Bunga yang cerah

75 6 0
                                    

Tubuhku terjatuh membentur tembok tangga menuju atap sekolah, aku merasakan sakit di bagian leher belakang.

Aku terus memegang leher di bagian belakang, aku berharap sakit ini berhenti untuk sementara. Aku mencoba untuk membuka mata tapi entah mengapa rasanya sulit sekali.

"Berdiri lah, tetap tutup matamu" terdengar pintanya

Aku menuruti permintaannya, aku mulai berdiri dengan punggung bersandar di tembok. Setiap perkataannya tadi aku berfikir, nada suara itu sangat tidak asing di telinga ku.

Aku merasakan sebuah pelukan yang sangat nyaman, seketika kaki ku terasa tidak menapak di lantai. Namun, terasa seperti mengapung di atas air yang tenang.

Aku membuka mata dengan perlahan-lahan, suara kebisingan sekolah berubah menjadi ketenangan, aroma yang khas sekolah berubah menjadi pemandangan air tenang yang luas.

Setiap aku melangkahkan kaki golambang air kecil berbentuk lingkaran berjalan mengikutiku, aku dapat melihat awan melewati pantulan air yang jernih ini.

Angin yang sangat sejuk mengisi di setiap rongga tubuhku, pandangan mataku tertuju kepada seseorang yang jauh berdiri membelakangiku.

Dia pun mengarahkan wajahnya kearah ku, aku terpaku terdiam ketika dia terlihat senyum dan berjalan meninggalkanku.

Tangan kananku berusaha meraih dengan di iringi langkah kaki, seketika aku tertelan ke dalam air yang tenang ini, aku berusaha berenang tapi upaya ku tidak berhasil semakin dalam aku tertelan ke dasar yang sangat gelap.

Suara bel sekolah yang menjalar di seluruh ruangan menyadarkan diriku, kepalaku terasa sangat berat sekali bahkan untuk berdiripun sangat sulit sekali.

* * * * *

"Silahkan di nikmati, datang lagi yah" memberikan es krim.

Aku mengambil kantung es krim yang aku beli di supermarket terdekat, entah apa yang terjadi pada ku, hari ini rasanya kepala ingin meledak.

"Menyakitkan sekali" ucap hatiku

Aku berjalan menapaki jalan gunung yang menanjak, panasnya sinar matahari menyengat setiap tubuhku. Udara panas yang menguap di aspal jalan menciptakan bayanganku di bawahnya dari kejauhan.

Belokan pertama sebelah kanan apartemen ku berada, aku membuka pagar hitam.

"Hari ini panas sekali yah rio" sambut petugas keamanan

"Iya panas sekali" jawabku menghalau sinar matahari dengan tangan ku.

Aku berjalan menaiki setiap anak tangga apartemen, aku masuk ke dalam dengan segera. Udara dingin dari penyejuk ruangan menyambutku.

"Aku pulang" sahut ku

Aku berjalan kearah ruang tamu, hiori sedang asik menonton acara anime kesukaannya.

Aku menaruh es krim di atas meja dapur dan langsung menuju kamar, seperti biasa hiori selalu melupakan untuk membereskan kamarku.

"Hiori !! kau lupa membereskan kamarku" teriak ku dari dalam

"Lakukan lah sendiri aku sedang sibuk" jawabnya singkat

"Kau sibuk dari tadi kau menonton televisi kan?, menyusahkan saja" ucap hatiku

Aku keluar mengambil mesin penyedot debu di kamar hiori, aku meraih gagang pintu kamarnya dan membukanya.

"Apa-apaan ini!, kamar ini jauh lebih berantakan dari kamarku"
Aku berjalan ke ruang tamu dan mendekati hiori, aku menjewer kuping kanannya dengan sangat keras.

"Bereskan kamarmu sekarang!!" Bentakku.

"Nanti sebentar lagi" nada manja

"Hi-o-ri, lakukan sekarang, atau aku telfon ibu!!" pinta ku lebih keras.

"Uhh dasar kejam"keluhnya

Hiori langsung menuju kamarnya dan membereskannya, arah mataku tertuju pada stik es krim yang ada di meja.

"Ini punya ku" kesal hatiku

"Hiorii!!!" teriak ku

* * * * *
Di pagi ini aku mendapati surat yang berwarna hitam pekat dengan bergambar tengkorak lagi, sungguh terasa aneh. Surat ini hanya di tujukan kepadaku.

Aku duduk membuka isi surat ketiga ini.
"Rio terima kasih atas pelukanmu, aku merasa nyaman. Kau jangan dekati seseorang yang bernama Reza hatori, hati-hati kau bisa terbunuh"

Aku berfikir, kapan aku memberikan sebuah pelukan, yang boleh memelukku adalah hiori.

"Kau rio kan" menghentak mejaku.

Seseorang yang di hadapanku menghentikan lamunan, aku mengarahkan pandangan mataku kepadanya.

"Iya benar" jawabku

"Temui aku di atap sekolah, pulang ini akan kita bahas surat hitam ini"

Dia pun langsung pergi meninggalkan ku, percakapan singkat kami tadi menyita sedikit perhatian di kelas.

Sepulang sekolah . . .

Aku berjalan menuju atap sendiri dengan membawa ketiga surat hitam, setiap langkahku menuju atap aku berfikir dengan keras.

"Apakah? Dia yang bernama Reza?" ucap hatiku.

Sampai akhirnya pintu atap berada di hadapanku, akupun membuka dan memasuki ruang yang terbuka.

Meskipun disini terasa panas udaranya sangat sejuk sekali, banyak pepohonan yang menghiasi kota sigura ini.

Terdengar suara pintu tertutup dari arah belakangku, aku membalikan badan dan benar saja orang itu datang.

Dia mengunci pintu, tangan sebelah kanannya memuncukan sebuah pisau lipat yang mengkilap.

"Apa yang kau lakukan??" panik diriku

"Membunuhmu, apa kau suka rio" tersenyum kearahku

Dia pun mulai mendekati diriku, aku melangkah mundur secara perlahan, senyumannya sangat membuatku takut.

Hasrat seorang pembunuh sangat terasa olehku, udara di sekitarku terasa mengikat jantungku.

"Aku. . Apakah akan mati" ucap hatiku menutup mata

"Tidak akan" suara yang bergema di kepala ku

Secara cepat ketika dia menyodorkan pisau kearah jantungku, tangan kiriku memegang pergelangan tangannya, dengan cepat tangan kananku mengambil pisau dari tangannya.

Secara refleks aku dapat menusukan pisau tepat di jantungnya tanpa mengenai tulangnya.

"Kau membunuhku"

Romance AssassinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang