Enjoy
.
.
.
SHANIA
"Shan, cepetan" ucap seorang laki-laki yang sekarang sedang berkacak pinggang di ambang pintu kamarku.
Aku memutar bola mataku, kesal, sedari tadi kakakku sibuk menggerutu saja tanpa membantu.
Memangnya semua ini selesai hanya dengan menggerutu?! Ah yang benar saja!!
Aku dan kak shanu sedang mempersiapkan keberangkatan keluarga kami yang mendadak, katanya ada sedikit urusan yang harus diselesaikan ayahku secepatnya.
Jangan tanya kemana perginya aku dan keluargaku, karna jujur saja aku sendiri pun tidak tahu!
Jadinya tanpa pikir panjang aku dan kak shanu langsung mengambil start untuk mempersiapkan beberapa barang yang akan kita bawa dan yang pasti diperlukan.
Aku disini sebagai anak sulung dan satu satunya mahluk berjenis kelamin perempuan-karna ibuku sudah meninggal- pasti selalu repot jika ada sesuatu yang menyangkut kerapihan atau apapun itu yang biasa dilakukan perempuan.
Lihat saja, ayahku dan kak shanu tadi sampai kelimpungan tidak bisa mengemasi barang-barangnya sendiri, jadilah aku harus turun tangan, dan mereka malah asyik bermain 'siapa cepat dia dapat' karna ayahku mengambil gel rambut milik kakakku dan otomatis mereka terlibat suatu permasalahan.
Bukan, bukan! Masalah disini bukan mengarah kepada masalah baku hantam yang seperti biasa laki-laki dewasa lakukan, tapi masalah ini lebih mengarah kepada masalah anak laki-laki usia lima tahun!
"Ayah, gel rambut shanu balikin!" ucap kak shanu sambil terus berusaha mengejar ayahku.
"Siapa cepat dia dapat" sangkal ayahku sambil terus berlari
"Tapi kan itu punya shanu, ayah!!" kali ini shanu menaikkan sedikit nada suaranya.
"Tapi kan ayah yang beliin"
"Tapi kan shanu yang pergi belinya"
"Tapi kan belinya pake uang ayah" ayah masih kekeh dengan pendapat.
Astaga, aku bisa gila bila setiap hari seperti ini. Mereka ini sudah cukup umur tapi tetap saja chilsidh.
"TAPI KAN KITA UDAH TELAT" aku berteriak berusaha melerai mereka.
Mereka menoleh kepadaku seakan teringat sesuatu dengan keadaan yang tadi sangat mendesak.
Tapi saat mereka menoleh, mereka tidak sadar dengan posisi mereka yang sedang berada di 2 undakan terakhir tangga rumah, dan ayah sepertinya kurang minum aqua sehingga oleng dan
Brukkkk
"AYAH!!!"
Aku berteriak dan menutup mulutku ketika melihat ayah terjatuh dari tangga.
Tapi ternyata kak shanu juga berteriak bukan karna terkejut melainkan saat ayah jatuh tangannya refleks menarik tangan kak shanu dan membuat mereka jatuh bersamaan.
Aku tidak bisa menahan tawaku melihat posisi mereka sekarang, ayahku berada dibawah dengan tangan yang menjadi penyangga kepalanya dan kak shanu yang berada diatas ayah mencengkeram baju ayah kuat-kuat.
Kak shanu terlihat mengerjapkan matanya dan menghela napas lega. "Ayah lain kali hati-hati dong, kalo shanu cidera terus nanti kaki shanu patah gimana, kan berabe, bisa ilfil cewe di sekolah shanu"
Aku melongo mendengar ucapan kak shanu, disaat seperti ini dia masih memikirkan cewe?!
"Lha? Siapa suruh ngikut-ngikut ayah jatoh?"
"Kan ayah yang narik shanu!!"
"stop! Wake up boys! Kita udah telat. Inget! Kita.udah.telat." ucapku sekali lagi melerai mereka dan menarik pergelangan tangan kak shanu supaya bangun, tapi bukannya bangun malah aku sekarang yang jatuh meniban mereka berdua.
"Iii kak shanu, sakit"
"Biarin, biar ngerasain!"
"Kids, ayah sayang kalian" ucap ayah sambil mengelus kepala kami berdua.
Aku dan kak shanu kompak memukul pelan dada ayah.
"Ayah apaan sih, jayus abis" ucap kami karna heran melihat sikap ayah
***
Setelah dua hari berada di makassar, aku akhirnya kembali ke jakarta dan beraktivitas seperti biasa lagi.
Aku, shania marselia, siswi kelas 1 sma harapan bangsa. Siswi dengan penampilan biasa saja, prestasi biasa saja, tidak bodoh tidak juga pintar, tapi aku punya satu yang luar bisa, perasaanku.
Yup, perasaanku sudah lama tumbuh dan berkembang kepada seorang laki-laki bernama fajar, 2 tahun perasaanku untuknya, 2 tahun aku menunggu-nya, 2 tahun perjuanganku menarik perhatiannya, tapi ternyata 2 tahun itu sia-sia.
"Shania!!" suara toa yang sama sekali tidak ada aksen lembut-lembutnya menarikku kembali ke dunia nyata. "Ngelamun lagi?" lanjutnya.
"Menurut lo?" tanyaku ketus.
"Yey, sensi" dia sepertinya pasrah menghadapi sikap ketusku dan kembali menyalin tugas fisikanya.
"Della!!" kini giliran aku yang mengganggu aktivitasnya.
"Hmm" jawabnya acuh.
"Kangen fajar" aku mendesah mendekati frustasi ketika mengucapkannya.
Della mendengus dan menutup bukunya. "Siapa yang kangen fajar?" tanya della
"Gue"
"Lo siapanya fajar?"
"........"
"Temennya?"
Aku menggeleng.
"Sahabatnya?"
Teman saja bukan, apalagi sahabat! Aku menggeleng lagi.
"Keluarga?"
Bukan, bukan, bukan! Aku Menggeleng lagi sebagai jawaban.
"Pacar?"
Kini aku menggeleng lamat-lamat, seakan pahit dengan kenyataan bahwa aku bukan siapa-siapa di hidup fajar. Hanya numpang lewat seperti kang ojek.
"Ga perlu jadi siapa-siapa buat kangen sama seseorang, siapapun boleh, asal tau batesan dan ga ngeganggu privasi-nya"
"Pengen lupain fajar" kini aku kembali merengek.
"Lupain apa yang pantes dilupain, perjuangin apa yang pantes di perjuangain"
Della ini sahabatku sejak smp, dia bisa menjelma menjadi mario teguh dadakan disaat-saat seperti ini, juga bisa menjelma menjadi limbad dadakan di lain waktu.
Ku peringatkan jangan pernah membuatnya marah atau kau akan mati digantung di pohon cabe. Eh? Abaikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
IF I STAY
Novela Juveniljika aku tetap bertahan denganmu apakah akan merubah segalanya? aku hanya takut waktulah yang akan merubah segalanya--shania marselia [Masih banyak typo, harap maklum]
