4 - I Found a Reason (3)

18 2 0
                                        

Aku mengintip keadaan bayi itu dari balik pohon. Belum juga ada tanda penghuni rumah akan keluar setelah aku ketuk pintu itu berulang kali.

"Sudahlah. Mungkin yang punya rumah sudah tidur. Menjelang pagi pasti mereka tahu dan akan menjaga bayi itu", yakinku pada diri sendiri dan segera pergi dari tempat persembunyianku.

Aku berjalan pulang menuju rumah. Lalu, aku baru menyadari bahwa dengan cepat sekali aku melupakan kesedihanku tadi pagi. Padahal jika diingat-ingat, aku bahkan hampir ingin mengakhiri hidupku dengan loncat ke sungai tadi.

Aku menerka - nerka pikiranku sendiri. Kenapa ya?

Entahlah.

Aku perhatikan bajuku. Ya ampun, aku baru sadar aku masih mengenakan seragam olahraga SMP-ku. Perutku juga mulai keroncongan.

Bagaimana dengan bayi itu ya?

Wah,ada apa denganku? Kenapa aku bisa menjadi sangat peduli seperti ini?

Perasaan khawatir menyelimutiku. Pikiranku penuh dengan pertanyaan mengenai bayi itu. Apa ia sudah di dalam rumah atau masih di luar? Jika masih diluar, apakah ia kedinginan atau tidak? Dan masih banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiranku, yang tanpa sadar menyebabkan tubuhku berbalik dengan sendirinya dan kembali ke rumah itu.

Setelah sampai di depan rumah itu lagi, aku kembali memperhatikan. Ternyata kardus itu masih di luar. Tapi kenapa bayi itu sangat tenang? Dia tidak menangis ataupun tertawa. Aku semakin khawatir. Akupun mendekati kardus itu. Bayi itu ternyata sedang tertidur pulas, sesekali ia menguap. Hihi, lucu sekali.

Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum. Aku bahkan lupa kapan terakhir kalinya aku tersenyum tulus seperti ini. Dua tahun, atau tiga tahun lalu mungkin, aku tak ingat. Yang jelas, di saat itu, senyum terlalu mahal bagiku karena keadaanku bahkan tidak pantas untuk aku senyumi.

Aku kembali berpikir. Apa bayi ini alasannya?

Bayi perempuan dengan wajah polos dan tawanya yang membuat aku melupakan sejenak masalahku selama ini. Yang membuatku tersenyum dan melupakan insiden ingin matiku tadi?

Dan mungkinkah bayi ini adalah hadiah Tuhan untukku? Untuk menemaniku yang selama ini sendiri?

Benarkah?

*****
Hai readers! :)

Baca terus ceritaku yaa
Dan jangan lupa kritik & sarannya di kolom comment plus votenya :)

Sekian. Terima kasih.

The Reason WhyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang