Setitik Harapan

38 3 3
                                        


Di tengah kelam nya langit malam yang ber salju, seorang pemuda tengah berdiri diam memandangi kuburan seseorang, dari dalam saku celana nya terdengar suara Henfon genggam yang sedari tadi terus berdering, memanggil pria tersebut, kaget dengan getaran di saku celana nya dia pun meraih Hp tersebut mengecek siapa gerangan yang hendak menghubungi nya.

"Anak ini sampai kapan akan terus mengganggu ku" Gumam nya dalam hati sambil tersenyum tipis melihat Nama yang tercantum di layar Hp tersebut.
Sambil menarik nafas panjang dia pun melempar Hp tersebut jauh ke langit hitam nan kelam hingga tak terpandang mata.

"Mikha! maaf kan aku" sambil tersenyum tipis dia pun pergi meninggalkan tempat makam sang gadis dan berjalan menuju kuil tua yang tak jauh dari makam sang gadis, pria itu berjalan menaiki tangga dan berhenti di depan kuil tersebut, sambil tersenyum tipis dia pun mengambil belatih kecil yang sudah di simpan nya sejak berada di tempat ramen.

Sambil menarik nafas panjang, pemuda itu lalu duduk bersimpul dengan kakinya di tekuk menopang berat badan nya, dalam dingin nya malam pria itu tertunduk diam sambil membuka pakaiannya dan menggenggam erat belatih yang sedari tadi di genggam nya. Perlahan lahan belatih tersebut di pisahkan dari sarung nya, ujung mata belatih di dekat kan nya ke perut hingga menimbulkan goresan kecil.

Sambil menahan rasa sakit, dia pun terbayang akan sosok sang gadis yang di cintai nya. "Mikha, apa ada kehidupan setelah kematian ?" Gumam nya sambil tersenyum tipis"kalau ada apakah aku bisa bertemu dengan mu ?" Sambil tersenyum tipis mata nya di pejamkan dan menekan erat belatih tersebut menuju perutnya yang sedari telah berdarah mencoba melakukan ritual seppuku.

«»«»«»«»«»«»«»>

Di tengah dingin nya malam seorang pemuda berlari sekuat tenaga sambil mata nya melirik lirik ke segala arah.

"Sial..sial...sial Apa yang di lakukan monster itu sekarang ?" Gumam dalam benak hatinya, jalanan yang di penuhi salju membuat Iki tak dapat mempertahankan pijakan kaki nya hingga membuat dia terpelanting jatuh tersungkur ke jalanan, "Sial...sial..sial" teriak nya sambil bangkit dari tempat dia terbaring, Seakan tak memperdulikan kakinya yang terkilir pemuda tersebut terus berlari ke depan menuju ujung jalan Nan gelap.

Selang waktu berlalu kakinya terhenti di depan gerbang pemakaman yang hendak di tujui nya, Dengan sigap pemuda itu lalu memandangi ke segala penjuru arah mencoba mencari tahu di mana keberadaan teman nya, "Sial dimana sekarang anak itu" Spontan matanya terhenti di tangga kuil, terlihat sebuah jejak kaki menjulang ke atas terukir di atas tumpukan salju yang ada pada anak tangga.

Melihat hal itu, Iki bergegas menaiki anak tangga hingga sampai puncak, di hadapannya, Yuu tengah terduduk diam membelakangi nya, "Hooi! anak sialan" Teriak Iki sambil melambaikan tangannya. Melihat Yuu yang tak merespon panggilan nya dia pun berjalan ke arah kawannya, melihat Yuu yang tengah menancap kan belatih ke perut nya spontan Iki kemudian menendang belatih tersebut hingga terlepas dari tangan sahabat nya.

"Bodoh apa yang kau lakukan" Bentak Iki pada pemuda yang hendak mengakhiri hidupnya, dengan emosi Iki pun menarik rambut Yuu hingga wajah mereka bertatapan satu sama lain. "Sial.....'kenapa kau harus datang di saat yang tidak tepat" Ucap Yuu sambil menatap mata Iki dengan senyum tipis.

Melihat senyum Yuu yang pasrah akan ke matian nya, dia pun melepas genggaman tangan nya pada rambut Yuu dan meninju wajah pemuda tersebut hingga tersungkur ke lantai.
Melihat Yuu yang seakan tak menghiraukan nya, Iki pun berjalan mendekati Yuu dan menduduki tubuh Yuu yang sedang terbaring di lantai, sambil menindih badan Yuu pemuda itu lalu mendaratkan tinjunya ke wajah Yuu mencoba menyadarkan teman nya.

Setelah puas melepaskan amarah nya, Iki pun menatap Yuu yang tengah tersenyum tipis ke arah nya, "tolonglah berhenti membuat semua orang khawatir" Ucap Iki sambil air matanya berlinang jatuh ke wajah Yuu. Melihat ekspresi kawannya Yuu pun hanya dapat tersenyum hangat dengan wajah yang lebam tak karuan.

Love Transcends TimeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang