Part 9-Menguatkan Hati

160 10 0
                                        

Hai reader, pembaca setia. Sorry for late update. Hehe
Karena ga ada ide di korea konfliknya kaya gimana *bigbow

Check out this part...

******★******

Langit di atas tepat bersuara. Menyambut kembali kedatanganku di Korea. Bersama pangeran kecilku. Bersama sahabatku. Ntahlah, langit kali ini persis sama. Ketika aku dulu menghapus jejak dan pergi jauh dari negara ini. Gelap.

Aku kembali. Menempati ruang yang telah lama kosong sejak kepergian orangtua ku. Tepat, mansion mewah keluarga Lee. Kali ini aku memaksa untuk siwon sungmin dan hyemi tinggal bersamaku. Mengisi kekosongan dengan keramaian mereka. Karena aku tak mau terjebak di antara kekosongan yang dapat menyebabkan ku kembali berputar di titik yang sama. Kyuhyun.

Hari pertama aku duduk di ruang kerjaku dengan berkas-berkas yang menumpuk. Kalian tahu sesuatu apa yang sungguh hebat? Korea itu sempit. Dari sekian banyak berkas itu ada satu berkas yang sangat menarik perhatianku. Well, Cho Company. Harusnya aku sudah sangat jeli akan hal ini. Namun nyatanya aku lupa. Dia salah satu klienku. Dia mantan suamiku. Dia masa laluku.

Tok tok tok

Pintu ruangankku di ketuk dan muncullah sosok oppa bagiku. Siwon oppa.

"Sungguh aku berat mengatakan ini Hyeri-ah." Siwon menghela nafas berat.

"Waegeure oppa? Katakan saja."

"Kau tahu kita ada rapat jam 13.00 nanti. Nah klien kita ini adalah CEO Cho Company. Dan kau pasti tahu siapa itu. aku memberikan kau clue itu." ucapan siwon oppa sungguh membuatku sesak. Itu bukan clue lagi. Tapi sungguh sangat gamblang.

"Nde???" aku gelagapan. Ini baru sehari berada di korea dan aku sudah harus bertatap muka kembali dengan dia. Sungguh ini luar biasa menakjubkan. Sungguh gila.

"Hyeri-ah... Hyeri-ah... Hyeri-ah. Neo gwenchana?"

Aku menegang beberapa saat tadi. Larut dalam lamunanku. Kalau siwon oppa tidak menyadarkanku dari diamku, maka aku akan terus terjebak dalam lamunanku. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku harus bangkit dan menunjukkan bahwa aku kuat ada banyak orang yang menyayangiku. Ada Ri Hyun yang butuh aku. Jangan jatuh lagi Hyeri. Kuatlah.

"E..Ehh oppa. Sejak kapan kau berada sedekat ini?" aku tersentak kaget dengan pososi siwon oppa di dekatku.

"Aku memanggilmu dari tadi Hyeri-ah. Dan kau tidak menjawab. Aku kira kau seperti dulu lagi. Sungguh itu membuatku takut." Siwon oppa langsung memelukku erat sekali.

"op...opppa... aku baik-baik saja. Cuma terkejut saja. Apakah harus secepat ini aku kembali bertemu dengannya? Dari tadi aku berdebat dengan batinku, apakah aku kuat dan sanggup menghadapinya?" kataku setelah kesadaranku mulai kembali.

"Kau pasti bisa Hyeri-ah. Ingat ada Ri Hyun, ada aku, ada Sungmin dan Hyemi. Jangan kembali seperti dulu lagi jjebal. Aku sudah berjanji akan terus menjagamu pada orangtuamu. Aku takkan membiarkan hal yang sama terulang lagi."

Siwon oppa benar.

"Jja baiklah oppa. Mana file-file untuk meeting nanti. Aku akan mempelajarinya sebentar. Biar aku tidak keliatan bodoh di hadapan orang itu. biar dia tahu, aku bukan Lee Hyeri yang dulu lagi." Kataku mengepalkan tanganku semangat.

Lima belas menit lagi aku akan bertemu kembali dengannya. Dalam status bukan lagi istrinya. Melainkan rekan kerja. Aku belum pernah merasakan ketakutan seperti ini sebelumnya. Hanya satu yang bisa membuatku tenang, Ri Hyun. Aku segera menelpon pangeran kecilku...

"yeobseyoo..." sapa Ri Hyun.

"Adeul bagaimana sekolah barumu? Maap omma tak bisa menjemput hari pertamamu sekolah. Mianhae. Apa kau sudah punya teman? Apa gurumu baik? Apa kau memakan bekalmu dengan benar? Apa...."

"Omma!! Bisakah tanya satu-satu. Pertanyaanmu seperti rel kereta tidak ada habisnya."

"Ehh begitu ya, mianhae hehee. Omma merindukanmu. Padahal kan pagi ini kita sarapan dan berangkat bersama."

"Omma wae?"

"Nde??"

"Omma tidak biasanya seperti ini"

"Aaahh... omma hanya gugup saja adeul. Hari ini omma akan meeting untuk memenangkan kerja sama besar."

"Omma kan sudah sering meeting. Bahkan omma sering memenangkan tender-tendernya. Tapi tidak pernah seperti ini. Omma..."

"Wae adeul-ah?"

"Apa omma baik-baik saja?"

"Keurom omma baik-baik saja. Adeul sudah dulu yah, omma akan segera meeting. Sampai ketemu di rumah. I love you"

Love drown me into a deeply hurtCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang