Hero-Clairith54 & Aka-niira

531 52 0
                                        

.

Hero

.
An Soraru x Reader written by Aka-niira and Clairith54

Genre:

Warning/Disclaimer: Semua karakter yang ada di cerita ini bukan milik kami, Typos, OOC, etc.

.

Enjoy.

.

[Reader's POV]

Kalian tahu? Selama ini aku sering merasa tidak adil. Meskipun aku selalu mengaku kalau aku terbiasa dengan situasi ini, tapi rasa sakit itu tak kunjung mati. Kejadian terus terulang, terus, dan terus seperti ini.

Lelah? Ya, sangat.

Aku pun tidak tahu mengapa mereka selalu melakukan ini padaku.

"---Dasar tidak tahu diri!"

Plak!

Kutahan rasa sakit pada pipiku itu. Entah sudah berapa kali perempuan yang ada di depanku itu menamparku, menjambak rambutku dan menarik kerah bajuku.

Kulihat wajahnya, wajah yang sangat kukenal.

Hei ... bukankah kau dulu temanku?

Bukankah kau dulu yang selalu menyapaku?

Mengapa kau melakukan ini?

Memar sudah menjalar di beberapa bagian tubuh. Aku tak bisa melawan, tidak bisa. Ada alasan yang menyebabkan demikian---satu; karena aku takut dianggap sama dengannya jika melawan, dua; aku kalah jumlah dengannya dan teman-temannya, dan tiga---

Aku lelah.

Tak terasa, sudah berapa tahun aku mengalami hal seperti ini? Bahkan jemariku malas menghitungnya. Bekas luka kejadian yang lalu belum hilang, tapi kejadian baru sudah menghampiri.

Kembali kutatap sahabatku itu yang kini tengah menatapku dengan seringai aneh. Mulutku sudah beberapa kali melantunkan kalimat maaf, namun dirinya tetap enggan mendengar.

Ah, lihat. Sekarang ia mengguyurku dengan air dingin. Rambut (h/c)ku yang di gerai menjadi basah, seragamku 'pun terkena keadaan yang sama. Suara gelak tawa dapat kudengar dari beberapa perempuan lainnya.

Semua ini hanya karena aku melakukan kesalahan sepele? Padahal aku baru melakukannya sekali dan tanpa disengaja. Apakah meminta maaf tidak cukup? Kalau tidak, apa yang harus kulakukan? Sujud? Meraung-raung? Mungkin dengan itu mereka akan puas.

Aku terus menggigit bibir bawah, mencoba menguatkan diri dari hujaman rasa sakit.

Gang yang kecil ini sudah seperti arena mainnya saja. Mereka pintar memilih tempat yang sepi seperti ini, jarang ada orang berlalu lalang, jika aku berteriak pun entah apa yang akan mereka lakukan padaku nanti.

Tidak akan ada yang menyelamatkanku ...

"Oi."

Ah.

Mataku membuka perlahan, bingung karena mereka berhenti dan bingung atas kehadiran suara baru itu.

Terlihat seorang pemuda berhelai hitam sedang menatap dalam ke arah gadis yang tadi menyiksaku. Masker miliknya ia tarik ke bawah, detik kemudian ia mulai berucap;

"Pergilah bajingan. Kalian memalukan,"

Manik kami serempak membulat ketika mendengar ucapan pemuda tersebut, kami semua menatap tidak percaya, kaget.

Handphone ia keluarkan dari sakunya, ia lambaikan perangkat tersebut pelan, "Pergilah jika kalian tidak ingin aku memanggil polisi."

"A-Apa sih?!" gadis itu menggertak, "Ayo kita pergi saja!"

Semua orang pergi seketika, menyisakanku dengan pemuda berambut hitam itu. Aku masih membeku, terduduk di sana dengan penampilanku yang berantakan.

I-Ini ... pertama kalinya ada orang yang menyelamatkanku ...

Tak kusadari kami mulai bertatap pandang, semilir angin musim panas meniup helai-helai rambut kami bersamaan. Aku masih menatapnya tidak percaya, entahlah mungkin aku terlihat seperti orang bodoh sekarang.

Pemuda itu maju, selangkah makin dekat. Membungkuk sedikit lalu tangan kanannya ia suguhkan kepadaku, "Biar aku bantu kau berdiri."

Aku mengerjap, kesadaran mulai kembali kepadaku sepenuhnya, "O-Oh, iya ... terima kasih."

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.

Aku tersenyum simpul. Baju basah, rambut berantakan, kaki yang jelas terlihat memar dan wajahku yang kotor bukannya sudah bisa menjelaskan pertanyaannya? Ah, tapi biarkanlah, "Aku baik-baik saja."

Kupandangi pemuda itu yang mulai mengarahkan tangannya ke ujung jaket, menariknya, lalu melepasnya dari tubuh.

Mataku terbelalak. A-Apa yang akan ia lakukan---

"Pakai ini, bajumu basah."

Oh.

Jaket itu ia lempar ke arahku, aku menangkapnya dengan kaku. Dalam hati aku mulai menampar diriku sendiri karena tidak bisa berpikiran lurus.

Aku kembali menatap pemuda tadi, kini ia memakai kaus hitam dengan lengan pendek. Rasa khawatir mulai merasuki batin, bagaimana kalau nanti kulitnya yang terekspos itu terserang sinar UV?

"Tidak apa-apa." Seakan membaca pikiranmu---Ia berucap demikian.

"B-Baiklah." Aku mengenakan jaket tersebut. Kini seragamku yang basah sudah tertutup sempurna, tidak terlihat. Proteksi dari angin yang membuatmu kedinginan.

"Jaketnya dikembalikan nanti saja. Kalau begitu," Pemuda tadi menghela napas, lalu masker ia kembali tarik agar menutupi hidung dan mulutnya, "aku pergi dulu."

"Ah---Tunggu!" Kalimat itu keluar tidak disengaja dari mulutku, membuat langkahnya terhenti. Kata-kata selanjutnya seperti tersangkut di tenggorokan, namun akhirnya berhasil kuutarakan, " ... Siapa namamu?"

Matanya mengedip, kemudian senyum samar dapat dilihat di balik maskernya.

" ... Panggil aku Soraru."

----^----

-Author Note-

Akani: Ah-- NUE, RITH HELEP--
Ini ff SoraRea pertama daku--- //nangisdipojokan

Rith: EEHHH? Tapi ... apa yang bisa kubantu?

Akani: Beliin daku permen-- //gak
Btw, ciee koleb pertama kita, heu~
Makasih Ririth yang udah narik--
Sekarang daku jadi kepikiran buat masuk ke SoraMafu mulu //paan

Rith: Tapi aku lebih nerima mereka jadi saudara ...

Akani: Nuooh-- maapkeun readers kalo di sini Sorarunya OOC ;;A;; Rith ada apa? 'w')

Rith: Ku ... selalu membuat semua orang OOC ... ah sudahlah (XD)

Time skip-

Rith: Tolong bantu aku ... deadline sudah mendesakku //nangis

Akanii: Heee~ posisi kita berbalik ...? Btw, sekuel ada di lembar selanjutnya ya! xD

DraOne: MeiJun FusionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang