Bagan II

38 3 1
                                        

Aku melihatnya pagi ini. Di bawah pancaran matahari kuning-orange. Begitu jelas dari tangga tempatku sembunyi. Ia duduk dengan santai menghadap petak-petak bunga warna-warni di bangku istana panjang.

Ia begitu sempurna. Mengenakan baju seperti pangeran dengan kerah menjulang melindungi lehernya. Balutan celana kain warna merah maroon tampak serasi dengan baju garis-garis putih yang menggembung di pundaknya dengan warna merah dan putih, senada dengan topi warna merah bersemburat bulu putih ala kaisar miliknya. Begitu mengagumkan dengan sepatu cokelat tua dengan bagian ujungnya yang meruncing ke atas. Pangeran dari mana ia? Begitu eksotik dengan pedang di belakang punggungnya. Pasti ia sangat mahir dalam memainkan pedangnya. Ia begitu, tampan.

Pandangan itu tertuju padaku yang tampak kikuk dan bodoh. Membuatku merasa bahwa aku ini wanita jalang yang sedang mengamati korbannya untuk dijadikan santapan hangat dikedinginan malam dari balik tembok. Dari pandangan itu aku bisa melihat dengan jelas garis di wajahnya. Mata dengan sorot tajam warna hijau cerah. Hidungnya meruncing serasi dengan bibir pink tipis miliknya. Kulitnya sangatlah putih. Berbeda denganku yang memiliki kulit kecoklatan.

Ia berdiri masih dengan posisinya. Sehingga aku bisa melihat tubuh tegap itu dengan seksama. Ia memiliki dada bidang dengan rahang keras dan memiliki tinggi sekitar 187 senti. Seketika senyum itu mengembang begitu saja. Ia dengan manis mengulum bibirnya hingga sempurna membentuk pelangi terbalik. Aku merasa ada getaran lebih di dalam tubuhku. Dengan senyum kikuk aku membalas senyuman terindah itu. Kau menawan, pemikat hati.

Ia melambaikan tangan. Mengisyaratkan diriku untuk menemuinya. Ini gila. Tanganku sudah basah oleh keringat dingin. Ini bukan penampilan terbaikku. Aku hanya memakai dress panjang warna kuning gading dengan motif rajutan pink salem di bagian kerah, pinggang, dan bagian bawahnya. Aku membiarkan rambut hitam legamku jatuh begitu saja dengan hiasan mahkota zamrud dan taburan berlian milikku. Aku hanya memakai sepatu heels tinggi warna putih yang melilit apik di kaki gendutku. Aku tak merasa tampak spesial hanya karena penampilanku terlalu klasik.

Tapi ada dorongan kuat di balik punggungku. Memaksaku untuk menghampirinya. Berkenalan dengannya, kemudian melumat bibir tipis miliknya. Ini bodoh. Hal gila macam apa yang merasuk dalam pikiranku. Aku masih berusia 16 tahun. Sudah cukup dewasa tapi masih terlalu dini untuk melakukan adegan itu.

Senyumku merekah kembali begitu saja di bibir pink tuaku. Tak dapat ku kendalikan. Mungkin aku terlalu berlebihan memberi soda kue di dalam bibirku sendiri. Membuatnya mengembang dan terus mengembang. Kakiku terayun dengan gemulai begitu saja. Sehingga aku hanya dapat mendengar degupan jantungku sendiri. Begitu cepat dan membara.
Nafasku tersenggal ketika aku berhadapan dengannya, seorang pria elok rupawan.

Sekarang aku bisa melihat dengan jelas garis keras di wajahnya."Aku hanya kagum,", batinku.

"Aderian, Pangeran dari Kerajaan Abrorria,"

Katanya lembut. Jangan-jangan ini lelaki yang akan dijodohkan denganku. Oh mungkinkah itu? Akankah itu? Aku sudah sering dijodohkan oleh ayahku. Mulai dari Kerajaan Artern di pelosok sana hingga Kerajaan Remmbo di tengah kota, dan tak satupun yang mampu membuatku jatuh seperti ini. Begitu jatuh. Jatuh ke dalam perasaan yang aku tak mengerti apa. Ah, tidak mungkin. Aku tak mungkin menikah saat usiaku baru memginjak 16 tahun. Semuanya tampak berlebihan. Menggelitik tubuhku.

"Diana, Puteri dari Kerajaan Atakascha,"

Jawabku antusias setelah aku diam terpaku dan berpikir. Berpikir begitu keras. Berpikir jika memang ia adalah pria yang dipilihkan oleh ayahku utuk menjadi jodohku atau lebih tepatnya suamiku. Maka aku tak akan segan-segan menghamburkan pelukan dan ciumanku untuk Ayah, dan aku akan berkata, "Aku menyayangimu, Ayah!", dihadapan rakyat, pengawal, bahkan jodohku sendiri.

Happily (N)Ever AfterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang