"Dek, bangun, mau bolos lagi kamu?" Ujar mbak Gianti, tangan kurusnya mengguncang pundak Elvine
"Mmngg... 5 menit lagi.."
"Lima menit, lima menit, udah jam setengah tujuh! Ayo bangun"
Akhirnya dengan malas Elvine bangun, tubuhnya terasa pegal karena tidur terlalu lama.
Dengan malas ia melepas kemeja hari seninnya, dan menuju kamar mandi.
Tubuhnya basah tersiram air hangat shower, suasana sepi kamar mandi selalu membuatnya betah berdiam diri disana, seakan hanya ada dirinya, air, dan kesunyian yang fana.
Elvine sungguh suka dengan air, namun sebagian dirinya juga benci air, juga karena memorinya soal Ibu Ayahnya.
"El, jam 7 kurang 15 menit!! Cepet sarapan udah dingin"
Suara kakaknya menggema, ah, inilah yang disukainya, suara apapun akan menjadi pusat perhatian.
Setelah mengeringkan diri, ia memakai baju, jas sekolahnya selalu ia selampirkan di bahunya, baru saat sampai disekolah ia memakainya.
"Nih, mbak juga buru-buru, ada target buat proyek bulan ini, deadlinenya udah deket"
Dengan malas ia menggigit roti tawar panggang dengan nutella.
"Ya kali mbak, gorengin telur kek"
Begitu selesai urusan dengan satu roti tawar, ia langsung menunggangi sepeda yang biasa ia pakai. Walau menggunakan rok selutut, ia sungguh cuek dan masa bodoh.
Seperti biasa, ia terlambat. Dan seperti biasa, ia akan disuruh berdiri diluar kelas sampai jam berikutnya.
Kali ini berbeda, ia dengan berani masuk ke kelas walau sang pengajar sudah diruangan.
"Elvine, seperti biasa"
Ia langsung sadar. Dengan langkah santai ia keluar dari kelas, disusul ketua untuk menanyakan dan mencatat alasan keterlambatannya.
Elvine berdiri dengan kaki terbuka selebar bahu, dan kedua tangannya masuk ke saku jas. Dengan tatapan malas ia menatap ketua didepannya.
"Kenapa terlambat?"
Kemudian ia membuang muka.
"Kenapa terlambat"
Selanjutnya, Elvine memberikan pertanyaan.
"Udah dua bulan lebih gue selalu telat dan elo masih lupa alasan gue telat? Loe bego apa pikun?"
Namun ketua tetap menatapnya dalam. "Kenapa terlambat"
Elvine tetap diam, matanya melirik nametag di jas sang ketua. Aditya Erwandha
"Jadi ini nama si sialan ini" Batinnya, kemudian matanya menatap ke kiri lagi.
"Elvine, Kenapa terlambat"
Seketika itu, matanya menatap Adit tajam, "Gue kesiangan, sampai loe tanya lagi, doa aja biar umur loe panjang"
Kemudian ketua mencatat hal tersebut, "Kamu gak boleh masuk sebelum jam pertama habis"
"Pfft, gue gak bakal, ogah gue" jawab El sembari ngeloyor pergi ke arah kantin. Setelah langkahnya yang ke 8, ia menoleh ke Adit dan berkata,
"Catet apapun yang loe mau, gue bakal tetep begini", kemudian ia berjalan lagi
Dan sang ketua tersenyum geli lagi.
*******
Bhaaak :v jujur saya ketawa ketawa ndiri nulis ini :v saya bayangin ketuanya idola saya sih :v alamak bahagiannya :v
Okke, kalo males comment, vote kalean juga bermanfaat kok :v😂
See ya next part :v
KAMU SEDANG MEMBACA
Bastard
Storie d'amoreFor a god sake! It's bastard A bastard story about bastard girl with a not really bastard boy, in a bastard place. Read the story, and you'll said "Bastard"
