Ruang yang benar benar membosankan dari pada ruang kelas saat belajar. Yap! Ruang guru. Sekarang aku sedang berada di ruang guru. Eits....jangan berburuk sangka dulu, aku bukan anak nakal loh, aku sedang mendapat ceramah oleh kepala sekolah.
"Karna kau mendapat beasiswa ke korea, ku harap kau bersiap siap dan tidak meninggalkan barang barang yang kau butuh kan" kata pak kepsek. "Ah iya pak". Jika boleh jujur, sebenarnya aku dari tadi tidak mendengar apa perkataan pak kepsek, ya hampir semua katanya tak ku perhatikan sejak melihat layar handphone ku. "Pak bolehkah saya langsung pulang sekarang, ayah saya sedang sakit" ucap ku kepada pak rizky selaku kepsek. "Baik lah, sampaikan salam ku kepada ayahku ". Aku pun segera bergegas pergi dari ruang guru itu. 32 missed call and 53 messages. Itu yang tertera di handphone ku.
*****************
Kali ini entah mengapa firasat ku sangat tak enak. Yang membuat ku harus datang ke rumah sakit secepat mungkin. Ku masukkan segala alat sekolah ku dengan asal kedalam tas ransel kesayangan. Panik, ya sekarang aku sangat panik.
Saat ingin keluar dari kelas, seorang lelaki berdiri tepat di depan pintu kelas bersama temannya. Dia melihatku seraya tersenyum. Aku sangat malas jika harus bertemu dengannya dalam keadaan yang penting begini. Bukannya tak suka, hanya saja terlalu membuang buang waktu. "Riell, aku ingin bicara denganmu" ucap pria yang memiliki nama andre itu. "Tidak sekarang, aku sedang buru buru" ucap ku asal dan langsung berjalan keluar. Tapi, setelah 7 langkah melewatinya, ia mulai bersuara lagi yang membuatku membalik ke hadapanya. "Riell.... apa aku bukan sahabatmu lagi, kau sudah bukan seperti Riell yang ku kenal dulu". "Bukan seperti itu ndre, hanya saja-" sebelum aku menghabiskan kata kata ku, ia memotong nya "hanya saja apa? Setiap aku ajak pergi, bicara,makan siang, selaku kau jawab dengan aku buru buru" ucapnya lagi. "BISAKAH KAU DIAM!! KAU TAK TAU APA APA TENTANG KU"
"YA SUDAH, AKHIRI SAJA PERSAHABATAN KITA" ucapnya yang tak kalah keras dari ku. Aku tak percaya kata kata itu dapat keluar dari mulutnya. Sekarang aku merutuki diriku sendiri. Ya di sini aku memang bersalah. Aku meninggalkannya dengan tatapan orang orang yang aneh
*****************
"Dokter bagaimana keadaan papah saya" tanyaku tapi sebelum dokter menjawab, aku melihat sesuatu yang aneh. "Dok, kenapa alat itu tak ada di tubuh papah lagi, apa papah udah sembuh?atau..... Dok tolong jangan bilang....". "Maafkan saya, tapi kami sudah berusaha" respon dokter itu yang membuatku kembali berlari lagi menuju tempat tidur papah. Bulir bulir bening yang sudah ku tahan sejak di sekolah tadi akhirnya terjun bebas dari kelopak mataku. Entah apa dan harus bagaimana, aku hanya menatap ayah ku dengan penyesalan. "Pah... Aku dapat beasiswa, papah bangun ya, papah pasti cuma tidur kan.... papah udah janji sama Riell, kalau gak ninggalin Riell. Papah.....hiks..... bangun. Dokter tolong bilang kalau pah cuma tidur, dokter..." sekarang hanya itu yang ada dalam pikiran ku. Kini aku sangat tak tau ingin apa. Kakiku sudah tak sanggup menopang tubuh ku lagi. Dokter itu pun langsung memeluk ku . Tepat saat itu juga andre datang dengan muka menyesal. "Riell, aku ..... Maafkan aku, aku tak tau-". "Tak apa, tapi tolong kau keluar dulu" ucap ku. Ya itu yang ku ingin kan sekarang, aku tindak ingin membuat andre merasa bersalah. Sekarang yang ada di dalam pikiran ku, aku tak punya siapa siapa lagi. Ayah yang sangat ku sayangi ini sudah pergi, pergi meninggalkan ku sekarang.
*************
Maaf kalau kurang bagus..... maklum masih belajar, oh ya jangan lupa like and comment ya
KAMU SEDANG MEMBACA
Love In Popularity
Novela JuvenilAku ingin kisah hidup ku seperti secangkir teh hangat. Manis dan hangat. Tidak seperti kopi, walau pun hangat tapi pahit. Aku tak ingin itu. -riell- Dari pada aku melihatnya menangis, lebih baik ia melihat ku sakit saja -andre- ************* Annyeon...
