa jam.

"Buset. Segitu berharganya ya i-Pad lo, sampe duduk aja lo harus tepat disamping gue. Niat banget lo." Kata Sarah lalu duduk dan mulai mengalunkan lagu dari i-Podnya.

"Lo kenapa harus disini sih? Nggak ada kerjaan banget. Lagian ngapain lo ke Prancis segala? palingan cuma ngeksis-ngeksis doang supaya kekinian. Dasar cewek alay." Kata cowok itu. Tetapi Sarah tidak bergeming, ia hanya terfokus dengan lagu yang didengarkannya. Sekilas, gadis bermata kecoklatan ini dapat melihat gelang yang dipakai cowok itu, disitu tertulis "Sammy & Riska". Oh ternyata namanya Riska. Eh? Bukan, itu nama seorang perempuan. Pasti nama cowok ini adalah yang tertera sebelum nama Riska. Sammy.

Perjalanan ke Prancis masih 1 jam lagi. Sammy tak tau apa yang harus dilakukannya. Cowok ini hanya melihat di jendela luar pesawat dan berusaha untuk tidur, tetapi ia selalu saja gagal. Lagu dari headset Sarah membuatnya terganggu, ia banyak mendengar suara-suara teriakan orang dari headsetnya. Mungkin Sarah sedang mendengar soundtrack film Rerouni Kenshin atau mungkin Plants vs Zombie. Tiba-tiba saja Sarah menangkap mata Sammy saat tengah melihatnya, sebenarnya Sammy tidak ada maksud apa-apa, ia hanya mencoba menebak lagu yang didengar Sarah melalui wajahnya.

"Apa lo liat-liat gue? Gue tau masih banyak belek-belek dan temen-temennya nyangkut dimata gue. Tapi nggak usah diliatin sampe segitunya." Kata Sarah membuat Sammy langsung berpaling lagi ke jendela pesawat.

"Idih, nggak ada kerjaan banget. Lagian lo denger musik apa sih? Kedengerannya kayak orang dikejar-kejar, pake teriak-teriak gitu. Lo psikopat ya?"

"Emang penting ya?" katanya singkat. Membuat Sammy mendengus kesal melihat gadis itu.

Selain nggak tau diri sama alay, ternyata dia juga psikopat. Yap! Psikopat. Gumam Sammy dalam hati. Sarah perlahan megeluarkan buku dari dalam tasnya, buku itu terlihat seperti buku diary yang tertulis Sarah's dan tersambung lagi "DON'T OPEN THIS BOOK EXCEPT ME" . Hari gini masih aja pake buku diary. Cupu banget ew. Sammy kembali membatin.

A.N:

Maafkan jika ceritanya belum sempurna, wajar saya masih penulis amatiran. ngehehehe, oke jangan lupa vote dan commentnya gais :)) levya.

Love Is More PainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang