SHANIA
.
.
.
"DELLA"
"AAAAAA"
aku terus berteriak histeris sekaligus senang. Bagaimana tidak senang, jika kemarin fajar menanyakan namaku secara langsung, itu membuatku girang setengah mampus.
"Yaelah shan, udah napa histerisnya! lo udah kaya anak kecil yang lagi naek wahana histeria tau ga!" della terus saja komat-kamit tidak jelas semenjak aku mengajaknya bertemu ditaman komplek dekat rumahku. "Lagian miris banget sih, lo udah suka sama Fajar selama dua tahun, tapi dia baru tau nama lo tadi. Nyesek" lanjutnya sadis.
"Pokonya gue seneng. Titik! Gue seneng! AAAAAAA FAJAR..."
Diseberang sana, terlihat ibu hamil yang sedang keheranan melihat ke arah kami-mungkin lebih tepatnya ke arahku-sambil mengelus perut buncitnya dan gerakan bibirnya terlihat mengucapkan 'amit-amit'.
Della yang melihat itu meringis sambil berteriak "dia bukan teman saya, bu."
Aku menyeringai sambil berdiri dan berteriak "dia pacar saya, bu."
Dan yang terjadi adalah keheningan dikarnakan ibu hamil itu sudah lari terbirit-birit meninggalkan tempatnya tadi.
Kami saling pandang dan tertawa terbahak-bahak.
"Lo gila!"
"Lo lebih gila!"
"Kalian gila!"
Kami menoleh ke arah sumber suara ketiga itu, dan melihat beni yang sekarang ada dihadapan kami.
"Kalian gila!" beni kembali mengulangi ucapannya.
"Enak aja" della kembali menjadi sangar, sambil berkacak pinggang.
"Lah gue saksi kegilaan lo tadi!"
"Bodo amat"
"Pokonya-
"Tunggu, tunggu" aku menyela omongan della, menghentikan semua amukannya "kalian sebelumnya pernah deket apa gimana?" aku bertanya sambil menatap bergantian pada Della dan Beni.
"Yakali" ucap mereka bersamaan.
Aku menaikkan sebelah alisku, seakan meminta jawaban atas 'kekompakan' mereka.
"Ga deket ko, shan! Dia nih yang deketin gue mulu" kini Della yang mengambil alih berbicara duluan, sepertinya prinsip ladies first sangat mendarah daging untuknya.
"Lah gitu? Bukannya lo yang pertama chat gue?" Beni tersenyum puas melihat wajah Della yang merah padam menahan malu.
"Itu semua gara gara dare dari temen gue, jangan ge-er"
"Ya, terserah!"
"Ck, kalian semua bikin mood gue jadi jelek, gue pulang aja deh" ucapku pasrah sambil berjalan gontai meninggalkan mereka.
"Lo sih!"
"Lah ko gue? Kan lo temennya, dasar nenek lampir"
Samar-samar masih kudengar perdebatan mereka, karna suara mercon mereka yang terdengar sampai radius beberapa meter.
"APA LO BILANG?"
Aku tertawa mendengar teriakan Della, karna dia dengan secara gamblang menyebut Della sebagai nenek lampir, aku saja tidak berani mengatakan itu.
Thanks to beni.
***
"Kak?"
Sesampainya dirumah, aku menemukan kak shanu sedang nangkring di depan laptopnya sambil duduk di sofa ruang tamu.
"Hmm" kak shanu menjawab dengan gumaman.
"Pengen cerita."
"Yaudah cerita." kak Shanu masih mengacuhkanku dan terus saja berkutat dengan laptopnya.
Aku beringsut mendekat dan mulai memeluk lengan kak Shanu, supaya dia move on sebentar dari laptopnya.
Ternyata berhasil, karna kak Shanu segera menutup laptopnya dan menghela nafas, sambil mengusap pelan rambutku.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku capek." keluhku masih terus memeluk lengannya.
"Habis marathon sama Della? Atau habis maen petak umpet sama Della? Oh atau habis maen kucing-kucingan sama della?"
Gubrak.
Kak shanu itu ganteng, ya aku mengakui itu, dia juga tinggi tapi tidak mempunyai badan yang sixpack seperti orang lain. Tapi tetap saja dia ganteng. Namun dia ini kenapa bisa sangat lemot?!
"Bukan capek gara gara itu, ka!" aku mulai kesal dan menghilangkan rasa 'capek' itu.
"Terus? Habis nyari big sale di mall?" sekali lagi dia menanyakan hal yang aneh.
Astaga...
Sepertinya persediaan kesabaranku sebentar lagi akan habis.
"BUKAN CAPEK ITU, KA!" dan itulah yang terjadi jika kesabaranku habis.
"Whoaa, calm down, litle girl! So, what happen?"
"I'm tired." ucapku sekali lagi menjelaskan. Mungkin saja dia kali ini mengerti.
"Why?" alhamdulilah, kali ini Kak Shanu tidak membuatku naik pitam lagi.
"Fajar."
"Kenapa Fajar?"
Aku merasa heran dengan respon Kak Shanu, harusnya dia bertanya 'siapa fajar?' bukan 'kenapa fajar?'
"Kak Shanu kenal Fajar?"
"Kenal." jawabnya santai.
"Kenal dari mana? Terus kenal pas kapan?"
"Hmm... " Kak Shanu terlihat berfikir, ia mengelus-ngelus dagunya, seperti sedang memastikan sesuatu. "Dua tahun yang lalu, mungkin."
"Kenal dari mana?" tanyaku lagi.
"Dari buku harian kamu."
Dari buku harian? Berarti secara tidak langsung Kak Shanu sudah membaca buku harianku.
"APA?!"
"lha? Kenapa marah?"
Tuh kan! Dia ini beneran bego apa pura-pura bego sih. Sudah jelas kalau buku harian itu bersifat privasi tapi dia dengan jujurnya berkata seperti itu dan menanyakan kenapa aku marah?!
Minta di amplas emang mulut Kak Shanu.
Tanpa ba-bi-bu aku langsung menyerangnya dengan cara menyerangnya dengan bantal yang ada di sofa.
"Shania, udah, shan! Udah!" Kak Shanu sudah kewalahan menghalau segala seranganku.
Haha, rasakan!
"Rasakan! Itu balasan karna Kak Shanu udah baca buku harian aku."
"Hey, hey" Kak Shanu berhasil menghentikan seranganku dengan cara memegangi tanganku. "Kenapa harus curhat ke yang ga bisa kasih respon, kalo ke yang bisa kasih respon juga ada?"
Aku tercenung, secara tidak langsung aku tidak mempercayai Kakakku sendiri.
"Maaf." ucapku menyesal.
Kak Shanu menghela nafas lalu tersenyum, "Gapapa, kamu bebas mau curhat ke siapa aja atau ke apa aja, asal kamu nyaman, dan privasi kamu ke jaga. Kakak juga siap buat dengerin semua curhatan kamu, kamu harus mulai percaya sama anggota keluarga kamu"
Mungkin aku ingin meralat ucapanku 10 menit yang lalu, aku sekarang sangat terharu dengan ucapan Kak Shanu.
"Makasih, Ka."
KAMU SEDANG MEMBACA
IF I STAY
Teen Fictionjika aku tetap bertahan denganmu apakah akan merubah segalanya? aku hanya takut waktulah yang akan merubah segalanya--shania marselia [Masih banyak typo, harap maklum]
