PG-15 | Mariage Life, Fluff | Lu Han – Kim Hyori, Lu Zhia | Ficlet
People fall in love in mysterious ways
Recommended Song: Ed Sheeran - Thinking Out Loud
Luhan menggenggam tangan itu, menyelipkan jemarinya di antara jemari yang lentik itu. Menggenggamnya erat sekali. Seakan dalam genggamannya itu terselip sebuah harapan, aku tak ingin kehilanganmu. Seperti itu. Luhan menatap wanita itu dengan matanya yang teduh, tersenyum kecil kepada wanitanya. Pria itu mengecup lembut telapak tangan itu.
"Lu ... kau aneh!" wanita itu menarik tangannya. Geli. Tak mempedulikan sikap Luhan yang berusaha bersikap manis terhadapnya.
Luhan menatap mata wanita itu dalam. "Kau tahu ini sudah lama ... lama sekali, Boo." Panggilan masih terasa sama, masih menggetarkan, dan terdengar manis. "Aku ingat, aku menemukanmu di lapangan basket, lalu kita menikah, dan memiliki Zhia. Kurasa baru kemarin aku melihat Zhia bisa berjalan, dan bicara lancar; Zhia masuk taman kanak-kanak, dan rambutnya dikuncir dua. Sekarang, dia sudah jadi remaja, yang persis sepertimu."
Wanita itu menggeleng tak mengerti. "Apa maksudmu, Lu?"
"... aku masih merasa muda." Luhan hanya menjawab apa yang ada di kepalanya, sama sekali tak menjawab pertanyaan wanita itu. "Bukankah dulu kau masih Kim Hyori yang aktif? Lihat, sekarang kau sudah memiliki anak gadis." Luhan terkekeh pelan.
Wanita itu menggelng sekali lagi. Masih belum mengerti sama sekali. Dia hanya mengingat rasa sakit di kakinya. Mungkin sekarang dia sudah tua, mulai mengenal rematik, dan kakinya benar-benar sakit. Tapi Luhan ada bersamanya, menghibur rasa sakit itu sehingga tak terasa sama sekali. "... dan aku juga, merasa muda." Hyori merengkuh Luhan, memeluk pria itu dengan lembut. Rasanya masih sama ... seperti waktu itu mereka berpacaran.
-o-
Dulu, mungkin hanya pegangan tangan yang tak sengaja. Ketika Luhan datang dan ikut bermain basket bersama Hyori dan remaja-remaja tanggung itu. Bermain bersama hingga hari larut, hingga manager grup memarahi Luhan habis-habisan. Luhan berniat merebut bola, namun yang terjadi, Luhan merebut hati Hyori.
Hanya dari sebuah sentuhan tangan yang tak disengaja. Bola itu menggelinding menjauh. Sementara tangan mereka bertautan seperti dalam drama. Remaja-remaja tanggung meninggalkan lapangan dan membiarkan dua insan itu. Melaporkan pada teman perempuannya bahwa mereka baru saja bermain dengan anggota dari grup yang baru naik daun; dan teman perempuan mereka menyoraki mereka–tentu saja dianggap bohong.
"Maaf, aku ... aku tak bisa main lagi. Manager Hyung ada di sana, dan dia siap memarahiku. Belum dari leader ... maaf."
"Ah? Apa? ... oh ... ya, baiklah."
-o-
Berdua di bawah tempaan cahaya temaran bintang-gemintang. Luhan menggenggam tangan Hyori. Siapa yang menyangka dari sebulat bola basket, menjadi cerita yang begitu panjangnya. "Aku penasaran ... apa yang membuat aku sebegini cintanya padamu?"
Untuk pertama kalinya, Hyori memberanikan diri. Jarak mereka hanya beberapa senti, dan dia mengecup lembut bibir Luhan untuk sementara waktu. "Aku tidak tahu, Sayang." Gadis itu menyandarkan kepalanya pada dada Luhan, menyamankan dirinya sendiri. "Aku juga tak mengerti mengapa harus kau ...?"
"Mungkin lapangan itu ...,"
"... ya, lapangan itu seperti menara Rapunzel, kastil Beast, atau istana Sleeping Beauty, mungkin juga dapur sederhana Cinderella." Hyori menyahut, dan dia masih menyamankan dirinya dalam pelukan Luhan.
Sebuah pelukan, sebuah kecupan, dan malam itu adalah malam yang manis.
-o-
"Lu! Kau punya uban!"
"Yang benar?"
Luhan panik malam itu, dia langsung berlari mencari cermin. Padahal itu jam makan malam, dan tentu saja Luhan tak menemukan satu pun cermin di ruang makan. Akhirnya, Luhan menggunakan pisau untuk bercermin. Cukup seram sih. "Ya ampun, Boo ini banyak sekali!"
Zhia menelan makanannya dengan paksa, dan gadis itu harap makanannya akan tercerna dengan baik. "Pa, umurmu itu sudah tua. Kau ingat kau hampir atau bahkan sudah 50 tahun ya?" Zhia bahkan tak ingat umur Luhan. "Aku Lu Zhia, sudah remaja. Umurku 15 tahun!"
Luhan menepuk dahinya. Dia sadar dia sudah tua, dan waktu cepat sekali berlalu. Dengan keluarga kecil ini. "Boo kau juga memiliki beberapa," ujarnya. "Papa tak peduli umurmu 15 tahun, atau berapa pun. Bagiku, Lu Zhia tetaplah bayi."
"Aku bukan bayi, Pa!"
"Kau mungkin sudah tua, Lu. Tidak ada yang ingat lagi, mungkin, tentangmu. Kecuali beberapa orang. Apa ada yang ingat kau penyanyi That Good Good? Kau anggota gruo Korea-China? Kau ke luar dari grup tanggal 10 Oktober 2014? Kurasa hanya sedikit," Hyori mengatakanseraya membereskan piring-piring. "Tapi aku tahu, kau tak berubah bukan? Cintamu?"
"Kau juga tidak berubah. Bagiku, Boo, kau selalu seperti saat kita pertama bertemu. Kapan itu? Oh aku lupa. Tapi aku ingat, lapangan basket."
"Ah ya, lapangan basket. Apartemenku dulu ...," Hyori terkikik pelan.
Sementara Zhia hanya bisa mengangkat sebelah alisnya. Tidak paham dengan ucapan kedua orangtuanya.
Luhan melingkarkan lengannya di pinggang Hyori, dan Hyori menerima itu. "Aku masih tidak mengerti, Boo. Kenapa?" dia mengecup pipi Hyori.
"Aku juga," dan sebuah kecupan di bibir Luhan dari Hyori.
Zhia menutup wajahnya. "PAPA! MAMA! ADA ANAK DI BAWAH UMUR 18 DI SINI!!!!"
Fin.
Maaf, aku tak terlalu bagus jika mengolah sebuah lagu menjadi sebuah fiksi. Tapi, aku sudah berusaha sebaik mungkin. Dimohon kritik dan saranny

KAMU SEDANG MEMBACA
EXO Random Fictions
Fanfiction[OPEN REQUEST--inbox!] Imagines, drabbles, ficlets, vignettes, and oneshots about my and your biases. Kim Minseok [KMS] - Lu Han [LH] - Wu Yi Fan [WYF] - Kim Joonmyeon [KJM] - Zhang Yi Xing [ZYX] - Byun Baekhyun [BBH] - Kim Jongdae [KJD] - P...